“Dalam kesendirian menghadapi ruang dan waktu, yang setiap
kali detik jam bergerak akan berkurang kehidupan ini. Dan itu pasti.”
Bertemu dengan seorang teman baru, menjalani kehidupan sehari-hari
dengan teman yang sudah kita kenal. Bercanada ria, saling mengejek satu-sama
lain agar suasana kaku berubah kendor. Dan tak jarang juga ejekan itu
menjadikan pertengkarang. Itu biasa.
Namun satu yang harus disematkan dalam otak kita. Bahwa kita tak
selamanya akan bersama sahabat kita. Bukan mati yang aku bicarakan. Hanya
permasalahan dunia yang benar adanya dan itu terjadi.
Seingatku, baru kemarin aku meninggalkan rumah yang nyaman untuk
melanjutkan pendidikanku. Dan baru kemarin rasanya aku mengenakan putih
abu-abuku untuk pertama kali. Rasanya masih terlalu kebesaran aku pakai.
Maklumlah, baju beli dari toko sehingga ukurannya tidak bisa sesuai dengan yang
kita harapkan. Dan waktu itu hanya aku seorang yang mengenakan putih abu-abu
khas anak SMA. Jangan-jangan aku salah masuk sekolah? Ah bukan, aku bukan
saalah masuk sekolahan, hanya saja memang ini hari pertama masuk setelah MOPD.
Jadi masih banyak teman-teman mengenakan pakaian SMP.
Meskipun kain pemberian dari sekolah telah aku terima. Namun aku
jarang menggunakannya. Paling-paling hanya seragam identitas yang kupakai. Yang
lainya serba dari toko baju yang menjual khusus seragam. Dari TK sampai SMA.
Dan aku membeli baju seragam itu jauh-jauh hari sebelum MOPD dimulai.
Setelah MOPD selesai,pertama kali masuk aku tidak tepat waktu dan
sebagai resikonya rumput-rumput liar siap menemaniku.
@@@@
Pagi itu ketika hendak pelajaran TIK (Teknologi Informasi dan
Komunikasi). Memang jatah kami untuk menggunakan Lab. Komputer yang tempatnya
tepat sebelah ruang kelas kami. Biasanya kami sengaja tidak masuk kelas, tapi
langsung masuk ke Lab. TIK. Untuk apa,
hanya untuk berebut komputer. Memang kami sekelas hanya 25 pasang kaki. Namun
jumlah komputer yang tersedia sngguh memprihatinkan waktu itu. Satu komputer
kebanyakan untuk 2anak.
Setalah ritual berdoa selesai. Tiba-tiba ada gadis cantik yang
mendekatiku. Lina Eko Wulandari. Gadis desa yang spesial menurutku kala itu.
Ketika MOPD kami memang satu kelompok. Namun sedikitpun aku tidak tertarik
dengannya. Aku malah tertarik dengan sosok gadis bernama Ayu. Tapi hanya perasaan
suka aja melihat kecantikan parasnya.
Lina panggilan akrabnya. Dia memberiku sebuah buku kecil berwarna
hijau. Ada lobangnya berbentuk hati. Sambil mengatakan “ jangan dibaca dulu,
baca nanti saja kalau sudah di pondok.” Aku hanya mengangguk tanpa ekspresi dan
jawaban terucap dari mulutku.
Hari itu berakhir dengan sedikit rasa bahagia, ada seorang cewek
yang tidak perlu ditanyakan kecantikannya. Sesuai pesan darinya, kubuka buku
hijau kecil itu saat aku di pondok. Memang, demi kelangsungan hidupku yang
tinggal jauh dari orang tua dan orang tuanya orang tua. Aku mondok di salah
satu pondok pesantren yang jaraknya tidak terlalu dekat dan juga tidak terlalu
jauh dengan sekolahan.
Kubuka buku hijau tersebut. Whooo… Ternyata ada rangkaian tulisan
yang ada dalam buku hijau. Meskipun sudah tahu kalau akan ada banyak tulisan,
namun isi dari tulisan ini malah membuatku semakin bingung untuk menentukan
pilihan.
Okelah sejak mengenal dia, perasaan suka memang ada dan kuakui itu.
Bahkan dia juga menunjukan respon yang positif menanggapi perasaanku kepadanya.
Namun semenjak membaca pesan singkat nan padat lewat buku hijau yang diberikan
kepadaku. Perasaanku jadi campur aduk. Antara iya atau tidak antara dia
menanggapi atau tidak dan antara apakah dia mempunyai perasaan kepadaku apa
tidak.
Pernah terjadi kala itu sekolah sedang mengadakan program untuk
belajar di Pare Kediri. Desa yang akrab dengan sebuatan English Village itu,
memang baru pertama aku akan menjamahnya. Dalam benakku, terbayang sebuah
suasana perkotaan yang setiap lorong rumah dipenuhi dengan pembelajaran bahasa
Inggris dan di setiap jalan akan dipenuhi dengan percakapan bahasa Inggris. Itu
dalam fikiranku. Tapi ternyata yang beranggapan seperti itu bukan hanya aku
saja, melainkan kami semua yang akan berangkat ke Pare.
Sehari sebelum hari pemberangkatan yang dijadwalkan akan berangkat
pukul 05.00 WIB. Semua barang keperluan selama 3 minggu ke depan telah aku
masukan ke dalam tas ukuran sedang. Meskipun hanya pinjam, namun sang pemilik
tas juga ikut ke Pare. Dalam benakku, apakah yang aku bawa ini terlalu banyak?
Kan cuman 3 minggu saja di sana.
Beranggapan bahwa teman-teman yang lain pastinya membawa barang
yang tidak terlalu banyak.. akhirnya kuturunkan beberapa muatan yang sudah
tertata rapi di tas warna coklat dengan garis bitu putih itu.
Oke semua perlengkapan dan persiapan telah sukses. Malamnya sebelum
pagi pemberangkatan. Bercanda tawa dengan teman sekamar yang juga akan ikut ke
Pare. Membahas tentang tempat menginap ketika di sana, bahasa yang akan
digunakan karena apa? Guru bahasa Inggris kami mengatakan di Pare penjual nasi
pecel saja menggunakan bahasa Inggris. Semenjak mengetahui hal tersebut aku dan
mungkin teman-temanku juga beranggapan bakal tidak bisa menikmati pecel ketika
di sana.
Meskipun mata seakan tidak bisa terpejam, tapi kami bertiga harus
memaksakannya untuk memulihkan stamina dan semangat untuk berangkat esok pagi
sekali.
Sabtu pagi, waktu telah menunjukan pukul 04.30 WIB. Segerahlah
mandi mekipun hawa dingin kota Lasem menyelimuti kami bertiga. Setelah selesai,
kami mengecek ulang barang bawaan kami. Barangkali ada sesuatu hal yang
harusnya terbawa tapi karena saking senangnya akan ke Pare jadi terlupa.
Setelah kelar, kami sebelum meninggalkan tempat. Kami harus
berpamitand engan si shohibul bait. Yak benar sekali, kami bertiga
selama menuntut ilmu di kota Lasem ini bertinggal di sebuah pondok pesantren.
Jadi ke mana pun kami melangkahkan kaki keluar gerbang, kami harus meminta ijin
jalan terlebih dahulu. Apalagi ini bukan tempat yang dekat, dan waktunya juga
cukup lama. Di Pare selama 3 minggu kurang sehari. Jadi selam permohonan surat
jalan berlangsung genjatan pertanyaanpun harus kami jawab dari kyai.
Oke tak perlu menanyakan apa saja pertanyaan yang berahasil kami
jawab. Untuk menuju lokasi parkir bus yang akan mengantarkan kami. Kami
berjalan sepanjang kurang lebih 1000 meter.
Meskipun semangat kami bertiga sedang full charge namun kami
tak bisa membohongi perut kami. Berdendangan ria, akhirnya kami mampir di
sebuah warung pinggir jalan. Meski pagi itu hanya nasi pecel yang menjadi menu,
tapi kami tak ada sedikitpun masalah dengan makanan apa yang masuk ke perut
kami. Asal tidak beracun, busuk dan masih dalam standar kewajaran makanan manusia
pasti bisa masuk dalam perut kami. Yang setiap harinya bertittle santri.
Perut kenyang, walaupun kami melahap nasi dengan keadaan terburu
dengan waktu pemberangkatan.
Sampai di depan sekolahan tempat bus-bus yang akan mengantar kami
terparkir rapi berbaris bak tentara namun hanya satu bus. Kami ternyata bukan
yang pertama tiba di tempat. Bahkan kami hampir menjadi yang terakhir andai
saja tidak ada yang lebih telat dari kami. Dan aku sendiri sangat kaget,
ternyata barang bawaan yang aku bawa belum apa-apa dengan yang di bawa oleh
teman-temanku. Kalau tahu kayak gini, tak perlulah kuturunkan muatan barang
bawaaanku semalam.
Meskipun rasa kesal sedikit menggerogoti hati. Namun pagi itu,
tepatnya hari Sabtu, 4 tahun yang lalu aku pernah mengalami. Bahwa seorang
gadis belia canti pernah ada rasa kepadaku. Seorang pecundang kelas kakap
merah. To Be Continued…
Kisah yang menarik. Pasti yang namanya Mbak Lina itu cantik sekali ya.. Dan istimewa pasti, sampai dikisahkan cuplikannya di sini. He..
BalasHapushehehe...makasih komentnya..tapi kalau bleh tw cp Ya?
BalasHapusHmmm, terkadang kita tak harus tahu siapa yang berbicara sama kita. Karena yang penting itu bukan siapa yang berbicara, tapi apa yang dibicarakannya. Begitu kan?? :P
BalasHapus@Khodijah...ea gak usah cemburu kalau namamu gak tak sebut dalam postingan.
BalasHapusAhaha, orang yang kepedean terkadang cenderung negatif thinking.. :) :)
BalasHapusya up to you lah.
BalasHapusbicara sama orang kayak kamu itu udah tak anggap menang kamunya. bibir belut.