Home » , , , » UPIK-UPLET | Ujian Nasional #2

UPIK-UPLET | Ujian Nasional #2

Written By Hakim on 21/05/14 | 18.34


UJIAN NASIONAL (UN) Sekolah Menengah Atas (SMA) telah selesai dan pengumuman kelulusan kemarin tanggal 20 Mei 2014 telah diberitahukan oleh pihak sekolah kepada para siswa kelas XII nya. Seperti yang sudah-sudah, prosesi kelulusan syarat dengan kegiatan yang mencerminkan sebagai pelampisan para siswa karena merasa dirinya telah selesai menempuh 12 tahun sekolah. Dari yang memberikan pakaian sekolah yang masih layak pada adik kelas, membagikan nasi bungkus, sampai yang sering terjadi adalah konvoi kendaraan bermotor. Lantas bagaimana komentar “ceplas-ceplos” Upik dan Uplet mengenai konvoi para pelajar yang sering kali digambarkan sebagai kegiatan yang tidak perlu karena banyak ruginya dan hampir tak ada kesan menguntungkan? Check it out!
~~~
“Groong… groong… groong…”
“Tiiit… tiiiit… tiiiit…”
“Asu, ngrameni!” Reaksi Upik karena terganggu oleh suara berisik anak-anak kelas XII yang sedang konvoi kelulusan.
“Plet, iku suoro opo? Mbribeni kuping wae. Asu tenan!”
“Sabar Pik, itu loh, anak-anak SMA kelas XII sedang konvoi kelulusan. Hari ini kan hari pengumuman kelulusan untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA).”
“Tapi kakeane tenan. Ngrameni donyo tenan.” Upik yang masih kesal karena merasa terganggu dengan suara knalpot  dan klakson sepeda motor yang sengaja dibunyikan oleh para pelajar.
“Sabar Pik, sabar. Ojo nesu wae tho. Koyok gak tau dadi cah enom wae! Biyen kowe yo konvoi leh pas lulusan?”
“Iyo Plet.” Jawab Upik lirih.
“Mulane ra usah emosi. Kene sing wis tuo yo angger maklumi lak wes. Dulu kita pas konvoi, mungkin orang-orang yang mendengar juga merasa terganggu seperti kamu. Tapi kita juga tetap melakukan konvoi sampai tujuan kan? Jadi sekarang gentian, mereka yang melakukan kita yang merasa terganggu. Jadi ini termasuk karma atas perbuatan kita dulu.” Sahut Uplet bijak.
“Lha bagaimana dengan mereka yang dulunya tak melakukan konvoi saat lulusan, apa juga mendapatkan karma dari kita-kita yang dulunya melakukan konvoi?” tanya Upik dengan emosi yang sedikit terkontrol.
“Ya itulah akibatnya. Konvoi kan bukan hanya ditujukan atau diperlihatkan untuk satu orang saja kan Pik. tapi mereka melakukan konvoi karena mereka ingin memberi tahu kita semua bahwa mereka telah lulus. Sama kan seperti kita dulu. Jadi semua orang termasuk yang dulunya tidak melakukan konvoi yang harus merasa terganggu.”
Lanjut Uplet. “Tapi kalau menurutku, selama konvoi tak membahayakan lingkungan sekitar, tak jadi masalah jika dilakukan. Toh, kebanyakan dari mereka yang tak setuju dengan konvoi kan karena terganggu karena suara knalpot yang sengaja dibuat bising. Dan juga semisal para pelajar dalam konvoi terjadi kecelakaan, yang nanggung juga para pelajar sendiri. Toh paling-paling pihak orang tua dan sekolah hanya bisa menegur sambil marah-marah jika sampai menjelekkan nama keluarga atau sekolah kan?”
“Memang betul mereka yang menanggung sendiri Plet. Tapi akan lebih baik kan kalau hal demikian tidak perlu dilakukan. Jadi kecelakaan atau hal-hal yang tak diinginkan tak akan terjadi kan?”
“Benar Pik omonganmu. Itu pemikiran orang tua. Sedangkan mereka yang pelajar, yang masih mencari-cari jati diri. Resiko besar tak menjadi halangan. Contohnya ya kita ini. Dulu pas masih SMA, saat mau konvoi. Apakah kita memikirkan hal demikian? Tidak kan? Kita hanya memikirkan kesenangan dan kenangan serta perjuangan selama 12 tahun. Kita tumpah ruahkan di dalam konvoi.”
Berhenti sejenak.
“Ingat dulu Pik. Waktu dikejar polisi karena tak diperbolehkan memasuki kota. Kita malah tertawa terbahak-bahak sembari memacu sepeda motor agar tak tertangkap. Kita malah menantang polisi.”
“Walah, omonganmu malah ngelingno aku pas biyen konvoi Plet. Dikejar polisi gara-gara tak diperbolehin masuk kota. Terus lewat jalan desa, eh malah masih dikejar. Lantas rombongan konvoi terpisah. kita berdua yang terpisah dari rombongan, sembunyi di salah satu rumah warga. Polisi lewat, kita lanjut gabung dengan rombongan lagi, dan akhirnya sampai tujuan akhir. Masa-masa tak terlupakan Plet.” Cerita Upik dengan pengalaman konvoi bersama Uplet dulu.
“Makanya, kita sebagai orang tua tak perlu picik Pik. Biarlah mereka merasakan kesenangan. Baru kalau terjadi hal yang tak diinginkan, kita yang tua baru menasehati.”
“Bener Plet omonganmu.”
“Kalau kita sebagai orang tua yang dulunya tak melakukan konvoi yang hanya sekali seumur hidup itu, janganlah kita menuntut anak-anak kita agar sama seperti kita. Intinya jangan terlalu piciklah.” Akhir penjelasan Uplet pada Upik.
“Yowes lah Plet. Ben konvoi kono. Kene gur ngawasi karo eleng-eleng biyen pas sak umurane bocah-bocah kuwi.” Kata Upik.
“Lha, ngono. Perkoro konvoi wae dimasalahno. Tapi perkoro pejabat politik sing ngrusak pendidikan Negarane kene dijarno. Wes-wes, ajur pokok e.” Keluah Uplet dengan mengelus dada. [the end]
Itulah anak muda, jangan salahkan kalau mereka ingin menemukan siapa diri mereka dengan menantang resiko. Kita sebagai orang yang sudah berumur dan sudah bsia berfikir matang, tugas kita hanya menasehati dan memberikan masukan pada mereka. Kalau hanya karena konvoi sampai-sampai ijasah tak diberikan pada peserta didik, mengapa mereka yang jelas-jelas berbuat curang tidak ditindak?
Jadi intinya, semua anak itu sebenarnya baik. Tapi jangan samakan setiap anak dengan kebaikan oleh satu sudut pandang. Semoga kalian yang bijak bisa memahaminya. [] masupik
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger