Home » , , , , , , , , , » Me, in the end of November

Me, in the end of November

Written By Hakim on 25/11/12 | 22.25

Sabtu, 24 November 2012. Seperti biasanya bangun dengan keadaan yang tak mengenakan. Ya karena tidur yang tidak terlalu nyenyak dan juga harus memulai kehidupan nyata yang tak sesuai dengan mimpi-mimpi yang tersaji sebelum tidur. Menjadi pengantar, dan ketika pulas tertidur bahkan tidur. Sudah lain lagi mimpi yang terjadi. Namun kembali ke prinsip awal, mudah berkarya, tua kaya raya dan mati masuk surga, Amin. Bismillahi tawakkaltu alallah, laa haula walakuwwata illah billah. Tiu do’a yang sering aku tidak membacanya ketika hendak melakukan sesuatu.

                Ternyata hari itu masih menunjukan pukul 05.12 WIB. Karena masih pagi bagiku, lagi pula kebiasaan pagi yang biasanya mengurus sesuatu yang diperlukan untuk kegiatan pembelajaran pukul 07.00 sudah tidak menjadi tanggunganku lagi. Ada yang berbeda pagi ini. Ya hanya sedikit perbedaan yang tidak terlalu mencolok. Hari-hari biasanya, bangun tidur langsung menikmati sebatang rokok. Namun kali ini berbeda, belum sempat merokok atau memang karena badan yang sudah mulai termakan usia atau juga karena permasalahan internal yang sedang mengganggu fikiranku. Tak tahu penyebabnya apa yang penting bangun tidur ini tak ada aroma asap surya 16 yang menghiasi kamar mungil yang sudah mengalami perubahan drastis.
                “Kang Hakim… Kang…” Suara anak kyaiku yang sudah siap untuk melangkah mencari ilmu.
                “Iya kak Fero.” Sahutku singkat dan jelas.
                “Udah sarapan kang?” Pintal pertanyaan yang sudah biasa terdengar pagi hari.
Belum sempat aku menjawab dengan jawaban singkatku, ternyata dia yang kesehariannya menggunakan Bahasa Indonesia itu melanjutkan dengan pernyataan yang sudah taka sing lagi bersarang di telingaku.
                “Aku belum sarapan ewg kang. Kang sudah sarapan apa belum?” suara kanak-kanaknya terdengar imut untuk umur kelas 2 SD.
                “Kang udah sarapan, kalau kak Fero belum sarapan. Cepet sarapan dulu, kang tunggu di kamar.” Seperti biasa jawaban itu yang aku teriakan di pagi hari sebelum-sebelumnya.
                Bukan karena malas menemani dia sarapan, tapi dikarenakan kepulan asap rokok yang sudah mulai menghiasi bibir ini. Dan sebatang rokok belum sampai menyentuh filter surya 16 pagi itu. Dan dengan sangat terpaksa kurelakan rokok yang belum habis sepenuhnya pagi itu. Melangkah dengan senyum yang sudah setiap harinya kulakukan, dengan niat mengecoh Tuhan.( dasar gila, Tuhan kok dikecoh dengan senyum palsu) baju batik, bawahan hitam tas yang bertuliskan produk laptop yang sekarang sedang naik daun, acer. Siap berangkat memulai hari ini. Ternyata si anak kyaiku sudah selesai makan dan beruntung sekali hari itu bisa cepat berangkat ke sekolah. Ya biasanya, makannya fero sangat lama. Bahkan kalu sedang rewel wah bisa setengah jam sendiri nungguin dia sarapan. Namun bagiku menunggu adalah momen yang sangat bagus untuk kembali menyalakan sebatang rokok. Jadi sambil menyelam minum air dan makan ice cream.
                Tak begitu lama, paling hanya meme rlukan waktu sepersekian jam untuk sampai di sekolah tempat Fero belajar dan tempatku mengabdi. Tentunya dengan transportasi alami ciptaan Tuhan yang maha special bagiku. Di jalan tempat penyeberangan untuk sampai di sekolah, sudah ada satpam yang senyumnya lebar karena memang sudah akrab denganku. Apalagi kemarin baru saja aku main ke rumahnya karena suatu urusan anak muda. Sudah sampai di gerbang sekolah tercinta, sudah ada pak Agus yang menyambut dengan senyum seorang pria bukan laki-laki lagi. Ya itulah pak Agus teman seperjuangan di tempat kerja yang baru berdiri 2 tahun ini. Seperti biasa berjabat tangan dan meloncatkan sedikit guyonan sebagai sarana penghibur diri sendiri. Hahahaha. Itulah kami, 2 orang cowok satu pria dan satu laki-laki, aku. Masuk ke kantor, sudah ada kepala sekolah yang kami anggap sebagai orang no 1 di tempat kami bekerja. Pak Suyuti, orang yang kami anggap memang mampu memimpin sekolah ini. Seperti biasa sekolah yang memang sudah dasarnya sudah anak dari induk yayasan Al Hamidiyyah. Dari namanya saja sudah kental sekali dengan nilai-nilai islam. Jadi setiap hari kecuali hari jum’at sebelum memulai pelajaran, semua guru dan semua siswa melakukan shalat dhuha berjamaah. Ya kira-kira setengah jam kemudian baru bisa melaksanakan kegiatan pembelajaran yang efektif, meskipun tidak eektif namun karena dalam lingkup lembaga pendidikan formal jadi tetap harus ada kata efektif yang tersemat. Namun hari ini aku tidak mengikuti shalat dhuha berjamaah, selain karena malas, juga karena pada saat yang tepat ada tugas dari kepala sekolah. Tugasnya sih sebenarnya dan memang nyatanya bisa ditunda kalau hanya untuk sekedar shalat dhuha. Namun sekali lagi, karena memang ada rasa malas yang sangat berat pagi itu, ya akhirnya terlaksana juga tidak mengikuti shalat dhuha. Jam warna orange dengan dicampur warna putih yang menjadi teman setia ketika aku harus sendirian di kantor sedangkan guru lainnya melakukan tugasnya. Telah menunjukan pukul 08.10 ( waktu yang tertera pada tulisan ini dibuat sedemikian rupa sehingga lebih membuat cerita ini nyata, padahal cerita ini memang sudah dari sononya nyata). Ada suara tinggi dari luar kantor, “ Bu acaranya sudah dimulai lho”. Suara yang sepertinya suara orang yang sudah cukup tua dan mempunyai anak. Dalam benakku bertanya-tanya dan juga aku ucapkan pertanyaan yang terlintas dibenakku.
                “ Acara apa tha bu?” Pandanganku tertuju pada salah satu guru perempuan.
Tak ada respon yang aku tangkap ketika itu, hanya omongan kosong yang sedang terjadi di kantor kala itu. Aku ulangi pertanyaan itu kepada guru lain.
                “ Acara apa tha bu?” kali ini dengan nada yang cukup tinggi, bukan nada marah dan juga bukan nada emosi. Memang dari sononya nada bicaraku yang pelan dan membosankan.
                “ Bu acaranya sudah mau dimulai, murid-murid silakan diantar ke tempat tujuan.” Sahut suara dari luar.
                “ Ulang tahunnya Adam itulho mas.” Jawaban salah seorang  guru yang sedang duduk di sebelahku.
                “oh… ulang tahunnya Adam tha. Iya baru ingat aku, semalam ibunya Adam juga udah update status di Facebook kok.” Sahutku dengan ekspresi sok tahu dan sokmpenting.
                “ update piye mas?” Tanya salah seorang guru perempuan muda yang sering aku godain.
                “ ya update kalau hari ini ulang tahunnya Adam. Di statusnya, kalau 5 tahun yang lalu ketika tanggal… bayi pertama lahir dan sekarang umurnya sudah 5 tahun. Met ultah ya Adam.” Penjelasan singkat yang kutujukan, bukan karena malas berbicara. Tapi karena memang aku masih menyelesaikan tugas dari pagi tadi.
                “ ow gitu tha.” Singkat, padat, dan jelas.
                Suara langkah kali murid-murid yang sudah berlari-larian dan ada juga yang berjalan santai. Otomatis kuangkat pantatku dari tempat duduk depan computer sekolah. Dan berjalan dengan sepatu berbunyi prok…prok… “ ayo gak usah lari, kalau mau nyebrang lihat kiri-kanan dulu.” Ucapan yang biasa keluar kala aku mengawasi anak-anak istirahat. Ya memang karena sekolah tempat aku bekerja langsung berhadapan dengan jalan desa, tidak terlalu besar tapi sangat ramai karena dijadikan jalan alternative kalau di perempatan lampu merah sedang macet.
                “ Ayo-ayo, SD IT langsung masuk saja.” Sahut suara yang sudah pernah aku dengar sebelumnya.
                Sudah masuk ke rumah yang tidak terlalu besar untuk 63 anak, tapi penuh barang mewah. Ya karena itu sang suami anggota DPR daerah. Dalam suasana keharmonisan ulang tahun Adam. Kembali fikiranku terbanwa ke masa 13 tahun yang lalu. Atau tepatnya aku genap berusia 6 tahun. Ya suasananya sama seperti inilah. Ulang tahunku dirayakan, undang semua teman-teman. Dari teman-teman TK, sampai teman-teman sepermainan. Suasana berlangsung meriah, meskipun aku sendiri gak tahu apa aku harus senang merayakan ulang tahun atau harus sedih. Itulah aku, sosok 13 tahun yang lalu yang penuh dengan kebingungan sebenarnya siapa aku ini dan apakah benar aku terlahir dari orang tua yang selama ini aku panggil bapak dan ibu? Pertanyaan konyol, tapi mungkin saja. Toh kata orang tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bullshit.
                Namun setelah perayaan ulang tahunku, ada sedikit kecelakaan dalam permainan. Mataku warna biru sebelah. Biru besar sampai 1 minggu. Ya sedikit cerita masa lalu yang aku sesalkan karena kurang maksimal pada zamannya. Namun sekarang hanya bisa bersyukur dengan semuanya. Dan ketika sudah terjadi seperti inilah, baru kita boleh mengatakan TAKDIR. []ALH
Share this article :

4 komentar:

  1. ceritanya nanggung,,, kenapa ga ditrusin??

    BalasHapus
    Balasan
    1. udah malem, admin bo2g..hehehehehe

      Hapus
    2. kalo sekarang kan ga tidur,, ayolah kang admin, kayanya seru kalo dlanjutkan

      Hapus
    3. iya2...ini virus males lagi menyerang. gak adda sebungkus rokok yang menemani menulis dan berikir. no smoking no thinking. thx sarannya.

      Hapus

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger