Home » , , » UPIK-UPLET | El Nino

UPIK-UPLET | El Nino

Written By Hakim on 18/05/14 | 05.09


AKHIR-AKHIR ini banyak yang mengeluhkan mengenai cuaca yang tak menentu. Siang hari panas yang sangat, sedangkan menginjak malam gerimis sampai hujan lebat. Tak bisa diprediksi, dan itulah alam. Lantas bagaimana komentar “ceplas-ceplos”nya Upik dan Uplet mengenai fenomena ini?. Check it out.
~~~
“Plet… Uplet… Endi ES sing jare mbok gawekno? Panase ra pakat ngene. Duh Gusti, ngapuro dosonipun mahkluke Jenengan. Salah nopo kok Jenengan maringi panas kados ngeten.” Keluh Upik menanti minuman dingin yang dijanjikan Uplet.
Halah Pik... Pik… Lagi panas koyo mengkene wae sambatem koyok cacing nang oven. Iki lho ES mu, ndang ombenen. Ojo lali moco dongo.” Nasehat Uplet pada Upik.
“Tapi memang benar apa yang kamu bilang tadi Pik. Akhir-akhir ini panasnya bukan main. Siang panas menyengat, malam dingin menggigil. Siang matahari terik, malam hujan mengguyur. Sungguh aneh dunia ini.” Sahut Uplet membenarkan omongan Upik.
Iki mboh pancen musibah, mboh pancen Gusti Pengeran nyobo kito makhluke.” Tambah Uplet.
“Kamu kemana aja Plet, baru sadar kalau akhir-akhir ini cuaca memang sedang labil. Mungkin kalau diibaratkan orang, cuaca sedang galau mungkin ya? Hahaha.”
“Hahaha, ono-ono wae kowe Pik. Semisal cuaca perempuan dan cantik, tak jadiin istri Pik. tak elus-elus angger bengi, tak sayang-sayang, tak rumati, tak ragati. Ben gak galau koyok omonganmu mau”
Kedua orang ini tertawa terbahak-bahak seperti sedang melihat adegan lucu di mata mereka.
Upik yang sedari tadi membawa Koran, mencoba membuka Koran langganannya itu. Dia melihat salah satu judul berita yang sepertinya pantas dibahas saat matahari terik siang itu.
“Plet, tak wacakno apik.”
“Ada apa Pik? sepertinya kok seru.”
“Rungokno sek.”
Upik membacakan berita yang dibacanya untuk Uplet keras-keras saat itu.
KOMPAS.com – Musim kemarau tahun 2014 berpotensi lebih kering dan lebih panjang dari tahun sebelumnya. Penyebabnya adalah El Nino, fenomena naiknya suhu muka laut di Samudra Pasifik yang memengaruhi pembentukan awan dan curah hujan di berbagai wilayah, termasuk di Indonesia.”
“Walah,musim ketigo sesok bakal suwi Pik. Sawahe bapak iso-iso garing. Lemahe mletek-mletek, gak iso panen, gak nduwe duwek. Ora mangan kene Pik.” Uplet yang ketakutan mendengar berita yang dibacakan Upik barusan.
“Sudah jangan berfikiran negatif dulu. Itukan belum pasti Plet. Diberitanya saja tadi disebutkan ‘berpotensi lebih kering dan panjang’, yang artinya ada potensi juga untuk lebih pendek. Positive thinking sajalah. Toh kita juga tidak berpusing-pusing membuat kamarau kan? Kita cuman harus melewati musim kemarau, yang biasanya keadaan pada musim kemarau sangat berat dijalani.” Kata Upik bijak kala itu.
Hening sejenak.
“Makanya, sekarang kita syukuri saja. Siang hari panas malam hari hujan. Siang kita ditugaskan untuk bekerja, sehingga siang hari Pengeran memberi kita panas. Dan malam kita diberi hujan. Setelah seharian berpanas ria, malamnya kita disegarkan dengan air hujan.” Lanjut Upik yang hari itu penuh kata-kata bijak.
“Wih, asu tenan kowe Pik. Bosonem koyok wong sing gak tau sambat.” Ledek Uplet.
“Hahaha… Ya bukannya aku tidak pernah mengeluh. Mengeluh itu sifat alaminya manusia. Jadi wajar kalau manusia mengeluh, tapi kalau mengeluh juga harus wajar. Jangan menstereo type Pengeran. Sedikit-sedikit bilang Tuhan tidak adil, sedikit-sedikit bilang Tuhan jahat. Kalau mengeluhnya begitu, itu bukan mengeluh namanya. Tapi manusia picik.”
Lanjut Upik. “Coba fikirkan Plet, bisa saja kan Pengeran membalik keadaan ini. Sekarang masih ada hujan. Tapi tiba-tiba musim kemarau datang lebih cepat dan lama. Kita masih untung musim kemaru hanya 6 bulan. Coba bayangkan kalau musim kemarau sampai 1 tahun, 2 tahun. Bisa-bisa kita pindah agama gara-gara Pengeran membuat kamarau panjang.”
“Benar juga Pik ucapanmu. Pengeran masih sangat menyanyangi makhluknya. Buktinya saja kita semua masih diberi hujan di malam hari, ketika seharian panas menyengat. Astagfirullah, nyebut-nyebut.” Tambah Uplet dengan penuh pemikiran bijak.
Kedua sahabat ini hanya bisa termenung memikirkan perkataan mereka sebelum-sebelumnya. Mereka tak habis fikir, setan apa yang telah merasuki mereka sehingga bisa berkata seperti di awal-awal tadi. Dan percakapan keduanya selesai dengan habisnya ES yang tadi dibuat Uplet. [the end]
Sekian komentar “ceplas-ceplos” Upik dan Uplet. Semoga apa yang dikatakan Upik dan Uplet bisa membuat kita semakin tahu, kalau sebenarnya Tuhan sangat menyayangi kita. [] masupik

Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger