SIAPA dari kalian yang pernah merokok? Atau memang pecandu rokok? Kalau
ada di antara kalian yang pernah merokok dan akan merokok serta yang mau
menghentikan kecanduan dengan rokok, ada baiknya membaca pemikiran “ceplas-ceplos”
Upik dan Uplet berikut.
~~~
Pagi itu Upik dengan gaya cendikiawannya sedang membolak-balik Koran
yang baru beberapa hari yang lalu berlangganan. Ditemani kopi hitam serta
sebungkus rokok, dibacanya Koran itu. Dicarinya berita yang menurutnya menarik
dan dia menyukainya. Sampai-sampai mata Upik melihat satu judul berita di
halaman Koran itu. “Tutup Dua Pabrik, PT HM Sampoerna PHK 4.900 Karyawan”,
itulah judul berita yang mengagetkan Upik sampai-sampai abu rokok yang sudah
panjang jatuh di atas korannya.
“Weleh-weleh, ini akibat dibungkus rokok ada peringatan ‘Rokok
Membunuh’ jadinya pabrik rokok ditutup.” Ucap Upik melihat judul berita itu.
“Plet, Uplet. Kesini, aku mau tanya sesuatu sama kamu.” Panggil Upik
pada Uplet.
“Sek-sek, baru selesai mandi, pakai baju dulu.” Teriak Uplet
dari dalam kamarnya.
Tak begitu lama Uplet yang sudah mbois keluar menemui Upik
yang sedari tadi sibuk membaca berulang-ulang berita tentang PHK tadi.
“Ada apa Pik? Kelihatannya kok penting?”
“Iki lho Plet. Lihat berita ini, lihat! Amati dan cermati
setiap kata-katanya.”
“Siap, laksanakan.” Teriak Uplet dengan nada tegas seperti pemimpin
upacara.
“Tutup Dua Pabrik, PT HM Sampoerna PHK 4.900 Karyawan.” Baca Uplet
keras-keras agar Upik mendengarnya.
“Pik.... Pik…, berita yang sangat bagus. Dengan begini udara di
atmosfer terbebas dari asap rokok. Dari nikotin, dari zat Adiktif, dari
tembakau, cengkeh, dan bahan kimia yang ada di rokok. Bagus sekali yang
dilakukan Sampoerna.” Jelas Uplet panjang.
“Matamu soak! Itu berita buruk Plet. Ini pasti gara-gara
gerakan anti asap rokok yang sering digembar-gemborkan. Jadinya orang-orang
yang awalnya merokok jadi berhenti. Akibatnya ya tadi. Pabrik berhenti produksi
rokok karena rokok di pasar tak ada yang membeli.” Berhenti sejenak.
“Kalau pabrik sudah tak memproduksi pastinya yang terjadi PHK. Dan imbasnya
bagi Negara. Devisa dari rokok turun. Ora entuk opo-opo, buyar negarane.”
Lanjut Upik dengan pemikiran klasiknya.
“Iku menurutem Pik, mulane dadi wong ojo kuno. Bacaanmu saja
Koran seperti anggota DPR tapi otakmu kayak kebo di sawah yang dipakai
membajak. Gur atut sing njalakno.” Ledek Uplet.
“Wow…. Asu kowe.” Reaksi Upik tak terima disamakan dengan
kerbau.
“Kalau membaca Koran harus sampai selesai. Di halaman selanjutnya
dijelaskan kalau PT HM Sampoerna akan membekali 4.900 karyawan yang di PHK tadi
dengan ketrampilan. Jadi dia bisa mencari pekerjaan yang lainnya.”
Lanjut Uplet, “Kalau untuk devisa Negara itu juga bukan semua dari
rokok. Ada yang dari barang-barang Import
yang masuk ke Indonesia, dari TKI dan TKW yang bekerja di luar negeri. Meskipun
memang sebagian besar dari cukai rokok.”
“Lha kowe yo setuju ngono. Wes lah, nang Indonesia nak durung
iso nggolek devisa sak liyane ko rokok yo ajur negoro iki. Dedel duel pokoke.”
Sahut Upik.
“Ya jangan berfikir seperti itu dulu. Itulah PR buat pemerintah dan
masyarakat seperti kita-kita Pik. Kita harus mampu menjadi seorang pengusaha,
dengan menjadi pengusaha kita rekut mereka yang tak memiliki pekerjaan. Dan pemerintah
membantu para pengusaha dalam mencari modal. Dan untuk masyarakat yang bertugas
dalam ekonomi sebagai konsumen, harusnya jangan terlalu bangga menggunakan
produk impor. Tapi banggalah kalau memakai produl lokal yang bisa go
internasional.” Berhenti sejenak.
“Jadi semua itu sudah diatur Pik. Contohnya saja kemarin. Setiap kali
hari buruh, pastinya para buruh meminta kenaikan upah, tapi mereka tak mau
memikirkan perusahaan tempat dia bekerja.”
“Mikir perusahaan gimana Plet. Lha sudah bekerja kok
masih disuruh mikir perusahaan/pabrik. Gliyengan dadine.í”Celetuk
Upik memotong penjelasan Uplet.
“Sek ah, mulane rungokno sek. Maksud saya memikirkan
perusahaan/pabrik itu seperti ini Pik. Kalau kita menuntut perusahaan untuk
terus menaikkan upah kita setiap tahunnya. Pasti para investor tak mau membuang
uangnya ke Indonesia. Mereka akan lebih memilih mambuang uang mereka ke Negara lainnya
toh. Akibatnya para pengusaha banyak yang menutup usaha mereka.
akibatnya lagi, banyak pengangguran, dan akibatnya lagi banyak kejahatan, dan
akibatnya lagi Negara kita akan terus seperti ini. Jadi intinya sama-sama
masyarakat Indonesia, sama-sama harus bisa mawas diri dan jangan menyalahkan
sepihak. Ngono ndes.” Uplet yang mengakhiri penjelasan panjangnya.
“PIk… wow asu, malah turu.” Uplet yan jengkel pada Upik. Ternyata
sedari tadi saat Uplet menjelaskan panjang lebar si Upik malah keasyikan
mendengar penjelasannya sampai tertidur.
Dan Upletpun meninggalkan Upik seorang diri di teras rumah,
sedangkan dia kembali bermain dengan Flappy Bird di gadgetnya. [the end]
Demikian sedikit pemikiran “ceplas-ceplos” Upik dan Uplet. Ada kurang
lebihnya kami meminta maaf dan berterima kasih. Semoga anda yang bijak bisa
mamahaminya. Salam Upik-Uplet. [] masupik
0 komentar:
Posting Komentar
Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))