UJIAN NASIONAL (UN) Sekolah Menengah Atas (SMA) telah selesai dan
pengumuman kelulusan kemarin tanggal 20 Mei 2014 telah diberitahukan oleh pihak
sekolah kepada para siswa kelas XII nya. Seperti yang sudah-sudah, prosesi
kelulusan syarat dengan kegiatan yang mencerminkan sebagai pelampisan para
siswa karena merasa dirinya telah selesai menempuh 12 tahun sekolah. Dari yang
memberikan pakaian sekolah yang masih layak pada adik kelas, membagikan nasi
bungkus, sampai yang sering terjadi adalah konvoi kendaraan bermotor. Lantas
bagaimana komentar “ceplas-ceplos” Upik dan Uplet mengenai konvoi para pelajar
yang sering kali digambarkan sebagai kegiatan yang tidak perlu karena banyak
ruginya dan hampir tak ada kesan menguntungkan? Check it out!
~~~
“Groong… groong… groong…”
“Tiiit… tiiiit… tiiiit…”
“Asu, ngrameni!” Reaksi Upik karena terganggu oleh suara berisik anak-anak kelas XII
yang sedang konvoi kelulusan.
“Plet, iku suoro opo? Mbribeni kuping wae. Asu tenan!”
“Sabar Pik, itu loh, anak-anak SMA kelas XII sedang konvoi
kelulusan. Hari ini kan hari pengumuman kelulusan untuk siswa Sekolah Menengah
Atas (SMA).”
“Tapi kakeane tenan. Ngrameni donyo tenan.” Upik yang masih kesal karena merasa
terganggu dengan suara knalpot dan
klakson sepeda motor yang sengaja dibunyikan oleh para pelajar.
“Sabar Pik, sabar. Ojo nesu wae tho. Koyok gak tau dadi cah enom
wae! Biyen kowe yo konvoi leh pas lulusan?”
“Iyo Plet.” Jawab Upik lirih.
“Mulane ra usah emosi. Kene sing wis tuo yo angger maklumi lak wes.
Dulu kita pas konvoi, mungkin orang-orang
yang mendengar juga merasa terganggu seperti kamu. Tapi kita juga tetap
melakukan konvoi sampai tujuan kan? Jadi sekarang gentian, mereka yang
melakukan kita yang merasa terganggu. Jadi ini termasuk karma atas perbuatan
kita dulu.” Sahut Uplet bijak.
“Lha bagaimana dengan mereka yang dulunya tak melakukan konvoi saat
lulusan, apa juga mendapatkan karma dari kita-kita yang dulunya melakukan
konvoi?” tanya Upik dengan emosi yang sedikit terkontrol.
“Ya itulah akibatnya. Konvoi kan bukan hanya ditujukan atau
diperlihatkan untuk satu orang saja kan Pik. tapi mereka melakukan konvoi
karena mereka ingin memberi tahu kita semua bahwa mereka telah lulus. Sama kan
seperti kita dulu. Jadi semua orang termasuk yang dulunya tidak melakukan
konvoi yang harus merasa terganggu.”
Lanjut Uplet. “Tapi kalau menurutku, selama konvoi tak membahayakan
lingkungan sekitar, tak jadi masalah jika dilakukan. Toh, kebanyakan
dari mereka yang tak setuju dengan konvoi kan karena terganggu karena suara
knalpot yang sengaja dibuat bising. Dan juga semisal para pelajar dalam konvoi
terjadi kecelakaan, yang nanggung juga para pelajar sendiri. Toh paling-paling
pihak orang tua dan sekolah hanya bisa menegur sambil marah-marah jika sampai
menjelekkan nama keluarga atau sekolah kan?”
“Memang betul mereka yang menanggung sendiri Plet. Tapi akan lebih
baik kan kalau hal demikian tidak perlu dilakukan. Jadi kecelakaan atau hal-hal
yang tak diinginkan tak akan terjadi kan?”
“Benar Pik omonganmu. Itu pemikiran orang tua. Sedangkan mereka
yang pelajar, yang masih mencari-cari jati diri. Resiko besar tak menjadi
halangan. Contohnya ya kita ini. Dulu pas masih SMA, saat mau konvoi. Apakah
kita memikirkan hal demikian? Tidak kan? Kita hanya memikirkan kesenangan dan
kenangan serta perjuangan selama 12 tahun. Kita tumpah ruahkan di dalam
konvoi.”
Berhenti sejenak.
“Ingat dulu Pik. Waktu dikejar polisi karena tak diperbolehkan
memasuki kota. Kita malah tertawa terbahak-bahak sembari memacu sepeda motor
agar tak tertangkap. Kita malah menantang polisi.”
“Walah, omonganmu malah ngelingno aku pas biyen konvoi Plet. Dikejar polisi gara-gara tak
diperbolehin masuk kota. Terus lewat jalan desa, eh malah masih dikejar. Lantas
rombongan konvoi terpisah. kita berdua yang terpisah dari rombongan, sembunyi
di salah satu rumah warga. Polisi lewat, kita lanjut gabung dengan rombongan
lagi, dan akhirnya sampai tujuan akhir. Masa-masa tak terlupakan Plet.” Cerita
Upik dengan pengalaman konvoi bersama Uplet dulu.
“Makanya, kita sebagai orang tua tak perlu picik Pik. Biarlah
mereka merasakan kesenangan. Baru kalau terjadi hal yang tak diinginkan, kita
yang tua baru menasehati.”
“Bener Plet omonganmu.”
“Kalau kita sebagai orang tua yang dulunya tak melakukan konvoi
yang hanya sekali seumur hidup itu, janganlah kita menuntut anak-anak kita agar
sama seperti kita. Intinya jangan terlalu piciklah.” Akhir penjelasan Uplet
pada Upik.
“Yowes lah Plet. Ben konvoi kono. Kene gur ngawasi karo eleng-eleng
biyen pas sak umurane bocah-bocah kuwi.” Kata Upik.
“Lha, ngono. Perkoro konvoi wae dimasalahno. Tapi perkoro pejabat
politik sing ngrusak pendidikan Negarane kene dijarno. Wes-wes, ajur pokok e.” Keluah Uplet dengan mengelus dada. [the
end]
Itulah anak muda, jangan salahkan kalau mereka ingin menemukan
siapa diri mereka dengan menantang resiko. Kita sebagai orang yang sudah
berumur dan sudah bsia berfikir matang, tugas kita hanya menasehati dan
memberikan masukan pada mereka. Kalau hanya karena konvoi sampai-sampai ijasah
tak diberikan pada peserta didik, mengapa mereka yang jelas-jelas berbuat
curang tidak ditindak?
Jadi intinya, semua anak itu sebenarnya baik. Tapi jangan samakan
setiap anak dengan kebaikan oleh satu sudut pandang. Semoga kalian yang bijak
bisa memahaminya. [] masupik
0 komentar:
Posting Komentar
Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))