AKHIR-AKHIR ini banyak yang mengeluhkan mengenai cuaca yang tak menentu. Siang hari panas yang sangat, sedangkan menginjak malam gerimis sampai hujan lebat. Tak bisa diprediksi, dan itulah alam. Lantas bagaimana komentar “ceplas-ceplos”nya Upik dan Uplet mengenai fenomena ini?. Check it out.
~~~
“Plet… Uplet… Endi ES sing jare mbok gawekno? Panase ra pakat
ngene. Duh Gusti, ngapuro dosonipun mahkluke Jenengan. Salah nopo kok Jenengan
maringi panas kados ngeten.” Keluh Upik menanti minuman dingin yang dijanjikan
Uplet.
“Halah Pik... Pik… Lagi panas koyo mengkene wae sambatem koyok
cacing nang oven. Iki lho ES mu, ndang ombenen. Ojo lali moco dongo.” Nasehat
Uplet pada Upik.
“Tapi memang benar apa yang kamu bilang tadi Pik. Akhir-akhir ini
panasnya bukan main. Siang panas menyengat, malam dingin menggigil. Siang
matahari terik, malam hujan mengguyur. Sungguh aneh dunia ini.” Sahut Uplet
membenarkan omongan Upik.
“Iki mboh pancen musibah, mboh pancen Gusti Pengeran nyobo kito
makhluke.” Tambah Uplet.
“Kamu kemana aja Plet, baru sadar kalau akhir-akhir ini cuaca
memang sedang labil. Mungkin kalau diibaratkan orang, cuaca sedang galau
mungkin ya? Hahaha.”
“Hahaha, ono-ono wae kowe Pik. Semisal cuaca perempuan dan
cantik, tak jadiin istri Pik. tak elus-elus angger bengi, tak sayang-sayang,
tak rumati, tak ragati. Ben gak galau koyok omonganmu mau”
Kedua orang ini tertawa terbahak-bahak seperti sedang melihat
adegan lucu di mata mereka.
Upik yang sedari tadi membawa Koran, mencoba membuka Koran
langganannya itu. Dia melihat salah satu judul berita yang sepertinya pantas
dibahas saat matahari terik siang itu.
“Plet, tak wacakno apik.”
“Ada apa Pik? sepertinya kok seru.”
“Rungokno sek.”
Upik membacakan berita yang dibacanya untuk Uplet keras-keras saat
itu.
“KOMPAS.com – Musim kemarau tahun 2014 berpotensi lebih
kering dan lebih panjang dari tahun sebelumnya. Penyebabnya adalah El Nino,
fenomena naiknya suhu muka laut di Samudra Pasifik yang memengaruhi pembentukan
awan dan curah hujan di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia.”
“Walah,musim ketigo sesok bakal suwi Pik. Sawahe bapak iso-iso
garing. Lemahe mletek-mletek, gak iso panen, gak nduwe duwek. Ora mangan kene
Pik.” Uplet yang ketakutan
mendengar berita yang dibacakan Upik barusan.
“Sudah jangan berfikiran negatif dulu. Itukan belum pasti Plet.
Diberitanya saja tadi disebutkan ‘berpotensi lebih kering dan panjang’, yang
artinya ada potensi juga untuk lebih pendek. Positive thinking sajalah. Toh
kita juga tidak berpusing-pusing membuat kamarau kan? Kita cuman harus
melewati musim kemarau, yang biasanya keadaan pada musim kemarau sangat berat
dijalani.” Kata Upik bijak kala itu.
Hening sejenak.
“Makanya, sekarang kita syukuri saja. Siang hari panas malam hari
hujan. Siang kita ditugaskan untuk bekerja, sehingga siang hari Pengeran memberi
kita panas. Dan malam kita diberi hujan. Setelah seharian berpanas ria,
malamnya kita disegarkan dengan air hujan.” Lanjut Upik yang hari itu penuh
kata-kata bijak.
“Wih, asu tenan kowe Pik. Bosonem koyok wong sing gak tau sambat.” Ledek Uplet.
“Hahaha… Ya bukannya aku tidak pernah mengeluh. Mengeluh itu sifat
alaminya manusia. Jadi wajar kalau manusia mengeluh, tapi kalau mengeluh juga
harus wajar. Jangan menstereo type Pengeran. Sedikit-sedikit bilang
Tuhan tidak adil, sedikit-sedikit bilang Tuhan jahat. Kalau mengeluhnya begitu,
itu bukan mengeluh namanya. Tapi manusia picik.”
Lanjut Upik. “Coba fikirkan Plet, bisa saja kan Pengeran membalik
keadaan ini. Sekarang masih ada hujan. Tapi tiba-tiba musim kemarau datang
lebih cepat dan lama. Kita masih untung musim kemaru hanya 6 bulan. Coba
bayangkan kalau musim kemarau sampai 1 tahun, 2 tahun. Bisa-bisa kita pindah
agama gara-gara Pengeran membuat kamarau panjang.”
“Benar juga Pik ucapanmu. Pengeran masih sangat menyanyangi
makhluknya. Buktinya saja kita semua masih diberi hujan di malam hari, ketika
seharian panas menyengat. Astagfirullah, nyebut-nyebut.” Tambah Uplet
dengan penuh pemikiran bijak.
Kedua sahabat ini hanya bisa termenung memikirkan perkataan mereka
sebelum-sebelumnya. Mereka tak habis fikir, setan apa yang telah merasuki
mereka sehingga bisa berkata seperti di awal-awal tadi. Dan percakapan keduanya
selesai dengan habisnya ES yang tadi dibuat Uplet. [the end]
Sekian komentar “ceplas-ceplos” Upik dan Uplet. Semoga apa yang dikatakan
Upik dan Uplet bisa membuat kita semakin tahu, kalau sebenarnya Tuhan sangat
menyayangi kita. [] masupik
0 komentar:
Posting Komentar
Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))