Home » , , , , , » 4 Tahun yang lalu

4 Tahun yang lalu

Written By Hakim on 02/05/13 | 15.27



“Dalam kesendirian menghadapi ruang dan waktu, yang setiap kali detik jam bergerak akan berkurang kehidupan ini. Dan itu pasti.”
Bertemu dengan seorang teman baru, menjalani kehidupan sehari-hari dengan teman yang sudah kita kenal. Bercanada ria, saling mengejek satu-sama lain agar suasana kaku berubah kendor. Dan tak jarang juga ejekan itu menjadikan pertengkarang. Itu biasa.
Namun satu yang harus disematkan dalam otak kita. Bahwa kita tak selamanya akan bersama sahabat kita. Bukan mati yang aku bicarakan. Hanya permasalahan dunia yang benar adanya dan itu terjadi.
Seingatku, baru kemarin aku meninggalkan rumah yang nyaman untuk melanjutkan pendidikanku. Dan baru kemarin rasanya aku mengenakan putih abu-abuku untuk pertama kali. Rasanya masih terlalu kebesaran aku pakai. Maklumlah, baju beli dari toko sehingga ukurannya tidak bisa sesuai dengan yang kita harapkan. Dan waktu itu hanya aku seorang yang mengenakan putih abu-abu khas anak SMA. Jangan-jangan aku salah masuk sekolah? Ah bukan, aku bukan saalah masuk sekolahan, hanya saja memang ini hari pertama masuk setelah MOPD. Jadi masih banyak teman-teman mengenakan pakaian SMP.
Meskipun kain pemberian dari sekolah telah aku terima. Namun aku jarang menggunakannya. Paling-paling hanya seragam identitas yang kupakai. Yang lainya serba dari toko baju yang menjual khusus seragam. Dari TK sampai SMA. Dan aku membeli baju seragam itu jauh-jauh hari sebelum MOPD dimulai.
Setelah MOPD selesai,pertama kali masuk aku tidak tepat waktu dan sebagai resikonya rumput-rumput liar siap menemaniku.
@@@@
Pagi itu ketika hendak pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi). Memang jatah kami untuk menggunakan Lab. Komputer yang tempatnya tepat sebelah ruang kelas kami. Biasanya kami sengaja tidak masuk kelas, tapi langsung masuk ke Lab. TIK.  Untuk apa, hanya untuk berebut komputer. Memang kami sekelas hanya 25 pasang kaki. Namun jumlah komputer yang tersedia sngguh memprihatinkan waktu itu. Satu komputer kebanyakan untuk 2anak.
Setalah ritual berdoa selesai. Tiba-tiba ada gadis cantik yang mendekatiku. Lina Eko Wulandari. Gadis desa yang spesial menurutku kala itu. Ketika MOPD kami memang satu kelompok. Namun sedikitpun aku tidak tertarik dengannya. Aku malah tertarik dengan sosok gadis bernama Ayu. Tapi hanya perasaan suka aja melihat kecantikan parasnya.
Lina panggilan akrabnya. Dia memberiku sebuah buku kecil berwarna hijau. Ada lobangnya berbentuk hati. Sambil mengatakan “ jangan dibaca dulu, baca nanti saja kalau sudah di pondok.” Aku hanya mengangguk tanpa ekspresi dan jawaban terucap dari mulutku.
Hari itu berakhir dengan sedikit rasa bahagia, ada seorang cewek yang tidak perlu ditanyakan kecantikannya. Sesuai pesan darinya, kubuka buku hijau kecil itu saat aku di pondok. Memang, demi kelangsungan hidupku yang tinggal jauh dari orang tua dan orang tuanya orang tua. Aku mondok di salah satu pondok pesantren yang jaraknya tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu jauh dengan sekolahan.
Kubuka buku hijau tersebut. Whooo… Ternyata ada rangkaian tulisan yang ada dalam buku hijau. Meskipun sudah tahu kalau akan ada banyak tulisan, namun isi dari tulisan ini malah membuatku semakin bingung untuk menentukan pilihan.
Okelah sejak mengenal dia, perasaan suka memang ada dan kuakui itu. Bahkan dia juga menunjukan respon yang positif menanggapi perasaanku kepadanya. Namun semenjak membaca pesan singkat nan padat lewat buku hijau yang diberikan kepadaku. Perasaanku jadi campur aduk. Antara iya atau tidak antara dia menanggapi atau tidak dan antara apakah dia mempunyai perasaan kepadaku apa tidak.
Pernah terjadi kala itu sekolah sedang mengadakan program untuk belajar di Pare Kediri. Desa yang akrab dengan sebuatan English Village itu, memang baru pertama aku akan menjamahnya. Dalam benakku, terbayang sebuah suasana perkotaan yang setiap lorong rumah dipenuhi dengan pembelajaran bahasa Inggris dan di setiap jalan akan dipenuhi dengan percakapan bahasa Inggris. Itu dalam fikiranku. Tapi ternyata yang beranggapan seperti itu bukan hanya aku saja, melainkan kami semua yang akan berangkat ke Pare.
Sehari sebelum hari pemberangkatan yang dijadwalkan akan berangkat pukul 05.00 WIB. Semua barang keperluan selama 3 minggu ke depan telah aku masukan ke dalam tas ukuran sedang. Meskipun hanya pinjam, namun sang pemilik tas juga ikut ke Pare. Dalam benakku, apakah yang aku bawa ini terlalu banyak? Kan cuman 3 minggu saja di sana.
Beranggapan bahwa teman-teman yang lain pastinya membawa barang yang tidak terlalu banyak.. akhirnya kuturunkan beberapa muatan yang sudah tertata rapi di tas warna coklat dengan garis bitu putih itu.
Oke semua perlengkapan dan persiapan telah sukses. Malamnya sebelum pagi pemberangkatan. Bercanda tawa dengan teman sekamar yang juga akan ikut ke Pare. Membahas tentang tempat menginap ketika di sana, bahasa yang akan digunakan karena apa? Guru bahasa Inggris kami mengatakan di Pare penjual nasi pecel saja menggunakan bahasa Inggris. Semenjak mengetahui hal tersebut aku dan mungkin teman-temanku juga beranggapan bakal tidak bisa menikmati pecel ketika di sana.
Meskipun mata seakan tidak bisa terpejam, tapi kami bertiga harus memaksakannya untuk memulihkan stamina dan semangat untuk berangkat esok pagi sekali.
Sabtu pagi, waktu telah menunjukan pukul 04.30 WIB. Segerahlah mandi mekipun hawa dingin kota Lasem menyelimuti kami bertiga. Setelah selesai, kami mengecek ulang barang bawaan kami. Barangkali ada sesuatu hal yang harusnya terbawa tapi karena saking senangnya akan ke Pare jadi terlupa.
Setelah kelar, kami sebelum meninggalkan tempat. Kami harus berpamitand engan si shohibul bait. Yak benar sekali, kami bertiga selama menuntut ilmu di kota Lasem ini bertinggal di sebuah pondok pesantren. Jadi ke mana pun kami melangkahkan kaki keluar gerbang, kami harus meminta ijin jalan terlebih dahulu. Apalagi ini bukan tempat yang dekat, dan waktunya juga cukup lama. Di Pare selama 3 minggu kurang sehari. Jadi selam permohonan surat jalan berlangsung genjatan pertanyaanpun harus kami jawab dari kyai.
Oke tak perlu menanyakan apa saja pertanyaan yang berahasil kami jawab. Untuk menuju lokasi parkir bus yang akan mengantarkan kami. Kami berjalan sepanjang kurang lebih 1000 meter.
Meskipun semangat kami bertiga sedang full charge namun kami tak bisa membohongi perut kami. Berdendangan ria, akhirnya kami mampir di sebuah warung pinggir jalan. Meski pagi itu hanya nasi pecel yang menjadi menu, tapi kami tak ada sedikitpun masalah dengan makanan apa yang masuk ke perut kami. Asal tidak beracun, busuk dan masih dalam standar kewajaran makanan manusia pasti bisa masuk dalam perut kami. Yang setiap harinya bertittle santri.
Perut kenyang, walaupun kami melahap nasi dengan keadaan terburu dengan waktu pemberangkatan.
Sampai di depan sekolahan tempat bus-bus yang akan mengantar kami terparkir rapi berbaris bak tentara namun hanya satu bus. Kami ternyata bukan yang pertama tiba di tempat. Bahkan kami hampir menjadi yang terakhir andai saja tidak ada yang lebih telat dari kami. Dan aku sendiri sangat kaget, ternyata barang bawaan yang aku bawa belum apa-apa dengan yang di bawa oleh teman-temanku. Kalau tahu kayak gini, tak perlulah kuturunkan muatan barang bawaaanku semalam.
Meskipun rasa kesal sedikit menggerogoti hati. Namun pagi itu, tepatnya hari Sabtu, 4 tahun yang lalu aku pernah mengalami. Bahwa seorang gadis belia canti pernah ada rasa kepadaku. Seorang pecundang kelas kakap merah. To Be Continued…


Share this article :

6 komentar:

  1. Kisah yang menarik. Pasti yang namanya Mbak Lina itu cantik sekali ya.. Dan istimewa pasti, sampai dikisahkan cuplikannya di sini. He..

    BalasHapus
  2. hehehe...makasih komentnya..tapi kalau bleh tw cp Ya?

    BalasHapus
  3. Hmmm, terkadang kita tak harus tahu siapa yang berbicara sama kita. Karena yang penting itu bukan siapa yang berbicara, tapi apa yang dibicarakannya. Begitu kan?? :P

    BalasHapus
  4. @Khodijah...ea gak usah cemburu kalau namamu gak tak sebut dalam postingan.

    BalasHapus
  5. Ahaha, orang yang kepedean terkadang cenderung negatif thinking.. :) :)

    BalasHapus
  6. ya up to you lah.
    bicara sama orang kayak kamu itu udah tak anggap menang kamunya. bibir belut.

    BalasHapus

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger