Home » , , » UPIK-UPLET | Montor-Montoran Soko Lempung

UPIK-UPLET | Montor-Montoran Soko Lempung

Written By Hakim on 20/05/14 | 08.18



SIAPA di antara kalian yang pernah menjadi anak kecil? Pastinya semua mengacungkan jari sebagai tanda dirinya pernah mencicipi usia dini. Dan kalaupun pertanyaan konyol tadi tak disebutkan, semua orang juga sudah tahu kalau kita sebelum menjadi besar dan tua, pernah merasakan yang namanya menjadi anak-anak.
Anak-anak identik dengan berbagai macam permainan. Dari permainan tradisional seperti kelereng sampai permainan modern seperti kelereng yang dimainkan di gadget. (hehehe) Lantas permasalahannya ketika ada wacana mengenai mainan yang beredar di Indonesia harus berstandar nasional Indonesia (SNI). Bahkan wacana ini sudah berjalan sejak  30 April 2014 yang lalu. Lantas bagaimana komentar “ceplas-ceplos” Upik dan Uplet mengenai Standar pada mainan tersebut? Mari kita simak.
            ~~~
“Pik, dari mana kamu? Dicariin dari pagi gak terlihat batang hidungnya.” Sapa Uplet.
Lho tumben-tumbenan kamu nyariin aku Plet. Ada perlu apa toh? Tapi sek-sek, kalau melihat gelagatmu seperti ini biasanya ada hal serius yang ingin kamu diskusikan denganku. Iya toh?” jawab Upik pada saudaranya yang terlihat bingung.
Kon ngerti wae yen aku lagi bingung. Begini lho Pik. Barusan tadi aku membaca berita di Kompas.com mengenai dolanane cah cilik kudu SNI.
Weleh-weleh, koyok helm wae, SNI.”
”Sek leh, rungokno sek. Diberlakukannya standar buat mainan anak, karena ternyata banyak bahan berbahaya yang selama ini digunakan oleh produsen mainan anak sebagai bahan baku. Dan tujuan pemerintah memberlakukan standar itu karena ingin melindungi konsumennya, yang kebetulan anak-anak.”
Berhenti sejenak.
“Lantas, dampaknya bagi produsen mainan yang notabene adalah Industri Kecil dan Menengah (IKM), masih bingung mengenai perstandartan mainan tersebut.”
“Kalau bingung ya tinggal tanya saja toh Plet sama pemerintah. Gampang kan?” jawab Upik gurau.
“Iya mudah, tapi tidak semudah sing ono ning utekem.” Uplet sedikit emosi, karena dari tadi serius malah Upik menjawabnya dengan gurauan.
“Ojo nesu sek toh yo. Maksudnya mudah itu kan seperti ini. Kalau memang pemerintah sudah menetapkan semua mainan harus SNI, pastinya pemerintah juga sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk mempermudahkan para produsen untuk mengurus perijinannya kan Plet? Ya mungkin proses untuk bertanya langsung dengan pemerintah memang sulit, tapi kan tetap ada cara. Seperti mengadakan workshop untuk para produsen mainan.” Kata Upik tenang.
“Iya Pik, pemerintah memang sudah mengadakan workshop bagi para produsen mainan. Tapi masalahnya itu, banyak yang mengeluhkan kalau sosialisasi dari pemerintah itu kurang maksimal. Contohnya saja pemerintah tak menyebutkan bahan-bahan apa saja yang memang berbahaya sebagai bahan baku mainan anak, terus proses perijinan SNI juga hanya 6 bulan Pik, dari 30 April sampai 30 Oktober 2014. Dan kalau dalam kurun waktu 6 bulan tersebut belum memiliki SNI, maka mainan tersebut tidak boleh diperdagangkan. Kan kasian para produsen yang kurang tahu mengenai informasi tersebut. Jal piye pendapatmu?” tanya Uplet serius.
“Benar juga Plet omonganmu. Sek-sek tak mikir golek wangsit sek.”
“Wow, malah ngejak geger.” Kembali Uplet dibuat emosi dengan jawaban Upik.
“Nak menurutku koyok ngene Plet.” Upik memulai pembicaraannya. “Kalau memang semua mainan harus memiliki SNI itu sangat bagus, dari sudut pandang manapun itu bagus. Untuk pemerintah, kalau memang diwajibkan semua mainan harus SNI. Seharusnya pemerintah juga harus mensosialisasikan ke semua produsen mainan tanpa terkecuali. Dari produsen yang ada di kota besar sampai produsen yang ada di pelosok daerah. Jadi semua produsen tahu, kalau pemerintah membuat kebijakan seperti ini. Kemudian. untuk waktunya seharusnya ditambah lagi, jangan hanya 6 bulan. Sedangkan agar para produsen tidak bingung mengenai bahan-bahan apa saja yang membahayakan, pemerintah juga harus sudah menyiapkan daftar bahan yang tak boleh digunakan sebagai bahan baku mainan.”
“Terusno Pik.”
“Lagi pula peran IKM kan juga sebagai pembantu stabilitas ekonomi suatu Negara kan. Jadi kalau memang pemerintah tak mau para produsen bingung dan bisa menjadikan IKM tersebut tutup atau tak bisa memasarkan produknya. Harusnya ya sudah dipersiapkan semuanya. Sehingga perekonomian di Negara kita masih bisa berjalan. Apalagi kalau mainan tersebut bisa go International, tentunya Negara juga ikut untung kan dengan adanya pemasukan dari ekspor. Gitu Plet. Tapi sing tak bingungi lahpo kowe melu bingung? Kowe pengusaha dolanan yo gak, nduwe anak yo durung, lah dolananmu gek cilik yo gur montor-montoran soko lempung (mobil mainan dari tanah liat). Sing mbok bingungi apane?” Akhir penjelasan Upik dengan meledek Uplet.
“Ya aku kan juga manusia Pik. kita memikirkan nasib sesama manusia. Aku hanya mencoba membantu kebingungan para produsen mainan. Siapa tahu kebingunganku menemukan jawaban yang inovatif dan bisa terekspos media. Terkenal mendadak kan aku. hehehe.”
“Plet-plet, gambarmu kok dadi artis. Kono lho ndang moro sawah digoleki kebonem, kangen jarene.” Kembali Upik meledek Uplet.
“Woo, asu!!! Hehehe.”
Mereka pun tertawa terbahak-bahak dengan omongan mereka sendiri. Dan mereka kembali ber-aktifitas seperti biasanya.[the end]
Mereka berdua memang sosok orang desa yang mainan saat kecilnya hanya mobil-mobilan dari tanah liat, tapi itu lebih kreatif karena mereka bisa berimajinasi dengan bentuk apa yang akan mereka terapkan pada tanah liat yang lembek terkena air dan mengeras ketika kering. Dan semoga dengan SNI tersebut anak-anak tak kehilangan mainannya dan masa kanak-kanak yang penuh dengan pemikiran-pemikiran polos. [] masupik
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger