Home » , , » Aku dan Rokokku

Aku dan Rokokku

Written By Hakim on 14/05/14 | 14.24



SEBAGAI anak pesantren, kegiatan yang menjadi kewajibanku selama di sana, telah menjadikanku sebagai pribadi yang disiplin. Meskipun ada kalanya rasa capek menyerang, disiplin itu sedikit goyah.
Dari bangun tidur sampai meletakkan kepala lagi di atas bantal tanpa alas kasur, hanya sebuah karpet berwarna hijau tua. Sebenarnya kegiatan pesantren sendiri lebih banyak dilakukan setelah selesai shalat magrib. Selebihnya merupakan kegiatan sekolah formal yang aku tempuh selama menjadi anak pesantren.
Kegiatan malam hari setiap harinya selesai pukul 11 malam. Setelah itu semua santri baru boleh melakukan kegiatannya sendiri-sendiri. ada yang langsung tidur, ada yang asyik ngobrol, dan tak sedikit pula yang menikmati suasana malam hari dengan belajar. Sedangkan yang aku lakukan ketika telah selesai semua kegiatan wajib di pesantren tergolong menghabiskan waktu malam untuk mengobrol.
Obrolan malam dengan beberapa teman seumuran dan juga kebanyakan satu sekolah formal, tak lengkap rasanya kalau tak ada rokok dan kopi serta camilan. Awalnya hanya sekedar pelengkap agar tenggorokan ini tak kering kerontang karena banyak air liur yang terbuang. Namun lama-kelamaan rokok dan kopi merupakan hal wajib yang harus ada setiap malamnya. Dan rokok menjadi hal mutlak yang harus ada ketika obrolan dimulai.
Sebenarnya semenjak SMP kelas 2 aku sudah mulai mengenal rokok tetapi belum menjadi penikmat rorkok. Setiap kali mau menghisap satu rorok saja aku harus mencari tempat yang paling aman sehingga tak ada satupun orang yang tahu. Dan kegiatan ini tak berlangsung lama. Karena sesuai peribahasa ‘sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga’. Dan sepandai-pandainya aku mencari tempat persembunyian untuk merokok pasti ketahuan juga.
Sempat berhenti hampir 1,5 tahun semenjak kepergok merokok, SMA kelas 2 awal kumulai lagi menghisap rokok. Dan kali ini aku bebas merokok tanpa harus mencari tempat persembunyian yang aman, toh aku sekarang di pesantren. Tinggal masuk kamar, beres.
Namun juga sempat berhenti karena kepergok ketika mengikuti program sekolah formal untuk belajar bahasa inggris secara intensif di Pare Kediri. Kala itu sebenarnya aman-aman saja andai temanku tak rewel kala itu. Dan sebenarnya yang kepergok merokok bukan aku secara langsung tapi karena temanku yang melaporkan kalau aku yang mengajak, akhirnya terciduk juga.
Berhenti beberapa bulan, kemudian acara rutin obrolan tengah malam membuatku memulai kembali kegiatan buruk yang sudah hampir kutinggalkan itu. Dan setiap hari semakin bertambah jumlah rokok yang bisa kunikmati. Beberapa batang dari pagi sampai malam. Satu bungkus dalam sehari. Dua bungkus sehari. Sampai-sampai karena obrolan malam, hampir tiga bungkus sehari. Yang lebih parah lagi dua bungkus lainnya habis dalam waktu semalam bahkan tak ada. Paling hanya sekitar 2 jam sebelum aku tidur sejenak merehatkan mata.
Sempat kala itu aku pernah menyelewengkan uang yang seharusnya kugunakan untuk membayar uang SPP sekolah. Malah kugunakan untuk membeli rokok demi kepentingan pribadi bersama teman-teman.
Dan semenjak itu kecanduan terhadap rokok telah menempel pada diriku. Telah banyak orang dan sahabat yang menyarankanku untuk mengurangi bahkan kalau bisa menghentikan rokokku. Namun berbagai bantahan selalu keluar dari mulut ini.
Pernah saat itu pesantren libur dan aku pulang ke rumah. Bertepatan dengan itu, kawan lamaku juga pulang. Sesama perokok. Setiap malam, kami menghabiskan beberapa batang sembari menikmati sepoi-sepoi angin pantai. Salah seorang teman kami menghampiri kami. Teman kami itu memang tak merokok tapi seperkumpulan dengan orang yang kebanyakan merokok. Sampai saat itu dia bertanya kepadaku.
“Pik, rokok itu enaknya apa sih?” tanya kawanku kepadaku yang sedang menyalakan rokok.
“Pin, kalau kamu tanya enaknya rokok. Pasti semua orang juga jawab kalau rokok itu tak ada enaknya sama sekali.” Jawabku sebelum kuhisap rokok.
“Terus kenapa kamu sendiri merokok?” tanya si Alpin yang masih penasaran.
“Sebenarnya aku juga benci sama rokok Pin. Makanya tiap kali ada rokok pasti kubakar.” Jawabku gurau kepada Alpin dan temanku Angga pun ikut tertawa saat itu.
Gini lho Pin, sebenarnya kami (perokok) juga benci dengan adanya rokok. Pasti kamu juga tahu sendiri, rokok itu tak ada baiknya. Yang ada hanya buruknya. Berhubung aku tak bisa membakar pabriknya karena terlalu besar, jadi ya kubakar saja rokoknya satu persatu. Dengan harapan habis. Eh, malah pabriknya produksi rokok terus. Jadinya kami yang keasyikan membakar rokok.” Sahutku kembali gurau dan si Alpin pun malah ikut tertawa terbahak-bahak.
Banyak sekali kawan, saudara, bahkan keluarga yang menyarankanku untuk berhenti merokok. Tapi tak tahu kenapa, meskipun nasehat mereka tak kuabaikan. Namun sulit sekali untuk menghentikan rokok ini.
Sampai suatu saat, aku terkena radang tenggorokan. Sebenarnya untuk ukuran orang normal radang tenggorokkan bukanlah penyakit yang serius. namun karena rokokku inilah radang ini menjadi serius kalau saja asap rokok yang kuhirup masuk ke tenggorokan ada radikal bebas yang menginfeksi radang tersebut. Dan itu berakibat kanker tenggorokan.
Semenjak saat itu, akupun berhenti merokok. Total berhenti. Hampir setengan bulan sama sekali tak ada asap rokok yang terbuang dari mulut dan hidungku. Dan saati itu adalah saat paling menakutkan dan tak mengenakkan. Karena kalian pasti tahu, sebagai seorang perokok. Sehari saja tak menghisap rokok mulut ini rasanya kecut. Tapi aku sadar, kalau aku tetap merokok kemungkinan besar kanker tenggorokan akan menjadi akhir dari hidupku. Dan setelah beberapa minggu. Akupun kembali ke dokter sekedar untuk memeriksa apakah radangnya sudah baikan. Dan Alhamdulillah, radangnya memang sudah sembuh, tapi batuk yang masih aku derita ternyata membawaku ke penyakit TBC. Meskipun bisa disembuhkan, namun ini pertama kalinya setelah sekian lama hanya melihat atau mendengar orang yang terkena penyakit TBC dan kini aku sendiri yang merasakannya.
Hampir 2 bulan aku batuk, meskipun tak mengeluarkan darah. Tapi setiap kali batuk setiap harinya semakin ngilu dan tenggorokan seperti ada sayatan pisau yang aku rasakan. Berat badanku saat itupun hanya 45 Kg untuk seorang yang mempunyai tinggi 170 Cm. Kurus, tak berdaya, dan hanya bisa tiduran. Meski aku masih bisa beraktifitas seperti sekolah, sekedar lari-lari kecil. Namun ke manapun aku selalu menggunakan masker penutup mulut dan itu sangat tak mengenakkan.
Akhir bulan pertama semenjak dokter memberi tahu kalau aku terkena TBC. Batuk ku semakin parah, sesekali sempat keluar darah. Walaupun tak banyak dan tak sering. Tapi setiap darah keluar bersamaan dengan batuk rasanya seperti sudah tak ada harapan lagi. Dan saat itulah baru aku bisa berfikir jernih. Mungkin ini adalah nasehat dari beberapa orang yang sebenarnya membawaku ke jalan yang baik. Namun malah kutanggapi dengan gurauan. Dan 2 minggu aku sama sekali tak bisa bersekolah. Bahkan untuk menjalankan kewajiban sebagai muslim pun kulakukan dengan duduk sesekali dengan tiduran karena setiap kali batuk. Rasanya sungguh lemas tak berdaya. Dan ketika aku berkaca tubuh ini seperti zombie kalau di film-film luar, hanya yang membedakan aku memakai celana pendek berkalungkan sarung.
Dengan terapi dan pengobatan medis, TBC ku tidak semakin parah. Meski batuk masih sering terdengar, tapi ini sudah mulai tak menyakitkan. Dengan beberapa kali terapi TBC pun sembuh. Tapi tidak menutup kemungkinan kalau aku kembali menikmati rokok, TBC itu akan kembali dengan yang lebih parah dari yang ini. Jelas dokter kepada keluargaku dan aku pun mendengarkan sendiri dengan kedua telinga. Semenjak saat itu, kuputuskan rantai pecandu rokok yang ada di diriku. Tak mau lagi berurusan dengan rokok, meskipun itu rokok gratisan. [] masupik           
Share this article :

1 komentar:

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger