Home » , , » UPIK-UPLET | Ujian Nasional #1

UPIK-UPLET | Ujian Nasional #1

Written By Hakim on 21/05/14 | 04.44



UJIAN NASIONAL (UN), sudah banyak pendapat, pemikiran, tanggapan, kritik dan berbagai cibiran mengenai UN. Seolah-olah UN adalah sebuah aib yang dimiliki oleh pendidikan kita sebagai penentu apakah seorang siswa bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya atau harus tinggal sejenak. Dan saya harus minta maaf terlebih dahulu, karena kalian sekali lagi harus membaca sebuah tulisan mengenai UN. Yang seperti biasanya tulisan ini adalah buah pemikiran ndeso Upik dan Uplet melalui komentar “ceplas-ceplos”nya. Mari kita lihat.
~~~
“Plet, biyen kene pas ijeh sekolah wis ono Ujian Nasional (UN) opo durung yo?” tanya Upik pada Uplet yang sedang duduk-duduk manis di teras rumah.
“Aku yo ono toh. Pitakonmu kok lucu Pik. mikir opo kowe?” tanya Uplet.
Pagi itu adalah hari pertama siswa-siswa sekolah dasar melakukan Ujian Nasional. Sedangkan besok tanggal 20 Mei 2014 adalah pengumuman kelulusan siswa SMA.
“Aku memikirkan UN yang sepertinya banyak yang mencibir dirinya (UN). Sebenarnya mereka itu pernah berfikir apa tidak ya?”
Lho, kamu kok bisa bicara seperti itu atas dasar apa Pik? Hati-hati lho!”
“Bukannya gitu. Aku hanya tak habis pikir saja Plet. Mereka yang tak setuju dengan adanya UN sebagai penentu kelulusan, mungkin memang mereka tak bisa mengerjakan saat UN. Ada juga yang bilang, masak kita sekolah 12 tahun hanya ditentukan selama 4 hari berjuang. Kasian UN setiap tahun jadi kambing hitam.” Keluh Upik.
“Mau bagaimana lagi Pik. Negara kita adalah Negara demokrasi, yang artinya semua rakyat bebas mengemukakan pendapatnya di muka umum. Jadi ya wajar ketika setiap kejadian yang tak porposional seperti UN selalu jadi kambing hitam. Tapi kalau menurutku pribadi ya setuju kalau UN ditiadakan Pik.”
“Lho… kowe kok melah melu-melu Plet?” Upik yang kaget mendengar pendapat Uplet.
“Ingat Negara demokrasi.” Lirik Uplet pada Upik. “Aku berpendapat demikian karena aku punya alasan yang menurutku memang benar kalau UN lebih baik ditiadakan. Ya alasanku hanya satu Pik. kalau model UN masih seperti saat ini aku jelas-jelas tak setuju dengan diadakannya UN.”
“Memang model UN saat ini bagaimana Plet?”
“Jadi begini, kemarin aku sempat membaca salah satu pendapat orang yang tak setuju dengan adanya UN. Dalam pendapatnya disebutkan karena UN saat ini modelnya menyama-ratakan tingkat kecerdasan anak. Dan menurutku pendapat yang dikemukakan oleh orang tersebut benar. Semisal ya Pik, dalam satu ruangan terdapat 20 anak. Mereka mengerjakan soal UN yang sama. Sama di sini bukan soalnya sama persis, tapi sama di sini maksudnya pemerintah menyamakan tingkat kecerdasan anak.”
Aduh Plet, kok mubeng-mubeng penjelasanmu.”
“Bagaimana ya mengatakannya. Begini Pik, tingkat kecerdasan setiap anak kan berbeda-beda. Ada yang pandai dalam matematika tapi kemampuan bahasanya rendah, kemudian ada yang pandai dalam berbicara (komunikasi) tapi logikanya rendah, dan ada pula yang dominan dalam olah raga (motorik) tapi kemampuan akademisnya minim. Sedangkan dalam UN semua siswa hanya dituntut untuk mengerjakan soal secara umum. Kalau begitu berarti mereka yang dominan di bidang komunikasi dan motorik pastinya akan kesulitan dengan soal-soal tersebut kan?”
“Iya juga Plet, tapi aku belum begitu paham dengan penjelasanmu tadi. Kasih contoh yang mudah saja lah!”
“Contohnya ya seperti kamu ini Pik. Mungkin penjelasanku tadi kalau kukatakan pada orang lain pasti sudah ada yang bisa memahaminya. Sedangkan kamu harus berulang kali dijelaskan.”
“Jadi aku termasuk goblok dong Plet?”
“Itu bukan goblok Pik, tapi cara menangkap otakmu harus dengan visualisasi contoh yang jelas. Jadi bukan goblok, hanya memerlukan gambaran tentang penjelasank tadi.”
Mulane nak menehi contoh sing jelas, ben wong sing koyok aku gampang nerimone!”
“Oke-oke. Contohnya masih sama. Seperti aku dan kamu. Tapi kali ini aku pintar matematika sedangkan kamu pandai dalam menggambar (seni). Kita sedang melaksanakan UN dalam satu ruangan. Dan pada saat itu mata pelajaran yang diujikan adalah matematika. Aku yang memang pintar matematika pastinya lebih mudah mengerjakan dari pada kamu yang lebih terampil dalam menggambar kan. Itu yang aku maksud menyama-ratakan. Bagaimana sudah dapat gambarannya?”
“Oh… jadi begitu yang kamu maksud dari tadi Plet? Bilang dong! Hehehe.”
“Dari tadi sudah bilang kali Pik.” Uplet sedikit kesal dengan Upik.
“Jadi kalau pemerintah masih memberlakukan UN sebagai ujian penentu. Harusnya soalnya juga disesuaikan dengan kecerdasan yang dimiliki para siswa Pik. mengambil contoh yang tadi, aku pintar matematika maka aku mendapatkan soal yang keseluruhnya berhubungan dengan matematika. Sedangkan kamu yang pintar dalam menggambar (seni), juga mendapatkan soal ujian yang berhubungan dengan seni. Begitu seharunya.” Tambah Uplet.
“Benar juga yang kamu katakana ya Plet. Tumben-tumbenan otakmu lancar begitu. Baru tahu aku. hahaha.” Ledek Upik.
“Makanya jadi orang jangan hanya membaca Koran saja. Tapi bertindak dong. Masak kalah sama kebo!” balas Uplet.
“Hahahaha, asu kowe Plet.” [the end]
Itu adalah sedikit celethuk dari pojok desa yang diwakili oleh Upik dan Uplet. Bagaimana kalian menanggapi UN? Tak perlu kalian jawab. Tapi yang jelas, apapun namanya kalau kita berfikir postitif pasti semua ada hikmah di balik setiap kejadian. Tak terkecuali Ujian Nasional. Dan semoga kelulusan kelas XII tahun ini, tak tercoreng dengan tindakan-tindakan yang seharusnya tak perlu. [] masupik
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger