“Astagfirullah. Mimpi apa aku tadi?” sontak Anton terbangun dari tidur lelapnya malam itu.
Jam dinding masih menunjukkan pukul 02.15 WIB itu berarti Anton
baru tidur selama 2 jam. Dan kini dia harus terbangun dari tidurnya karena
mimpinya.
“Mimpi yang aneh. Semoga hanya mimpi dan tak berarti apa-apa.” Ucap
Anton dan kembali meneruskan tidurnya.
~~~
Anton, sosok remaja yang hampir menginjak dewasa ini kini harus
tinggal jauh, sejauh-jauhnya dari kedua orang tuanya. Tak tanggung-tanggung
Kalimantan kini sebagai pulau pijakannya. Anton yang sudah terbiasa hidup jauh
dari orang tuanya mencoba peruntungannya di tanah Kalimantan. Dan hanya dia
satu-satunya anak dari orang tuanya yang tak pernah patuh dengan pilihan kedua
orang tuanya.
Benar saja, semenjak SMP Anton sudah sedikit berani dengan orang
tuanya. Berani di sini dalam hal memilih jalan hidupnya sendiri. kala itu orang
tuanya Anton ingin dia bersekolah di salah satu SMP negeri yang menjadi favorit
di kotanya. Tapi Anton malah menolak mentah-mentah. Padahal di sekolah favorit
tersebut Anton bisa bersekolah tanpa biaya karena prestasinya yang cukup bagus.
Di bersekolah di SMP swasta yang letaknya kebetulan berdekatan dengan SMP
negeri pilihan orang tuanya tersebut. Entah bagaimana jalan fikiran Anton. Sejak
saat itu kedua orang tuanya sedikit terganggu dengan pemikiran Anton.
Kemudian selesai tamat SMP. Orang tuanya kembali harus menerima
tolakan mentah-mentah untuk kedua kalianya dari Anton. Saat itu orang tuanya
ingin Anton bisa mengenyam pendidikan SMK. Namun Anton malah melanjutkan di
salah satu SMA yang sama sekali tak terfikirkan oleh kedua orang tuanya. Belum
selesai sampai disitu. Saat hendak memilih perguruan tinggi kembali untuk
ketiga kalinya Anton menolak permintaan orang tuanya. Dan kembali memilih
tempat kuliah yang tak pernah terfikirkan sebelumnya. Itulah sedikit gambaran
siapa Anton.
Kini Anton mungkin menerima efek samping dari tolakannya dulu-dulu.
Kuliahnya berhenti, hanya bisa sampai semester 3. Bukan karena di D.O. dari
kampusnya. Tapi karena Anton sendiri bosan dengan kuliahnya. Jadi dia
memutuskan untu menunda kuliahnya 1 tahun lagi. Dan tanpa terfikirkan oleh
orang tuanya lagi. Kini Anton di Kalimantan. Pulau yang sama sekali tak ada
sanak saudara yang bisa ditumpangi untuk sekedar makan kalau tak punya uang.
Dan orang tua Anton hanya bisa mengelus dada melihat tindakan Anton sekarang.
Pasalnya, Anton baru bilang pada orang tuanya kalau dia di Kalimantan setelah
beberapa waktu yang lalu orang tuanya mendapatkan surat dari pihak kampus.
Dari surat itu tertulis bahwa Anton sudah hampir 1 semester tak
hadir di kelas perkuliahan. Dan semenjak itulah baru orang tua Anton
menghubungi dia. Semenjak terakhir menghubungi lewat telpon saat Anton masih
semester 1.
Orang tua Anton bukan tak peduli dengannya. Setiap kali Anton butuh
uang sekedar untuk uang makan. Orang tuanya selalu menawarkan diri mengirimkan
sejumlah uang. Tapi balasan Anton saat itu hanya kata tidak perlu. “Biarlah
uang itu untuk adik-adik kelak. Anton masih bisa mencari uang sendiri.” itulah
perkataan Anton setiap kali orang tuanya menawarkan untuk mengirimkan uang
padanya.
Anton bukannya tak mau menerima uang pemberian orang tuanya. Bukan
karena dia banyak uang dan bukan karena orang tuanya juga perlu uang itu. ayah
Anton sebagai pengusaha kebun the dan ibunya juga sebagai pegawai dinas,
sangatlah tercukupi. Hanya saja Anton memikirkan adik-adiknya yang masih
sekolah. Meskipun dia sendiri juga bekerja tak tentu. Kadang setiap malam dia
tampak di salah satu warung makan pinggir jalan, kadang juga dia terlihat duduk
manis di depan layar komputer sebagai operator warnet. Namun itu hanya dalam
waktu singkat saja. Bahkan sebenarnya kuliah Anton sudah terlihat tak terurus
saat awal masuk perkuliahan. Namun dia masih sedikit menyempatkan waktunya
untuk sesekali mengikuti jadwal perkuliahan.
~~~
Di Kalimantan, Anton bekerja di sebuah proyek milik pemerintah
pusat untuk membuat sebuah komplek perumahan dinas di sana. Awalnya dia hanya
iseng bersama temannya untuk ikut paman dari temannya sebagai kuli dalam proyek
ini. Dan akhirnya proyek ini menjadi pekerjaannya, tentunya menjadi kuli
bangunan.
Selama di Kalimantan. Dia tinggal di rumah-rumah kecil yang
disediakan untuk para kuli. Bersama kuli lainnya Anton menghabiskan waktunya.
Mengenal orang Kalimantan, mengenal kehidupan kuli, dan mengenal kehidupan
orang yang hanya untuk mendapatkan uang 10 ribu rupiah saja harus berjuang
mati-matian.
Dalam mimpinya saat itu sebenarnya Anton bermimpi bertemu dengan
ibunya. Ibunya memanggil namanya beberapa kali. Dan kemudian menghilang suara
panggilan itu, dilanjutkan sosok ibunya yang juga menghilang. Karena mimpi
itulah Anton segera sadar bahwa dia harus segera pulang. Dan rencananya, 1
bulan ke depan Anton akan kembali meneruskan kuliahnya yang sempat tersendat.
Dengan upah yang diterimanya beberapa bulan lalu. Cukuplah untuk ongkos
perjalanan pulang dan untuk mengganti biaya perkuliahannya yang sempat
ditinggal itu. dan tentunya orang tuanya sudah menginginkan kembali anaknya
menginjakkan kakinya di tanah Jawa, tanah kelahirannya. [] masupik
0 komentar:
Posting Komentar
Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))