Home » , , » Masupik sang Menteri

Masupik sang Menteri

Written By Hakim on 30/04/14 | 10.41



Kalau aku diperbolehkan berandai-andai setinggi tinggi badanku 172 Cm, aku akan berandai-andai untuk menjadi menteri pendidikan. Menggantikan sosok Bapak M. Nuh yang sekarang menjabat. Toh aku tak salah, wong ini dalam konteks berandai-andai. Atau mungkin suatu saat nama Mas Upik, memang akan menjadi menteri pendidikan kelak. Siapa tahu, mereka juga yang sekarang juga tak pernah menyangka menjadi orang yang berpengaruh di negeri ini, kan?
Sebelumnya, kita dalam konteks angan-angan belaka. Dan kalian yang membaca ini wajib masuk ke dalam angan-anganku dengan segala peraturan serta kondisi angan-angku yang seperti yang akan ku angankan ini.
Sekarang batas pemikiran adalah kalau aku adalah menteri pendidikan berarti aku bisa merubah sistem, cara pengajaran serta beberapa hal mengenai pendidikan di negeri kita. Oke, mari kita mulai.
Yang pertama dan yang terpenting adalah mengenai sistem. Ketika sistem ini belum dirubah, maka perubahan yang dilakukan dalam sistem tersebut tidaklah berguna. Itu konsepnya. Dan sistem pendidikan kita sekarang ini berdasarkan kurikulum 2013 atau pendidikan berbasis karakter adalah kurikulum yang membentuk sistem pendidikan yang mengutamakan pemahaman, skill, dan pendidikan berkarakter, siswa dituntut untuk aktif dalam berdiskusi dan presentasi. Baca berulang kali kalimat yang saya cetak tebal. Itu adalah sistem pendidikan yang sekarang. Dan karena aku adalah menterinya, maka akan kuganti demikian. Masih menggunakan nama kurikulum 2013 namun ada beberapa yang aku rubah, jadi seperti ini kurikulum yang membentuk suatu sistem pendidikan yang bisa disesuaikan dengan kondisi di mana sekolah berada tanpa menyampingkan atau menganak tirikan mereka yang bersekolah di pedalaman. Serta semua siswa bebas memilih mata pelajaran apa yang akan membawa mereka di masa depan. Jadi dalam kurikulum tersebut siswa semenjak SMP sudah menjurus ke arah mana yang mereka inginkan. Tentunya tanpa mengurangi esensi guru sebagai tenaga pendidik. Itu hal dasar yang akan aku rubah ketika menjadi menteri pendidikan.
Kedua adalah cara pengajaran. Cara pengajaran dengan kurikulum yang ada dapat kita tarik kesimpulan kalau cara pengajarannya adalah guru memberikan konsep dan dasar teori dari satu mata pelajaran, kemudian siswa aktif mencari bahan untuk menglola konsep dan dasar yang ada. Setelah itu siswa memaparkan hasil pengembangannya dengan cara diskusi dan presentasi. Namun cara ini sepertinya hanya menjadikan guru bermalas-malasan namun menginginkan sertifikasi. Dan karena akulah menteri pendidikan saat ini, maka akan aku berikan kerjaan bagi guru ketika siswa asyik berdiskusi dan presentasi. Dengan mengerjakan beberapa tes pemahaman mengenai apa yang diajarkan saat itu juga. Jadi guru sebagai tenaga pengajar juga belajar. Bukan mengajar karena sudah mendarah daging akan pelajaran yang beliau ampuh. Kalau boleh meminjam judul suatu kitab anak pesantren, namanya ta’lim muta’alim. Belajar mengajar, mengajar belajar. Yang arti secara luasnya kita sama-sama belajar. Karena sesungguhnya hakekat ilmu itu tidak ada yang lebih pandai dan tidak ada yang kurang pandai. Hanya saya tahu ilmu itu terlebih dahulu karena aku terlahir lebih awal maka saya mengajar belajar.
Malangkah ke nomor tiga. Beberapa hal mengenai pendidikan. Berbicara beberapa hal, tentunya bukan hanya satu atau dua atau tiga. Tapi lebih banyak dari yang bisa kita bayangkan dan sebutkan. Oleh karena itu, saya selaku menteri pendidikan hanya akan membatasi 2 hal mengenai pendidikan. Yang pertama adalah ujian nasional (UN), yang kedua adalah dana-dana untuk pendidikan.
UN (Ujian Nasional), sebuah tes yang dilakukan selama 3 hari, dan setiap harinya maksimal ada 2 mata pelajaran yang diujikan. Dan selama 3 hari inilah yang menentukan nasib seorang siswa lulus tidaknya. Bisa meneruskan ke jenjang mahasiswa atau kembali menyandang predikat siswa.
Memang sudah baik dengan adanya ujian kita bisa mengetahui pemahaman seorang siswa. Dan ujian itu sejatinya baik sekali. Karena mungkin setelah ujian itu kita bisa naik ke jenjang yang lebih tinggi, martabat yang lebih terhormat. Itu teori dan faktanya. Dan sekali lagi karena akulah menteri pendidikannya semua itu akan lebih baik lagi jika ujian nasional itu berdasarkan bakat, minat dan kemampuan yang dimilki dari siswa tersebut. Tadi sudah saya singgung, berdasarkan kurikulum yang sudah saya perbaiki. Bahwa semenjak SMP penjuruan sudah dilakukan. Jadi ketika mereka beranjak ke SMA/SMK atau sederajat mereka telah tahu bakat, minat dan kemampuan mereka. Jadi setelah lulus mereka benar-benar tahu, ke mana mereka akan berlabuh. Kalau yang memutuskan untuk bekerja, mereka tahu perusahaan mana yang sesuai bakat, minat dan kemampuan mereka tentunya. dan tentunya kita juga sudah berkerja sama dengan semua perusahaan bahwa sekolah telah meluluskan dan menjamin lulusannya yang memang siap dan berkompeten. Dan kalau ingin memperdalam dengan melanjutkan ke tahap kuliah, tentunya PTN siap dengan segala sarana prasarana yang akan membuat para mahasiswanya merasakan langsung apa yang menjadi bakat, minat dan kemampuannya.
Mengenai dana-dana pendidikan. Sebenarnya uang Negara yang dialokasikan untuk pendidikan saat ini sangat banyak dan seharusnya sudah bisa membuat semua sekolah di Negara ini menjadi sekolah yang tak kalah dengan sekolah internasional. Hanya saja, uang-uang tersebut sedikit macet dan tergerus ketika mengalir dari tangan ke tangan. Dan karena saya adalah menteri pendidikannya. Menanggapi hal ini, saya akan langsung mengundang 3 perwakilan dari  semua sekolah di Indonesia untuk berangkat ke kantor menteri pendidikan. 3 perwakilan tersebut terdiri dari 1 pihak sekolah, 1 guru, dan 1 siswa. Kalian pasti bertanya-tanya uang untuk transport bagaimana? Pasti menghambur-hamburkan uang? Jawabku sebagai menteri pendidikan gampang saja. “lebih baik kuhambur-hamburkan uang tersebut demi pendidikan sebagai transport daripada uang tersebut masuk kantong orang-orang yang ngaku-nya telah menyalurkan uang transport tapi nyatanya masuk dompet pribadi.”
Jadi setiap sekolah memang benar-benar telah menerima dana bantuan. Dan sebagai imbalannya tentunya harus ada Laporan Pertanggung Jawaban yang valid, benar dan sesuai fakta. Lantas apakah kerjaku hanya duduk di kursi kementrian? Tidak kawan, aku juga akan menghambur-hamburkan uang untuk mensurvey langsung proses penggunaan dana bantuan tersebut.
Jadi konektifitas kesinergisan antara menteri, sekolah, dan siswa benar-benar terlihat dan harus, wajib, kudu ada.
Dan itulah angan-angan yang telah menjadi batas pemikiran kita saat ini. Angan-anganku yang menjadi menteri, yang di atas mejaku tertulis nama Mas Upik sang Menteri. [] masupik
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger