“ terbaca sebuah rangkaian huruf indah yang
ditulis oleh seorang penulis muda. Penulis yang semua tulisannya menjadi
inspirasi bagi temanku, teman dunia mayaku.”
Semua terjadi
begitu saja, tanpa aku sadari kini aku sudah beranjak remaja bahkan telah
menjadi dewasa. Dulu ketika masih mengenakan seragam putih-hijau, eits bukan
seragam MI ( Madrasah Ibtidaiyah). Tapi ketika masih taman kanak-kanak. Sering
sekali aku menjadi sebagai pecundang dalam sekelas. Menjadi anak yang selalu
kalah, menjadi anak yang selalu menjadi bulan-bulanan teman sekelas. Itu
terjadi padaku semuanya. Namun itu semua adalah perjalanan hidup yang memang
harus aku jalani.
Pernah suatu
ketika, pagi itu aku berangkat seperti biasanya. Sebelum aku berangkat,
layaknya anak kecil. Aku minta uang saku pada nenekku. Menjajakan nasi kepada
orang-orang yang berlalu-lalang. Ya wajar saja, rumah yang aku tempati bersama
nenek dan kakekku berada di pinggir jalan. Meskipun bukan jalan utama, namun
jalan ini adalah akses untuk menuju pasar yang berada di desaku.
Seperti anak
kecil umumnya, sebelum berangkat sekolah aku minta uang saku pada nenekku.
Untuk ukuran anak TK, uang saku pada saat itu 300 perak sudah bagus dan sudah
terlalu banyak bagi sebagian orang tua lainnya. Begitu juga yang terjadi
padaku, setiap kali minta uang saku. Pasti nenekku memberiku uang 500 perak.
Tapi sebagai anak kecil yang tidak terlalu nurut dengan orang yang lebih tua.
Aku selalu kurang ketika hanya mendapatkan uang saku 500 perak. Lantas, ketika
itu aku yang sudah berpakaian rapi untuk berangkat. Akhirnya aku nangis karena
uang saku yang kuharapkan tidak kudapatkan.
Kebanyakan
orang tua, ketika melihat anaknya menangis dan tangisannya itu mengganggu
pekerjaannya. Aku yakin, pasti anak itu tambah nangisnya karena mungkin dicubit
oleh orang tuanya. Namun itu tidak terjadi padaku. Nenekku selalu memberika apa
yang aku minta kala itu. Meskipun aku selalu merepotkan dia. Namun kesabarannya
selalu melebihi rengekanku.
Setalah
mendapatkan uang saku yang aku harapkan. Segerahlah aku berangkat bersama
sahabatku. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Hanya selang satu rumah
yang sudah dipindah alihkan menjadi selepan (tempat penggilingan beras,
kelapa, bumbu).
Dengan
sahabatku inilah, kekonyolan masa kanak-kanak aku habiskan. Dari menipu
buyutnya, merokok bekas rokok orang lain yang sudah tidak karuan bentuknya tapi
masih bisa dinikmati.
Ada secercah
cerita mengenai buyut sahabatku. Ketika itu sekolah libur, dan biasanya ketika
libur aku bermain ke rumah sahabatku. Tentunya kalau dia tidak sedang diajak
liburan sama keluarganya. Dan beruntung sekali, hari itu dia sedang tidak ada
kegiatan dan sedang menungguku untuk bermain bersama. Ketika aku sudah di
rumahnya dan telah melakukan suatu permainan konyol. Dan bermain bersama
layaknya saudara ini sudah kulakukan berkali-kali. Entah bagaimana ceritanya
aku bisa kenal dia, dan bagaimana caranya pula kita bisa akrab.
Lama bermain,
sifat kanak-kanak kami pun mengalami kejenuhan. Akhirnya kami berdua sepakat
untuk keluar, sekedar bermain tak lebih. Namun niat kami untuk keluar sedikit
terhadang oleh buyut sahabatku tadi. Kami berdua dilarang, tidak diperbolehkan
bermain di luar. Karena tidak diperbolehkan keluar, kamipun memutar otak untuk
bisa keluar. Dan cara yang paling ampuh adalah membohongi buyut sahabatku. Dan
ide ini bukan aku yang sarankan, tapi sahabatku sendiri yang punya ide ini.
Oke, rencana
pembohongan pun telah siap. Kami berdua segera menuju pintu rumah yang selalu
terbuka kecuali malam hari. Dan si buyut ini langsung saja menginterogasi kami
berdua.
“ Ape moro ndi,
ngga?” (Mau ke mana, ngga?) tanya si buyut.
“Ape nang omahe
mas upi, mbah!” (mau ke rumahnya mas upi, mbah!) jawab Angga, nama sahabatku.
Setelah jawaban
itu, akhirnya berdua keluar. Namun bukan rumahku yang dituju. Melainkan tak ada
tujuan yang jelas ke mana kami akan bermain untuk mengisi kejenuhan ini.
Namun memang
usia tidak bisa berbohong. Buyutnya Angga, sekarang sudah meninggal. Dan kami
merasa bersalah, salah sebagai buyut yang seharusnya menghormati yang lebih
tua. Bukan malah membohongi dan mengecoh supaya kami bisa merasakan kesenangan
kami.
***
Aku dan Angga
bukan hanya satu sekolah di taman kanak-kanak, tapi juga satu sekolah di TPQ
(Taman Pendidikan Al-Quran). Sekolah TPQ di mana aku dan anak-anak lainnya
menimba ilmu agama sewajarnya. Satu atap dengan TK. Yang membedakan hanyalah
waktu pembelajarannya.
Teringat kala
itu akau sedang bermain dengan teman yang lain. Sesaat kemudian Angga ikut
bergabung bermain bersama kami. Permainan pun berlangsung biasa. Sampai suatu
waktu pada saat bermain tiba-tiba ada darah keluar dari kepala Angga. Sontak
sejak melihat darah itu permainan kami hentikan. Seusia kami pada saat itu,
ketika melihat darah. Apalagi darah itu keluar dari kepala, secara otomatis
kami menganggapnya Angga akan lupa ingatan seperti yang ada pada
sinetron-sinetron yang tayang pada saat itu.
Namun darah
itu, bisa dihentikan. Sehingga Angga pulang ke rumah tinggal cerita saja kalau tadi
dia mengalami pendarahan.
Namun beberapa
hari ke depan, ketika aku bermain seperti biasanya ke rumahnya Angga. Pada saat
itulah sontak aku kaget dan ketakutan. Bagaimana tidak ketakutan. Orang tua
Angga, menuduhku yang membuat Angga keluar darah.
Sontak sebagai
anak yang belum bisa membersihkan ingusnya sendiri, aku merasa ketakutan kala
itu. “bagaimana kalau aku ditangkap polisi?, bagaimana kalau aku dipenjara?”
pikirku saat itu juga setelah orang tua Angga menuduhku yang melakukan hal itu.
Namun aku tak
pernah menceritakan sedikitpun kejadian yang aku alami kepada nenek dan
kakekku. Meskipun demikian, kejadian sebesar apapun itu akan hilang ketika aku
bangun tidur.
Masa
kanak-kanak yang syarat akan canda tawa, berfikir seperti bahwa setelah TK tiada
sekolah lagi, berfikir bahwa kitalah yang akan menjadi orang yang besar, dan
berfikir bahwa dunia ini hanya ada kita.
Dan tak pernah
terfikirkan olehku bahwa semua yang ada di sekelilingku pada saat itu akan
berubah total. Tak ada yang sama dulu dan sekarang, yangs ama hanya bahwa aku
tetap mas ufi, dan Angga tetap Angga. Kami berdua sudah ibarat adik dan kakak.
Entah aku yang berperan menjadi kakak, atau Angga. Kami tak peduli akan hal
itu. Serukun apapun kami pasti akan ada celah pertengkaran yang terbuka.
Pertengakaran yang pastinya sesuai ukuran usia kami saat itu, saat aku masih
unyu-unyu.[] masupik
untung unyu2 ga unyil2, hehehe,,,,
BalasHapushehehe..ada2 aja nyil
BalasHapus