SEBAGAI anak pesantren, kegiatan yang menjadi kewajibanku selama di
sana, telah menjadikanku sebagai pribadi yang disiplin. Meskipun ada kalanya
rasa capek menyerang, disiplin itu sedikit goyah.
Dari bangun tidur sampai meletakkan kepala lagi di atas bantal
tanpa alas kasur, hanya sebuah karpet berwarna hijau tua. Sebenarnya kegiatan
pesantren sendiri lebih banyak dilakukan setelah selesai shalat magrib.
Selebihnya merupakan kegiatan sekolah formal yang aku tempuh selama menjadi
anak pesantren.
Kegiatan malam hari setiap harinya selesai pukul 11 malam. Setelah
itu semua santri baru boleh melakukan kegiatannya sendiri-sendiri. ada yang
langsung tidur, ada yang asyik ngobrol, dan tak sedikit pula yang
menikmati suasana malam hari dengan belajar. Sedangkan yang aku lakukan ketika
telah selesai semua kegiatan wajib di pesantren tergolong menghabiskan waktu
malam untuk mengobrol.
Obrolan malam dengan beberapa teman seumuran dan juga kebanyakan
satu sekolah formal, tak lengkap rasanya kalau tak ada rokok dan kopi serta
camilan. Awalnya hanya sekedar pelengkap agar tenggorokan ini tak kering
kerontang karena banyak air liur yang terbuang. Namun lama-kelamaan rokok dan
kopi merupakan hal wajib yang harus ada setiap malamnya. Dan rokok menjadi hal
mutlak yang harus ada ketika obrolan dimulai.
Sebenarnya semenjak SMP kelas 2 aku sudah mulai mengenal rokok tetapi
belum menjadi penikmat rorkok. Setiap kali mau menghisap satu rorok saja aku
harus mencari tempat yang paling aman sehingga tak ada satupun orang yang tahu.
Dan kegiatan ini tak berlangsung lama. Karena sesuai peribahasa
‘sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga’. Dan
sepandai-pandainya aku mencari tempat persembunyian untuk merokok pasti
ketahuan juga.
Sempat berhenti hampir 1,5 tahun semenjak kepergok merokok, SMA
kelas 2 awal kumulai lagi menghisap rokok. Dan kali ini aku bebas merokok tanpa
harus mencari tempat persembunyian yang aman, toh aku sekarang di pesantren.
Tinggal masuk kamar, beres.
Namun juga sempat berhenti karena kepergok ketika mengikuti program
sekolah formal untuk belajar bahasa inggris secara intensif di Pare Kediri.
Kala itu sebenarnya aman-aman saja andai temanku tak rewel kala itu. Dan
sebenarnya yang kepergok merokok bukan aku secara langsung tapi karena temanku
yang melaporkan kalau aku yang mengajak, akhirnya terciduk juga.
Berhenti beberapa bulan, kemudian acara rutin obrolan tengah malam
membuatku memulai kembali kegiatan buruk yang sudah hampir kutinggalkan itu.
Dan setiap hari semakin bertambah jumlah rokok yang bisa kunikmati. Beberapa
batang dari pagi sampai malam. Satu bungkus dalam sehari. Dua bungkus sehari.
Sampai-sampai karena obrolan malam, hampir tiga bungkus sehari. Yang lebih
parah lagi dua bungkus lainnya habis dalam waktu semalam bahkan tak ada. Paling
hanya sekitar 2 jam sebelum aku tidur sejenak merehatkan mata.
Sempat kala itu aku pernah menyelewengkan uang yang seharusnya
kugunakan untuk membayar uang SPP sekolah. Malah kugunakan untuk membeli rokok
demi kepentingan pribadi bersama teman-teman.
Dan semenjak itu kecanduan terhadap rokok telah menempel pada
diriku. Telah banyak orang dan sahabat yang menyarankanku untuk mengurangi
bahkan kalau bisa menghentikan rokokku. Namun berbagai bantahan selalu keluar
dari mulut ini.
Pernah saat itu pesantren libur dan aku pulang ke rumah. Bertepatan
dengan itu, kawan lamaku juga pulang. Sesama perokok. Setiap malam, kami
menghabiskan beberapa batang sembari menikmati sepoi-sepoi angin pantai. Salah
seorang teman kami menghampiri kami. Teman kami itu memang tak merokok tapi
seperkumpulan dengan orang yang kebanyakan merokok. Sampai saat itu dia
bertanya kepadaku.
“Pik, rokok itu enaknya apa sih?” tanya kawanku kepadaku
yang sedang menyalakan rokok.
“Pin, kalau kamu tanya enaknya rokok. Pasti semua orang juga jawab
kalau rokok itu tak ada enaknya sama sekali.” Jawabku sebelum kuhisap rokok.
“Terus kenapa kamu sendiri merokok?” tanya si Alpin yang masih
penasaran.
“Sebenarnya aku juga benci sama rokok Pin. Makanya tiap kali ada
rokok pasti kubakar.” Jawabku gurau kepada Alpin dan temanku Angga pun ikut
tertawa saat itu.
“Gini lho Pin, sebenarnya kami (perokok) juga benci dengan
adanya rokok. Pasti kamu juga tahu sendiri, rokok itu tak ada baiknya. Yang ada
hanya buruknya. Berhubung aku tak bisa membakar pabriknya karena terlalu besar,
jadi ya kubakar saja rokoknya satu persatu. Dengan harapan habis. Eh, malah
pabriknya produksi rokok terus. Jadinya kami yang keasyikan membakar rokok.”
Sahutku kembali gurau dan si Alpin pun malah ikut tertawa terbahak-bahak.
Banyak sekali kawan, saudara, bahkan keluarga yang menyarankanku
untuk berhenti merokok. Tapi tak tahu kenapa, meskipun nasehat mereka tak
kuabaikan. Namun sulit sekali untuk menghentikan rokok ini.
Sampai suatu saat, aku terkena radang tenggorokan. Sebenarnya untuk
ukuran orang normal radang tenggorokkan bukanlah penyakit yang serius. namun
karena rokokku inilah radang ini menjadi serius kalau saja asap rokok yang
kuhirup masuk ke tenggorokan ada radikal bebas yang menginfeksi radang
tersebut. Dan itu berakibat kanker tenggorokan.
Semenjak saat itu, akupun berhenti merokok. Total berhenti. Hampir
setengan bulan sama sekali tak ada asap rokok yang terbuang dari mulut dan
hidungku. Dan saati itu adalah saat paling menakutkan dan tak mengenakkan.
Karena kalian pasti tahu, sebagai seorang perokok. Sehari saja tak menghisap
rokok mulut ini rasanya kecut. Tapi aku sadar, kalau aku tetap merokok
kemungkinan besar kanker tenggorokan akan menjadi akhir dari hidupku. Dan
setelah beberapa minggu. Akupun kembali ke dokter sekedar untuk memeriksa
apakah radangnya sudah baikan. Dan Alhamdulillah, radangnya memang sudah
sembuh, tapi batuk yang masih aku derita ternyata membawaku ke penyakit TBC.
Meskipun bisa disembuhkan, namun ini pertama kalinya setelah sekian lama hanya
melihat atau mendengar orang yang terkena penyakit TBC dan kini aku sendiri
yang merasakannya.
Hampir 2 bulan aku batuk, meskipun tak mengeluarkan darah. Tapi
setiap kali batuk setiap harinya semakin ngilu dan tenggorokan seperti ada
sayatan pisau yang aku rasakan. Berat badanku saat itupun hanya 45 Kg untuk
seorang yang mempunyai tinggi 170 Cm. Kurus, tak berdaya, dan hanya bisa
tiduran. Meski aku masih bisa beraktifitas seperti sekolah, sekedar lari-lari
kecil. Namun ke manapun aku selalu menggunakan masker penutup mulut dan itu
sangat tak mengenakkan.
Akhir bulan pertama semenjak dokter memberi tahu kalau aku terkena
TBC. Batuk ku semakin parah, sesekali sempat keluar darah. Walaupun tak banyak
dan tak sering. Tapi setiap darah keluar bersamaan dengan batuk rasanya seperti
sudah tak ada harapan lagi. Dan saat itulah baru aku bisa berfikir jernih.
Mungkin ini adalah nasehat dari beberapa orang yang sebenarnya membawaku ke
jalan yang baik. Namun malah kutanggapi dengan gurauan. Dan 2 minggu aku sama
sekali tak bisa bersekolah. Bahkan untuk menjalankan kewajiban sebagai muslim
pun kulakukan dengan duduk sesekali dengan tiduran karena setiap kali batuk.
Rasanya sungguh lemas tak berdaya. Dan ketika aku berkaca tubuh ini seperti
zombie kalau di film-film luar, hanya yang membedakan aku memakai celana pendek
berkalungkan sarung.
Dengan terapi dan pengobatan medis, TBC ku tidak semakin parah.
Meski batuk masih sering terdengar, tapi ini sudah mulai tak menyakitkan.
Dengan beberapa kali terapi TBC pun sembuh. Tapi tidak menutup kemungkinan
kalau aku kembali menikmati rokok, TBC itu akan kembali dengan yang lebih parah
dari yang ini. Jelas dokter kepada keluargaku dan aku pun mendengarkan sendiri
dengan kedua telinga. Semenjak saat itu, kuputuskan rantai pecandu rokok yang
ada di diriku. Tak mau lagi berurusan dengan rokok, meskipun itu rokok
gratisan. [] masupik
Tuhan tak pernah kehabisan cara. ^_^
BalasHapus