UJIAN NASIONAL (UN), sudah banyak pendapat, pemikiran, tanggapan,
kritik dan berbagai cibiran mengenai UN. Seolah-olah UN adalah sebuah aib yang
dimiliki oleh pendidikan kita sebagai penentu apakah seorang siswa bisa
melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya atau harus tinggal sejenak. Dan
saya harus minta maaf terlebih dahulu, karena kalian sekali lagi harus membaca
sebuah tulisan mengenai UN. Yang seperti biasanya tulisan ini adalah buah
pemikiran ndeso Upik dan Uplet melalui komentar “ceplas-ceplos”nya. Mari
kita lihat.
~~~
“Plet, biyen kene pas ijeh sekolah wis ono Ujian Nasional (UN)
opo durung yo?” tanya Upik pada Uplet yang sedang duduk-duduk manis di
teras rumah.
“Aku yo ono toh. Pitakonmu kok lucu Pik. mikir opo kowe?” tanya Uplet.
Pagi itu adalah hari pertama siswa-siswa sekolah dasar melakukan
Ujian Nasional. Sedangkan besok tanggal 20 Mei 2014 adalah pengumuman kelulusan
siswa SMA.
“Aku memikirkan UN yang sepertinya banyak yang mencibir dirinya
(UN). Sebenarnya mereka itu pernah berfikir apa tidak ya?”
“Lho, kamu kok bisa bicara seperti itu atas dasar apa
Pik? Hati-hati lho!”
“Bukannya gitu. Aku hanya tak habis pikir saja Plet. Mereka
yang tak setuju dengan adanya UN sebagai penentu kelulusan, mungkin memang
mereka tak bisa mengerjakan saat UN. Ada juga yang bilang, masak kita sekolah
12 tahun hanya ditentukan selama 4 hari berjuang. Kasian UN setiap tahun jadi
kambing hitam.” Keluh Upik.
“Mau bagaimana lagi Pik. Negara kita adalah Negara demokrasi, yang
artinya semua rakyat bebas mengemukakan pendapatnya di muka umum. Jadi ya wajar
ketika setiap kejadian yang tak porposional seperti UN selalu jadi kambing
hitam. Tapi kalau menurutku pribadi ya setuju kalau UN ditiadakan Pik.”
“Lho… kowe kok melah melu-melu Plet?” Upik yang kaget mendengar pendapat
Uplet.
“Ingat Negara demokrasi.” Lirik Uplet pada Upik. “Aku berpendapat
demikian karena aku punya alasan yang menurutku memang benar kalau UN lebih
baik ditiadakan. Ya alasanku hanya satu Pik. kalau model UN masih seperti saat
ini aku jelas-jelas tak setuju dengan diadakannya UN.”
“Memang model UN saat ini bagaimana Plet?”
“Jadi begini, kemarin aku sempat membaca salah satu pendapat orang
yang tak setuju dengan adanya UN. Dalam pendapatnya disebutkan karena UN saat
ini modelnya menyama-ratakan tingkat kecerdasan anak. Dan menurutku pendapat
yang dikemukakan oleh orang tersebut benar. Semisal ya Pik, dalam satu ruangan
terdapat 20 anak. Mereka mengerjakan soal UN yang sama. Sama di sini bukan
soalnya sama persis, tapi sama di sini maksudnya pemerintah menyamakan tingkat
kecerdasan anak.”
“Aduh Plet, kok mubeng-mubeng penjelasanmu.”
“Bagaimana ya mengatakannya. Begini Pik, tingkat kecerdasan setiap
anak kan berbeda-beda. Ada yang pandai dalam matematika tapi kemampuan
bahasanya rendah, kemudian ada yang pandai dalam berbicara (komunikasi) tapi
logikanya rendah, dan ada pula yang dominan dalam olah raga (motorik) tapi
kemampuan akademisnya minim. Sedangkan dalam UN semua siswa hanya dituntut
untuk mengerjakan soal secara umum. Kalau begitu berarti mereka yang dominan di
bidang komunikasi dan motorik pastinya akan kesulitan dengan soal-soal tersebut
kan?”
“Iya juga Plet, tapi aku belum begitu paham dengan penjelasanmu
tadi. Kasih contoh yang mudah saja lah!”
“Contohnya ya seperti kamu ini Pik. Mungkin penjelasanku tadi kalau
kukatakan pada orang lain pasti sudah ada yang bisa memahaminya. Sedangkan kamu
harus berulang kali dijelaskan.”
“Jadi aku termasuk goblok dong Plet?”
“Itu bukan goblok Pik, tapi cara menangkap otakmu harus
dengan visualisasi contoh yang jelas. Jadi bukan goblok, hanya
memerlukan gambaran tentang penjelasank tadi.”
“Mulane nak menehi contoh sing jelas, ben wong sing koyok aku
gampang nerimone!”
“Oke-oke. Contohnya masih sama. Seperti aku dan kamu. Tapi kali ini
aku pintar matematika sedangkan kamu pandai dalam menggambar (seni). Kita
sedang melaksanakan UN dalam satu ruangan. Dan pada saat itu mata pelajaran
yang diujikan adalah matematika. Aku yang memang pintar matematika pastinya
lebih mudah mengerjakan dari pada kamu yang lebih terampil dalam menggambar
kan. Itu yang aku maksud menyama-ratakan. Bagaimana sudah dapat gambarannya?”
“Oh… jadi begitu yang kamu maksud dari tadi Plet? Bilang dong! Hehehe.”
“Dari tadi sudah bilang kali Pik.” Uplet sedikit kesal dengan Upik.
“Jadi kalau pemerintah masih memberlakukan UN sebagai ujian
penentu. Harusnya soalnya juga disesuaikan dengan kecerdasan yang dimiliki para
siswa Pik. mengambil contoh yang tadi, aku pintar matematika maka aku
mendapatkan soal yang keseluruhnya berhubungan dengan matematika. Sedangkan
kamu yang pintar dalam menggambar (seni), juga mendapatkan soal ujian yang
berhubungan dengan seni. Begitu seharunya.” Tambah Uplet.
“Benar juga yang kamu katakana ya Plet. Tumben-tumbenan otakmu
lancar begitu. Baru tahu aku. hahaha.” Ledek Upik.
“Makanya jadi orang jangan hanya membaca Koran saja. Tapi bertindak
dong. Masak kalah sama kebo!” balas Uplet.
“Hahahaha, asu kowe Plet.” [the end]
Itu adalah sedikit celethuk dari pojok desa yang diwakili
oleh Upik dan Uplet. Bagaimana kalian menanggapi UN? Tak perlu kalian jawab.
Tapi yang jelas, apapun namanya kalau kita berfikir postitif pasti semua ada
hikmah di balik setiap kejadian. Tak terkecuali Ujian Nasional. Dan semoga
kelulusan kelas XII tahun ini, tak tercoreng dengan tindakan-tindakan yang
seharusnya tak perlu. [] masupik
0 komentar:
Posting Komentar
Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))