LASEM. Sebuah kota kecil yang tebelah oleh jalan pantura. Salah satu
kecamatan di kabupaten Rembang. Kota kecil yang memiliki julukan “Tiongkok
Kecil”. Kota yang memadukan 3 kebudayaan dalam sebuah lingkup masyarakat
pesisir.
Aku akan merasa sangat durhaka kalau aku tak menyinggung kota ini.
Kota yang telah aku jelajahi 5 tahun sebagai pelajar. Kota yang menerimaku di
salah satu pesantren untuk menempuh pendidikan rohani.
Sudah banyak dan membeludak orang yang menuliskan mengenai sejarah
kota Lasem. Menuliskan budaya kota Lasem, menuliskan makanan khas kota Lasem,
batik tulis Lasem, bahkan sampai kehidupan pesantren di Lasem. Sudah banyak dan
tak terhitung jumlahnya. Dan kini tulisan mengenai Lasem harus bertambah 1
dengan tulisanku ini. Namun aku akan memberi sedikit penjelasan. Prinsipku
dalam menulis adalah; menuliskan sesuatu hal dengan satu mata terbuka. Yang
artinya konten dalam tulisanku adalah apa yang aku lihat dan pernah aku
rasakan. Jika ada segala sesuatu dalam tulisanku ini tak sesuai dengan
kenyataan atau apa yang ada sekarang. Mungkin itu penglihatan anda. Dan ini
adalah penglihatanku.
~~~
Awal menginjakkan kaki di Lasem sebenarnya bukan saat aku
mendaftarkan diriku sebagai seorang santri. Tapi jauh-jauh tahun sebelum itu
aku sudah sering ke Lasem. Untuk apa? Ya setiap kali aku harus liburan ke rumah
orang tuaku di Bogor pastinya aku datang ke Lasem untuk memesan tiket bus malam
trayek terminal bus Pulo Gadung. Dan kebiasaan itu masih sampai sekarang.
Ketika aku akan berkunjung ke Bogor pastinya aku beli tiket di Lasem. Tepatnya
di komplek swalayan belakang masjid Jami’ Lasem. Dan kalau tak salah saat itu
usiaku baru menginjak kelas 2 SD. Jadi fikirkan sendirilah pertama kali aku
menginjakkan kaki di Lasem itu tahun berapa.
Dan aku di Lasem selama 5 tahun semenjak aku menempuh pendidikan
SMA ku di SMAN 1 Lasem, tahun 2009. Karena rumahku jauh dari tempatku
bersekolah. Akhirnya aku menjadi anak pesantren. Selain rumah yang jauh juga
karena memnag budaya dari keluargaku. Setiap anak dari kakek dan nenekku selalu
menempuh pendidikan pondok pesantren. Dan kini menurun ke aku, cucunya.
Pondok pesantren di Lasem sudah ada semenjak jaman kakeknya
buyutku. Dengan jumlah pondok yang banyak padahal Lasem hanya sebuah kecamatan
kecil. Luar biasa. Tepat sekali kalau Lasem juga mendapat julukan “Kota
Santri”.
Dari PP Al Hamidiyyah, At Taslim, Al Ishlah, An Nurriyyah, An Nur,
Al Hidayat, Nailun Najah, Al Aziz, Kauman, Fakhriyyah, Al Wahdah, dan masih
banyak lagi. Kalau ingin yang lebih jelas silakan datang ke Lasem. Itu lebih
baik. Kalau aku memilih Al Hamidiyyah. Mengapa, karena pesantren inilah yang
jaraknya paling dekat dengan SMAN 1 Lasem. Dan yang lainnya lumayan jauh lah.
Meski jauh dan kami harus berjalan kaki untuk sampai ke sekolah. Tapi kami
bersama-sama. Hampir setiap pagi kecuali hari libur. Jalanan pantura Lasem akan
padat dengan anak-anak sekolah yang jalan kaki. Ibaratnya semua anak tumpah
ruah di jalanan. Dan itu bukan hanya murid SMAN 1 Lasem. Tapi sudah bercampur.
Ada MAN Lasem, MTs Lasem, SMP Muhammadiyah, MA NU, SMP NU, SMK NU, SMP 2 Lasem,
SMP 1 Lasem. Berjubel anak sekolah memadati jalanan pantura.
Itu sisi pendidikan dari kota Lasem. Mari kita sedikit menengok hal
negatif atau sisi kehidupan malam kota Lasem. Hampir di setiap gang, kalian
akan menemukan pengajian kitab-kitab salaf dari pesantren yang ada. Warung kopi
pinggir jalan yang sudah memulai menggelar lapaknya. Ibaratnya kalian tinggal
pilih warung kopi yang kalian suka. Dari yang penjualnya pria muda, tua, wanita
muda, tua, pelajar SMP, SMA, sampai yang benar-benar berprofesi sebagai
penghibur malam.
Dan kalau berbicara kopi. Akan sangat berdosa kalau kita tak
menengok kopi lelet Lasem. Kalian tahu apa itu kopi lelet? Kalau belum tahu
ijinkan saya untuk sedikit memberikan penjelasan dari apa yang bisa aku
jelaskan. Kopi lelet adalah kopi hitam yang dihaluskan sehalus mungkin,
sehingga ampas kopi seluruhnya jatuh di dasar cangkir. Dan biasanya ampas ini
digunakan untuk ngelelet rokok atau membatik rokok. Menurutku membatik
rokok itu adalah seni. Bagaimana tidak, tak semua orang membatik di rokok. Dan
membatik rokok juga memerlukan suasana hati yang mendukung. Kalau saja suasana
hati sedang tak mendukung. Jangankan motif batik tercipta, yang ada ampas kopi
yang akan kita gunakan bisa-bisa terlalu encer. Itu pengalaman.
Dan sampai di sini saja sedikit cerita mengenai kota Lasem. Kalau
ini kuteruskan bisa-bisa tak berujung kawan. Dan kalau kalian ingin tahu
bagaimana kondisi kota Lasem, kopi lelet, batik tulis, dan lontong Tuyuhan.
Silakan saja pergi ke Lasem. Atau sertakan Lasem ke daftra travelling anda.
Sekian. [] masupik
0 komentar:
Posting Komentar
Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))