Home » , , , » Amplop Pak Kyai

Amplop Pak Kyai

Written By Hakim on 22/05/14 | 08.01



Aku seorang anak pesantren. Hampir selama 5 tahun aku bergeliat di dunia pesantren sebagai santri. Meski prestasiku sebagai santri tak begitu gemilang dengan berbagai keahlian seperti: membaca kitab, hafal ayat Al Quran, atau pandai dalam ilmu alat (Nahwu dan Sorof). Namun hormatku pada pengasuh (baca: kyai) sama dengan hormatku pada kedua orang tuaku.
Namun, belakangan ini hormat yang selama ini kupegang teguh, agaknya mulai sedikit goyah. Entah kalian menyebutku sebagai santri durhaka, atau apa saja, silakan. Yang jelas saat ini fikiranku sedikit terganggu dengan satu hal ini.
Satu pertanyaan buat kalian. Kalian semua tanpa terkecuali: apakah di daerah kalian mendatangakan seorang kyai untuk sekedar memberikan tausiyah keagamaan? Ada yang pernah dan ada yang tidak pernah. Sejenak kita lupakan jawaban yang tidak pernah. Untuk kalian yang daerahnya pernah mendatangkan seorang kyai, pemuka agama, atau ustad. Apakah setiap kali acara selesai panitia penyelenggara memberikan sebuah amplop untuk pak kyai? Atau begini, semisal kalian adalah seorang santri. Kemudian saat lebaran keluarga kalian berencana bertamu ke rumah kyai dimana kamu menjadi santrinya. Lantas setelah bertamu orang tua kalian memberikan amplop kepada kyai. Apakah pernah? Jika jawaban kalian pernah, coba mari kita pikirkan kembali hal tersebut. Dan tentunya tanpa mengurangi derajat kyai.
Pernah saat itu, keluargaku menyempatkan bertamu ke rumah kyai pondok dimana aku menjadi seorang santri. Setelah proses silaturahim selesai, orang tuaku memberikan amplop putih kepada kyaiku. Aku hanya terdiam dan berfikir “Apa isi dari amplop putih dengan ukuran lumayan besar itu?” Dan kami sekeluarga langsung melanjutkan perjalanan yang saat itu akan ke Semarang.
Kini pertanyaan yang hampir sama teringat kembali. “Seorang kyai menerima amplop?” terkesan memberikan tarif. Dan aku sendiri tak tahu mengapa kebanyakan orang yang sengaja sowan ke kyai selalu membawa amplop. Padahal kondisi keuangan orang tersebut juga sedang susah, tapi malah memberikan amplop pada kyai. Dan kyaipun menerimanya. Atas dasar apa pemberian amplop ini dan atas dasar apa sang kyai menerima amplop tersebut.
Bahkan kalau orang melihatnya terkesan menurunkan derajat dari sang kyai tersebut. Dan untuk orang yang memberi amplop. Mereka memiliki keyakinan bahwa bisa membuat kyai merasa bungah semakin banyak pula barokah yang kita peroleh. Apa memang tak ada jalan lain membuat seorang kyai merasa bungah? Atau apakah barokah itu hanya bisa kita dapatkan dari sosok seorang kyai? Masih banyak pertanyaan yang membuatku gelisah. Masih banyak pertanyaan yang membuatku merasa resah, resah apakah memang benar ini ajaran islam? Ataukah ini adalah hanya sebuah tradisi yang kita telan mentah-mentah?
Kalau dengan adanya tulisan ini menjadikan kalian memandangku sebelah mata. Tak apa. Atau kalian menganggapku durhaka terhadap kyai? Atau kalian menganggapku bukan ahlu sunnah wal jamaah? Itu terserah.
Dan kuberitahu pada kalian semua. Aku bukan termasuk ahli sunnah wal jamaah, bukan NU, bukan Muhammadiyah, bukan juga wahabi. Tapi aku adalah golongan yang tak selamat, seperti yang dikatakan nabi. Karena dengan masuk ke golongan itu aku bisa memperbaiki diri dan terus m emperbaiki diri. Dan mempertanyakan segala tradisi islam yang menurutku terlalu dilebih-lebihkan oleh sebagian bahkan kebanyakan orang. [] masupik
Share this article :

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Mb Bhetari, maaf ni ya. saya pribadi malah kurang paham dengan yang anda katakan. tapi terima kasih sudah berkunjung. :)

    BalasHapus

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger