SIAPA di antara kalian yang pernah menjadi anak kecil? Pastinya
semua mengacungkan jari sebagai tanda dirinya pernah mencicipi usia dini. Dan
kalaupun pertanyaan konyol tadi tak disebutkan, semua orang juga sudah tahu
kalau kita sebelum menjadi besar dan tua, pernah merasakan yang namanya menjadi
anak-anak.
Anak-anak identik dengan berbagai macam permainan. Dari permainan
tradisional seperti kelereng sampai permainan modern seperti kelereng yang
dimainkan di gadget. (hehehe) Lantas permasalahannya ketika ada wacana mengenai
mainan yang beredar di Indonesia harus berstandar nasional Indonesia (SNI).
Bahkan wacana ini sudah berjalan sejak
30 April 2014 yang lalu. Lantas bagaimana komentar “ceplas-ceplos” Upik
dan Uplet mengenai Standar pada mainan tersebut? Mari kita simak.
~~~
“Pik, dari mana kamu? Dicariin dari pagi gak terlihat batang
hidungnya.” Sapa Uplet.
“Lho tumben-tumbenan kamu nyariin aku Plet. Ada perlu apa toh?
Tapi sek-sek, kalau melihat gelagatmu seperti ini biasanya ada hal
serius yang ingin kamu diskusikan denganku. Iya toh?” jawab Upik pada
saudaranya yang terlihat bingung.
“Kon ngerti wae yen aku lagi bingung. Begini lho Pik.
Barusan tadi aku membaca berita di Kompas.com mengenai dolanane cah cilik
kudu SNI.”
“Weleh-weleh, koyok helm wae, SNI.”
”Sek leh, rungokno sek. Diberlakukannya standar buat mainan anak, karena ternyata banyak
bahan berbahaya yang selama ini digunakan oleh produsen mainan anak sebagai
bahan baku. Dan tujuan pemerintah memberlakukan standar itu karena ingin
melindungi konsumennya, yang kebetulan anak-anak.”
Berhenti sejenak.
“Lantas, dampaknya bagi produsen mainan yang notabene adalah
Industri Kecil dan Menengah (IKM), masih bingung mengenai perstandartan mainan
tersebut.”
“Kalau bingung ya tinggal tanya saja toh Plet sama
pemerintah. Gampang kan?” jawab Upik gurau.
“Iya mudah, tapi tidak semudah sing ono ning utekem.” Uplet
sedikit emosi, karena dari tadi serius malah Upik menjawabnya dengan gurauan.
“Ojo nesu sek toh yo. Maksudnya mudah itu kan seperti ini. Kalau memang pemerintah sudah
menetapkan semua mainan harus SNI, pastinya pemerintah juga sudah menyiapkan
segala sesuatunya untuk mempermudahkan para produsen untuk mengurus
perijinannya kan Plet? Ya mungkin proses untuk bertanya langsung dengan
pemerintah memang sulit, tapi kan tetap ada cara. Seperti mengadakan workshop
untuk para produsen mainan.” Kata Upik tenang.
“Iya Pik, pemerintah memang sudah mengadakan workshop bagi para
produsen mainan. Tapi masalahnya itu, banyak yang mengeluhkan kalau sosialisasi
dari pemerintah itu kurang maksimal. Contohnya saja pemerintah tak menyebutkan
bahan-bahan apa saja yang memang berbahaya sebagai bahan baku mainan anak,
terus proses perijinan SNI juga hanya 6 bulan Pik, dari 30 April sampai 30
Oktober 2014. Dan kalau dalam kurun waktu 6 bulan tersebut belum memiliki SNI,
maka mainan tersebut tidak boleh diperdagangkan. Kan kasian para produsen yang
kurang tahu mengenai informasi tersebut. Jal piye pendapatmu?” tanya
Uplet serius.
“Benar juga Plet omonganmu. Sek-sek tak mikir golek wangsit sek.”
“Wow, malah ngejak geger.” Kembali Uplet dibuat emosi dengan jawaban Upik.
“Nak menurutku koyok ngene Plet.” Upik memulai pembicaraannya. “Kalau
memang semua mainan harus memiliki SNI itu sangat bagus, dari sudut pandang
manapun itu bagus. Untuk pemerintah, kalau memang diwajibkan semua mainan harus
SNI. Seharusnya pemerintah juga harus mensosialisasikan ke semua produsen
mainan tanpa terkecuali. Dari produsen yang ada di kota besar sampai produsen yang
ada di pelosok daerah. Jadi semua produsen tahu, kalau pemerintah membuat
kebijakan seperti ini. Kemudian. untuk waktunya seharusnya ditambah lagi,
jangan hanya 6 bulan. Sedangkan agar para produsen tidak bingung mengenai
bahan-bahan apa saja yang membahayakan, pemerintah juga harus sudah menyiapkan
daftar bahan yang tak boleh digunakan sebagai bahan baku mainan.”
“Terusno Pik.”
“Lagi pula peran IKM kan juga sebagai pembantu stabilitas ekonomi
suatu Negara kan. Jadi kalau memang pemerintah tak mau para produsen bingung
dan bisa menjadikan IKM tersebut tutup atau tak bisa memasarkan produknya.
Harusnya ya sudah dipersiapkan semuanya. Sehingga perekonomian di Negara kita
masih bisa berjalan. Apalagi kalau mainan tersebut bisa go International,
tentunya Negara juga ikut untung kan dengan adanya pemasukan dari ekspor. Gitu
Plet. Tapi sing tak bingungi lahpo kowe melu bingung? Kowe pengusaha dolanan
yo gak, nduwe anak yo durung, lah dolananmu gek cilik yo gur montor-montoran
soko lempung (mobil mainan dari tanah liat). Sing mbok bingungi apane?”
Akhir penjelasan Upik dengan meledek Uplet.
“Ya aku kan juga manusia Pik. kita memikirkan nasib sesama manusia.
Aku hanya mencoba membantu kebingungan para produsen mainan. Siapa tahu
kebingunganku menemukan jawaban yang inovatif dan bisa terekspos media.
Terkenal mendadak kan aku. hehehe.”
“Plet-plet, gambarmu kok dadi artis. Kono lho ndang moro sawah
digoleki kebonem, kangen jarene.” Kembali Upik meledek Uplet.
“Woo, asu!!! Hehehe.”
Mereka pun tertawa terbahak-bahak dengan omongan mereka sendiri.
Dan mereka kembali ber-aktifitas seperti biasanya.[the end]
Mereka berdua memang sosok orang desa yang mainan saat kecilnya
hanya mobil-mobilan dari tanah liat, tapi itu lebih kreatif karena mereka bisa
berimajinasi dengan bentuk apa yang akan mereka terapkan pada tanah liat yang
lembek terkena air dan mengeras ketika kering. Dan semoga dengan SNI tersebut
anak-anak tak kehilangan mainannya dan masa kanak-kanak yang penuh dengan
pemikiran-pemikiran polos. [] masupik
0 komentar:
Posting Komentar
Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))