Home » , , , , , » Fikirku Pendek

Fikirku Pendek

Written By Hakim on 02/05/13 | 15.31



Beberapa waktu yang lalu sempat membaca sebuah novel yang menjadi best seller nasional. Sebuah novel yang menceritakan kehidupan di dalam pondok pesantren di salah satu PP (Pondok Pesantren) di Jawa Timur. Meskipun belum genap semua yang aku baca, namun dalam hati ini sudah terjadi konflik yang cukup serius.
Konflik yang terjadi ketika satu pertanyaan timbul dalam benak ini. Lha kalau semua orang kayak si penulis novel ini dan berhasil meraih cita-citanya (baca: sukses) lantas ke mana keadilan Tuhan? Kalau semua orang sukses kemudian kepada siapa kita akan menzakatkan harta kita? Lha semuanya sudah berhasil dalam artian harta yang dimiliki setiap individu sudah mencukupi untuk makan sehari-hari.
Kemudian timbul satu pertanyaan lagi, mengenai posisiku sekarang ini yang juga sedang menekuni ilmu pondok pesantren. Akankah, kesuksesan yang diraih penulis hanya akan terwujud di pondok itu? Dalam artian apakah jika kita memasuki pondok pesantren yang lain cita-cita yang kita gantungkan bisa juga terwujud? Apakah hanya bisa terwujud jika kita mondok di PP Jawa Timur itu?
Berbagai pertanyaan itu muncul karena setiap kata yang ditulis oleh penulis seakan-akan fasilitas yang ada di PP tersebut sangat memadai untuk mewujudkan setiap cita-cita dari para santri. Itu dalam benakku.
Kenapa aku bisa mengatakan demikian? Karena aku juga sempat membaca, dalam sebuah buku yang diterbitkan oleh teman kampungku. Bahwa setiap kata-kta itu mengandung maksud yang mungkin menimbulkan multitafsir bagi setiap orang yang membacanya.
Terlepas dari hal yang sudah tertulis di atas. Mengenai kondisiku dan cita-citaku yang dalam benakku sendiri mustahil untuk dicapai dan bisa menjadi kenyataan. Bahkan bukan hanya aku yang berfikir seperti itu. Wali kelasku ketika SMA juga berkata demikian. Meskipun tidak semata-mata langsung menidakmungkinkan cita-citaku bisa terwujud. Namun perkataan yang dilontarkan untuk menanggapi omonganku mengerucut kearah memberitahukan bahwa cita-cita atau harapanku itu mustahil untuk tercapai.
Sejenak menyingkirkan cita-cita dan harapanku mendatang. Sekarang aku berada di lingkungan Pondok Pesantren yang membelengguku untuk melakukan sedikit perubahan dan memenjarakan fikiranku untuk berfikir luas. Lho kok bisa seperti itu? Jawabannya singkat, karena setiap langkah yang kulakukan untuk melakukan perubahan pasti harus aku sodorkan proposal perubahan kepada sang atasan (baca: Kyai). Dan setiap fikiran yang ingin memberikan ide atau hanya sekedar memberikan saran atas sesuatu harus aku urungkan karena dalam benakku sudah bergejolak pendapatku atau saranku sudah tidak layak masuk dalam list pendapat yang tersedia. Karena aku hanya seorang anak ingusan.
Itu sedikit gejolak yang sering terjadi. Belum lagi hal-hal yang sering kualami, yang membuatku seakan-akan kembali menelan ludah yang sudah aku keluarkan.
Seiring berjalannya waktu, dan seiring bergantinya serta berkurangnya umur. Akupun berubah menjadi sosok yang bisa dibilang apa yang aku omongkan sedikit berbobot meski hanya 1 gram. Apa yang aku kerjakan sekarang semata-mata aku niati kuliah tapi dapat bayaran. Kalau tidak demikian, rasa tidak puas dengan yang kuterima pasti akan sering aku rasakan.
Mencoba menjadi orang yang bermanfaat dan bisa memanfaatkan keadaan untuk menjadi lebih bermanfaat lagi. Meski hanya untuk sekedar kepuasan.
Pernah juga merasakan, mengenai masa depan kelak. Takut tidak bisa berhasil dan sukses seperti apa yang aku harapkan. Dan ketika fikiran itu terekam kembali di ingatan, maka seperti sudah pupus harapan ini. Dan seketika ku berhentikan fikirku mengenai masa depan yang sulit kayaknya untuk merealisasikanya. Fikirku pendek saat itu.
Satu ungkapan yang sering aku gunakan untuk jadi pedoman serta untuk menjadi sebuah hal yang menyenangkan hati. “tidak ada yang tahu masa depan seseorang, hanya yang Maha Tahu yang mengetahui segalanya. Dan Dia tidak akan merubah nasib seseorang kalau orang tersebut tidak berusaha meubahnya.” []Masupik

Share this article :

2 komentar:

  1. Melihat abang yang hobi nulis ini, sepertinya bukan cita-cita yang mustahil untuk jadi penulis sukses. Mungkin yang dibutuhkan saat ini, satu, peluang. Dan saya rasa itu bisa diusahakan/dicari. Niat, semangat, dan effort. Ingat, kekuasaan Tuhan itu nyata. Yang mustahil hari ini, belum tentu esok hari akan tetap mustahil.

    BalasHapus
  2. Wha thanks semangatnya.

    BalasHapus

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger