Aku seorang anak pesantren. Hampir selama 5 tahun aku bergeliat di
dunia pesantren sebagai santri. Meski prestasiku sebagai santri tak begitu
gemilang dengan berbagai keahlian seperti: membaca kitab, hafal ayat Al Quran,
atau pandai dalam ilmu alat (Nahwu dan Sorof). Namun hormatku pada pengasuh
(baca: kyai) sama dengan hormatku pada kedua orang tuaku.
Namun, belakangan ini hormat yang selama ini kupegang teguh,
agaknya mulai sedikit goyah. Entah kalian menyebutku sebagai santri durhaka,
atau apa saja, silakan. Yang jelas saat ini fikiranku sedikit terganggu dengan
satu hal ini.
Satu pertanyaan buat kalian. Kalian semua tanpa terkecuali: apakah
di daerah kalian mendatangakan seorang kyai untuk sekedar memberikan tausiyah
keagamaan? Ada yang pernah dan ada yang tidak pernah. Sejenak kita lupakan
jawaban yang tidak pernah. Untuk kalian yang daerahnya pernah mendatangkan
seorang kyai, pemuka agama, atau ustad. Apakah setiap kali acara selesai
panitia penyelenggara memberikan sebuah amplop untuk pak kyai? Atau begini,
semisal kalian adalah seorang santri. Kemudian saat lebaran keluarga kalian
berencana bertamu ke rumah kyai dimana kamu menjadi santrinya. Lantas setelah
bertamu orang tua kalian memberikan amplop kepada kyai. Apakah pernah? Jika
jawaban kalian pernah, coba mari kita pikirkan kembali hal tersebut. Dan
tentunya tanpa mengurangi derajat kyai.
Pernah saat itu, keluargaku menyempatkan bertamu ke rumah kyai
pondok dimana aku menjadi seorang santri. Setelah proses silaturahim selesai,
orang tuaku memberikan amplop putih kepada kyaiku. Aku hanya terdiam dan
berfikir “Apa isi dari amplop putih dengan ukuran lumayan besar itu?” Dan kami
sekeluarga langsung melanjutkan perjalanan yang saat itu akan ke Semarang.
Kini pertanyaan yang hampir sama teringat kembali. “Seorang kyai
menerima amplop?” terkesan memberikan tarif. Dan aku sendiri tak tahu mengapa
kebanyakan orang yang sengaja sowan ke kyai selalu membawa amplop.
Padahal kondisi keuangan orang tersebut juga sedang susah, tapi malah
memberikan amplop pada kyai. Dan kyaipun menerimanya. Atas dasar apa pemberian
amplop ini dan atas dasar apa sang kyai menerima amplop tersebut.
Bahkan kalau orang melihatnya terkesan menurunkan derajat dari sang
kyai tersebut. Dan untuk orang yang memberi amplop. Mereka memiliki keyakinan
bahwa bisa membuat kyai merasa bungah semakin banyak pula barokah yang
kita peroleh. Apa memang tak ada jalan lain membuat seorang kyai merasa bungah?
Atau apakah barokah itu hanya bisa kita dapatkan dari sosok seorang kyai? Masih
banyak pertanyaan yang membuatku gelisah. Masih banyak pertanyaan yang
membuatku merasa resah, resah apakah memang benar ini ajaran islam? Ataukah ini
adalah hanya sebuah tradisi yang kita telan mentah-mentah?
Kalau dengan adanya tulisan ini menjadikan kalian memandangku sebelah
mata. Tak apa. Atau kalian menganggapku durhaka terhadap kyai? Atau kalian
menganggapku bukan ahlu sunnah wal jamaah? Itu terserah.
Dan kuberitahu pada kalian semua. Aku bukan termasuk ahli sunnah
wal jamaah, bukan NU, bukan Muhammadiyah, bukan juga wahabi. Tapi aku adalah
golongan yang tak selamat, seperti yang dikatakan nabi. Karena dengan masuk ke
golongan itu aku bisa memperbaiki diri dan terus m emperbaiki diri. Dan
mempertanyakan segala tradisi islam yang menurutku terlalu dilebih-lebihkan oleh
sebagian bahkan kebanyakan orang. [] masupik
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMb Bhetari, maaf ni ya. saya pribadi malah kurang paham dengan yang anda katakan. tapi terima kasih sudah berkunjung. :)
BalasHapus