Ternyata
hari itu masih menunjukan pukul 05.12 WIB. Karena masih pagi bagiku, lagi pula
kebiasaan pagi yang biasanya mengurus sesuatu yang diperlukan untuk kegiatan
pembelajaran pukul 07.00 sudah tidak menjadi tanggunganku lagi. Ada yang
berbeda pagi ini. Ya hanya sedikit perbedaan yang tidak terlalu mencolok.
Hari-hari biasanya, bangun tidur langsung menikmati sebatang rokok. Namun kali
ini berbeda, belum sempat merokok atau memang karena badan yang sudah mulai
termakan usia atau juga karena permasalahan internal yang sedang mengganggu
fikiranku. Tak tahu penyebabnya apa yang penting bangun tidur ini tak ada aroma
asap surya 16 yang menghiasi kamar mungil yang sudah mengalami perubahan
drastis.
“Kang
Hakim… Kang…” Suara anak kyaiku yang sudah siap untuk melangkah mencari ilmu.
“Iya
kak Fero.” Sahutku singkat dan jelas.
“Udah
sarapan kang?” Pintal pertanyaan yang sudah biasa terdengar pagi hari.
Belum sempat aku menjawab dengan
jawaban singkatku, ternyata dia yang kesehariannya menggunakan Bahasa Indonesia
itu melanjutkan dengan pernyataan yang sudah taka sing lagi bersarang di
telingaku.
“Aku
belum sarapan ewg kang. Kang sudah sarapan apa belum?” suara
kanak-kanaknya terdengar imut untuk umur kelas 2 SD.
“Kang
udah sarapan, kalau kak Fero belum sarapan. Cepet sarapan dulu, kang tunggu di
kamar.” Seperti biasa jawaban itu yang aku teriakan di pagi hari
sebelum-sebelumnya.
Bukan
karena malas menemani dia sarapan, tapi dikarenakan kepulan asap rokok yang
sudah mulai menghiasi bibir ini. Dan sebatang rokok belum sampai menyentuh
filter surya 16 pagi itu. Dan dengan sangat terpaksa kurelakan rokok yang belum
habis sepenuhnya pagi itu. Melangkah dengan senyum yang sudah setiap harinya
kulakukan, dengan niat mengecoh Tuhan.( dasar gila, Tuhan kok dikecoh dengan
senyum palsu) baju batik, bawahan hitam tas yang bertuliskan produk laptop yang
sekarang sedang naik daun, acer. Siap berangkat memulai hari ini. Ternyata si
anak kyaiku sudah selesai makan dan beruntung sekali hari itu bisa cepat
berangkat ke sekolah. Ya biasanya, makannya fero sangat lama. Bahkan kalu
sedang rewel wah bisa setengah jam sendiri nungguin dia sarapan. Namun bagiku
menunggu adalah momen yang sangat bagus untuk kembali menyalakan sebatang rokok.
Jadi sambil menyelam minum air dan makan ice cream.
Tak
begitu lama, paling hanya meme rlukan waktu sepersekian jam untuk sampai di
sekolah tempat Fero belajar dan tempatku mengabdi. Tentunya dengan transportasi
alami ciptaan Tuhan yang maha special bagiku. Di jalan tempat penyeberangan
untuk sampai di sekolah, sudah ada satpam yang senyumnya lebar karena memang
sudah akrab denganku. Apalagi kemarin baru saja aku main ke rumahnya karena
suatu urusan anak muda. Sudah sampai di gerbang sekolah tercinta, sudah ada pak
Agus yang menyambut dengan senyum seorang pria bukan laki-laki lagi. Ya itulah
pak Agus teman seperjuangan di tempat kerja yang baru berdiri 2 tahun ini.
Seperti biasa berjabat tangan dan meloncatkan sedikit guyonan sebagai sarana
penghibur diri sendiri. Hahahaha. Itulah kami, 2 orang cowok satu pria dan satu
laki-laki, aku. Masuk ke kantor, sudah ada kepala sekolah yang kami anggap
sebagai orang no 1 di tempat kami bekerja. Pak Suyuti, orang yang kami anggap
memang mampu memimpin sekolah ini. Seperti biasa sekolah yang memang sudah
dasarnya sudah anak dari induk yayasan Al Hamidiyyah. Dari namanya saja sudah
kental sekali dengan nilai-nilai islam. Jadi setiap hari kecuali hari jum’at
sebelum memulai pelajaran, semua guru dan semua siswa melakukan shalat dhuha
berjamaah. Ya kira-kira setengah jam kemudian baru bisa melaksanakan kegiatan
pembelajaran yang efektif, meskipun tidak eektif namun karena dalam lingkup
lembaga pendidikan formal jadi tetap harus ada kata efektif yang tersemat.
Namun hari ini aku tidak mengikuti shalat dhuha berjamaah, selain karena malas,
juga karena pada saat yang tepat ada tugas dari kepala sekolah. Tugasnya sih
sebenarnya dan memang nyatanya bisa ditunda kalau hanya untuk sekedar shalat
dhuha. Namun sekali lagi, karena memang ada rasa malas yang sangat berat pagi
itu, ya akhirnya terlaksana juga tidak mengikuti shalat dhuha. Jam warna orange
dengan dicampur warna putih yang menjadi teman setia ketika aku harus sendirian
di kantor sedangkan guru lainnya melakukan tugasnya. Telah menunjukan pukul
08.10 ( waktu yang tertera pada tulisan ini dibuat sedemikian rupa sehingga
lebih membuat cerita ini nyata, padahal cerita ini memang sudah dari sononya
nyata). Ada suara tinggi dari luar kantor, “ Bu acaranya sudah dimulai lho”. Suara
yang sepertinya suara orang yang sudah cukup tua dan mempunyai anak. Dalam
benakku bertanya-tanya dan juga aku ucapkan pertanyaan yang terlintas
dibenakku.
“ Acara
apa tha bu?” Pandanganku tertuju pada salah satu guru perempuan.
Tak ada respon yang aku tangkap ketika itu, hanya omongan
kosong yang sedang terjadi di kantor kala itu. Aku ulangi pertanyaan itu kepada
guru lain.
“ Acara
apa tha bu?” kali ini dengan nada yang cukup tinggi, bukan nada marah dan juga
bukan nada emosi. Memang dari sononya nada bicaraku yang pelan dan membosankan.
“ Bu
acaranya sudah mau dimulai, murid-murid silakan diantar ke tempat tujuan.”
Sahut suara dari luar.
“ Ulang
tahunnya Adam itulho mas.” Jawaban salah seorang guru yang sedang duduk di sebelahku.
“oh…
ulang tahunnya Adam tha. Iya baru ingat aku, semalam ibunya Adam juga udah
update status di Facebook kok.” Sahutku dengan ekspresi sok tahu dan
sokmpenting.
“
update piye mas?” Tanya salah seorang guru perempuan muda yang sering
aku godain.
“ ya
update kalau hari ini ulang tahunnya Adam. Di statusnya, kalau 5 tahun yang
lalu ketika tanggal… bayi pertama lahir dan sekarang umurnya sudah 5 tahun. Met
ultah ya Adam.” Penjelasan singkat yang kutujukan, bukan karena malas
berbicara. Tapi karena memang aku masih menyelesaikan tugas dari pagi tadi.
“ ow
gitu tha.” Singkat, padat, dan jelas.
Suara
langkah kali murid-murid yang sudah berlari-larian dan ada juga yang berjalan
santai. Otomatis kuangkat pantatku dari tempat duduk depan computer sekolah.
Dan berjalan dengan sepatu berbunyi prok…prok… “ ayo gak usah lari, kalau mau
nyebrang lihat kiri-kanan dulu.” Ucapan yang biasa keluar kala aku mengawasi
anak-anak istirahat. Ya memang karena sekolah tempat aku bekerja langsung
berhadapan dengan jalan desa, tidak terlalu besar tapi sangat ramai karena
dijadikan jalan alternative kalau di perempatan lampu merah sedang macet.
“
Ayo-ayo, SD IT langsung masuk saja.” Sahut suara yang sudah pernah aku dengar
sebelumnya.
Sudah masuk
ke rumah yang tidak terlalu besar untuk 63 anak, tapi penuh barang mewah. Ya karena
itu sang suami anggota DPR daerah. Dalam suasana keharmonisan ulang tahun Adam.
Kembali fikiranku terbanwa ke masa 13 tahun yang lalu. Atau tepatnya aku genap
berusia 6 tahun. Ya suasananya sama seperti inilah. Ulang tahunku dirayakan,
undang semua teman-teman. Dari teman-teman TK, sampai teman-teman sepermainan. Suasana
berlangsung meriah, meskipun aku sendiri gak tahu apa aku harus senang
merayakan ulang tahun atau harus sedih. Itulah aku, sosok 13 tahun yang lalu
yang penuh dengan kebingungan sebenarnya siapa aku ini dan apakah benar aku
terlahir dari orang tua yang selama ini aku panggil bapak dan ibu? Pertanyaan konyol,
tapi mungkin saja. Toh kata orang tak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Bullshit.
Namun setelah
perayaan ulang tahunku, ada sedikit kecelakaan dalam permainan. Mataku warna
biru sebelah. Biru besar sampai 1 minggu. Ya sedikit cerita masa lalu yang aku
sesalkan karena kurang maksimal pada zamannya. Namun sekarang hanya bisa bersyukur
dengan semuanya. Dan ketika sudah terjadi seperti inilah, baru kita boleh
mengatakan TAKDIR. []ALH
ceritanya nanggung,,, kenapa ga ditrusin??
BalasHapusudah malem, admin bo2g..hehehehehe
Hapuskalo sekarang kan ga tidur,, ayolah kang admin, kayanya seru kalo dlanjutkan
Hapusiya2...ini virus males lagi menyerang. gak adda sebungkus rokok yang menemani menulis dan berikir. no smoking no thinking. thx sarannya.
Hapus