Home » , , , , , , » Aku, masih Unyu-unyu

Aku, masih Unyu-unyu

Written By Hakim on 24/04/13 | 15.22



“ terbaca sebuah rangkaian huruf indah yang ditulis oleh seorang penulis muda. Penulis yang semua tulisannya menjadi inspirasi bagi temanku, teman dunia mayaku.”
Semua terjadi begitu saja, tanpa aku sadari kini aku sudah beranjak remaja bahkan telah menjadi dewasa. Dulu ketika masih mengenakan seragam putih-hijau, eits bukan seragam MI ( Madrasah Ibtidaiyah). Tapi ketika masih taman kanak-kanak. Sering sekali aku menjadi sebagai pecundang dalam sekelas. Menjadi anak yang selalu kalah, menjadi anak yang selalu menjadi bulan-bulanan teman sekelas. Itu terjadi padaku semuanya. Namun itu semua adalah perjalanan hidup yang memang harus aku jalani.
Pernah suatu ketika, pagi itu aku berangkat seperti biasanya. Sebelum aku berangkat, layaknya anak kecil. Aku minta uang saku pada nenekku. Menjajakan nasi kepada orang-orang yang berlalu-lalang. Ya wajar saja, rumah yang aku tempati bersama nenek dan kakekku berada di pinggir jalan. Meskipun bukan jalan utama, namun jalan ini adalah akses untuk menuju pasar yang berada di desaku.
Seperti anak kecil umumnya, sebelum berangkat sekolah aku minta uang saku pada nenekku. Untuk ukuran anak TK, uang saku pada saat itu 300 perak sudah bagus dan sudah terlalu banyak bagi sebagian orang tua lainnya. Begitu juga yang terjadi padaku, setiap kali minta uang saku. Pasti nenekku memberiku uang 500 perak. Tapi sebagai anak kecil yang tidak terlalu nurut dengan orang yang lebih tua. Aku selalu kurang ketika hanya mendapatkan uang saku 500 perak. Lantas, ketika itu aku yang sudah berpakaian rapi untuk berangkat. Akhirnya aku nangis karena uang saku yang kuharapkan tidak kudapatkan.
Kebanyakan orang tua, ketika melihat anaknya menangis dan tangisannya itu mengganggu pekerjaannya. Aku yakin, pasti anak itu tambah nangisnya karena mungkin dicubit oleh orang tuanya. Namun itu tidak terjadi padaku. Nenekku selalu memberika apa yang aku minta kala itu. Meskipun aku selalu merepotkan dia. Namun kesabarannya selalu melebihi rengekanku.
Setalah mendapatkan uang saku yang aku harapkan. Segerahlah aku berangkat bersama sahabatku. Rumahnya tidak terlalu jauh dari rumahku. Hanya selang satu rumah yang sudah dipindah alihkan menjadi selepan (tempat penggilingan beras, kelapa, bumbu).
Dengan sahabatku inilah, kekonyolan masa kanak-kanak aku habiskan. Dari menipu buyutnya, merokok bekas rokok orang lain yang sudah tidak karuan bentuknya tapi masih bisa dinikmati.
Ada secercah cerita mengenai buyut sahabatku. Ketika itu sekolah libur, dan biasanya ketika libur aku bermain ke rumah sahabatku. Tentunya kalau dia tidak sedang diajak liburan sama keluarganya. Dan beruntung sekali, hari itu dia sedang tidak ada kegiatan dan sedang menungguku untuk bermain bersama. Ketika aku sudah di rumahnya dan telah melakukan suatu permainan konyol. Dan bermain bersama layaknya saudara ini sudah kulakukan berkali-kali. Entah bagaimana ceritanya aku bisa kenal dia, dan bagaimana caranya pula kita bisa akrab.
Lama bermain, sifat kanak-kanak kami pun mengalami kejenuhan. Akhirnya kami berdua sepakat untuk keluar, sekedar bermain tak lebih. Namun niat kami untuk keluar sedikit terhadang oleh buyut sahabatku tadi. Kami berdua dilarang, tidak diperbolehkan bermain di luar. Karena tidak diperbolehkan keluar, kamipun memutar otak untuk bisa keluar. Dan cara yang paling ampuh adalah membohongi buyut sahabatku. Dan ide ini bukan aku yang sarankan, tapi sahabatku sendiri yang punya ide ini.
Oke, rencana pembohongan pun telah siap. Kami berdua segera menuju pintu rumah yang selalu terbuka kecuali malam hari. Dan si buyut ini langsung saja menginterogasi kami berdua.
“ Ape moro ndi, ngga?” (Mau ke mana, ngga?) tanya si buyut.
“Ape nang omahe mas upi, mbah!” (mau ke rumahnya mas upi, mbah!) jawab Angga, nama sahabatku.
Setelah jawaban itu, akhirnya berdua keluar. Namun bukan rumahku yang dituju. Melainkan tak ada tujuan yang jelas ke mana kami akan bermain untuk mengisi kejenuhan ini.
Namun memang usia tidak bisa berbohong. Buyutnya Angga, sekarang sudah meninggal. Dan kami merasa bersalah, salah sebagai buyut yang seharusnya menghormati yang lebih tua. Bukan malah membohongi dan mengecoh supaya kami bisa merasakan kesenangan kami.
***
Aku dan Angga bukan hanya satu sekolah di taman kanak-kanak, tapi juga satu sekolah di TPQ (Taman Pendidikan Al-Quran). Sekolah TPQ di mana aku dan anak-anak lainnya menimba ilmu agama sewajarnya. Satu atap dengan TK. Yang membedakan hanyalah waktu pembelajarannya.
Teringat kala itu akau sedang bermain dengan teman yang lain. Sesaat kemudian Angga ikut bergabung bermain bersama kami. Permainan pun berlangsung biasa. Sampai suatu waktu pada saat bermain tiba-tiba ada darah keluar dari kepala Angga. Sontak sejak melihat darah itu permainan kami hentikan. Seusia kami pada saat itu, ketika melihat darah. Apalagi darah itu keluar dari kepala, secara otomatis kami menganggapnya Angga akan lupa ingatan seperti yang ada pada sinetron-sinetron yang tayang pada saat itu.
Namun darah itu, bisa dihentikan. Sehingga Angga pulang ke rumah tinggal cerita saja kalau tadi dia mengalami pendarahan.
Namun beberapa hari ke depan, ketika aku bermain seperti biasanya ke rumahnya Angga. Pada saat itulah sontak aku kaget dan ketakutan. Bagaimana tidak ketakutan. Orang tua Angga, menuduhku yang membuat Angga keluar darah.
Sontak sebagai anak yang belum bisa membersihkan ingusnya sendiri, aku merasa ketakutan kala itu. “bagaimana kalau aku ditangkap polisi?, bagaimana kalau aku dipenjara?” pikirku saat itu juga setelah orang tua Angga menuduhku yang melakukan hal itu.
Namun aku tak pernah menceritakan sedikitpun kejadian yang aku alami kepada nenek dan kakekku. Meskipun demikian, kejadian sebesar apapun itu akan hilang ketika aku bangun tidur.
Masa kanak-kanak yang syarat akan canda tawa, berfikir seperti bahwa setelah TK tiada sekolah lagi, berfikir bahwa kitalah yang akan menjadi orang yang besar, dan berfikir bahwa dunia ini hanya ada kita.
Dan tak pernah terfikirkan olehku bahwa semua yang ada di sekelilingku pada saat itu akan berubah total. Tak ada yang sama dulu dan sekarang, yangs ama hanya bahwa aku tetap mas ufi, dan Angga tetap Angga. Kami berdua sudah ibarat adik dan kakak. Entah aku yang berperan menjadi kakak, atau Angga. Kami tak peduli akan hal itu. Serukun apapun kami pasti akan ada celah pertengkaran yang terbuka. Pertengakaran yang pastinya sesuai ukuran usia kami saat itu, saat aku masih unyu-unyu.[] masupik
Share this article :

2 komentar:

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger