Beberapa waktu yang lalu sempat membaca sebuah novel yang menjadi best
seller nasional. Sebuah novel yang menceritakan kehidupan di dalam pondok
pesantren di salah satu PP (Pondok Pesantren) di Jawa Timur. Meskipun belum
genap semua yang aku baca, namun dalam hati ini sudah terjadi konflik yang
cukup serius.
Konflik yang terjadi ketika satu pertanyaan timbul dalam benak ini.
Lha kalau semua orang kayak si penulis novel ini dan berhasil meraih
cita-citanya (baca: sukses) lantas ke mana keadilan Tuhan? Kalau semua orang
sukses kemudian kepada siapa kita akan menzakatkan harta kita? Lha semuanya
sudah berhasil dalam artian harta yang dimiliki setiap individu sudah mencukupi
untuk makan sehari-hari.
Kemudian timbul satu pertanyaan lagi, mengenai posisiku sekarang
ini yang juga sedang menekuni ilmu pondok pesantren. Akankah, kesuksesan yang
diraih penulis hanya akan terwujud di pondok itu? Dalam artian apakah jika kita
memasuki pondok pesantren yang lain cita-cita yang kita gantungkan bisa juga
terwujud? Apakah hanya bisa terwujud jika kita mondok di PP Jawa Timur
itu?
Berbagai pertanyaan itu muncul karena setiap kata yang ditulis oleh
penulis seakan-akan fasilitas yang ada di PP tersebut sangat memadai untuk
mewujudkan setiap cita-cita dari para santri. Itu dalam benakku.
Kenapa aku bisa mengatakan demikian? Karena aku juga sempat
membaca, dalam sebuah buku yang diterbitkan oleh teman kampungku. Bahwa setiap
kata-kta itu mengandung maksud yang mungkin menimbulkan multitafsir bagi setiap
orang yang membacanya.
Terlepas dari hal yang sudah tertulis di atas. Mengenai kondisiku
dan cita-citaku yang dalam benakku sendiri mustahil untuk dicapai dan bisa
menjadi kenyataan. Bahkan bukan hanya aku yang berfikir seperti itu. Wali
kelasku ketika SMA juga berkata demikian. Meskipun tidak semata-mata langsung
menidakmungkinkan cita-citaku bisa terwujud. Namun perkataan yang dilontarkan
untuk menanggapi omonganku mengerucut kearah memberitahukan bahwa cita-cita
atau harapanku itu mustahil untuk tercapai.
Sejenak menyingkirkan cita-cita dan harapanku mendatang. Sekarang
aku berada di lingkungan Pondok Pesantren yang membelengguku untuk melakukan
sedikit perubahan dan memenjarakan fikiranku untuk berfikir luas. Lho kok bisa
seperti itu? Jawabannya singkat, karena setiap langkah yang kulakukan untuk
melakukan perubahan pasti harus aku sodorkan proposal perubahan kepada sang
atasan (baca: Kyai). Dan setiap fikiran yang ingin memberikan ide atau hanya
sekedar memberikan saran atas sesuatu harus aku urungkan karena dalam benakku
sudah bergejolak pendapatku atau saranku sudah tidak layak masuk dalam list pendapat
yang tersedia. Karena aku hanya seorang anak ingusan.
Itu sedikit gejolak yang sering terjadi. Belum lagi hal-hal yang
sering kualami, yang membuatku seakan-akan kembali menelan ludah yang sudah aku
keluarkan.
Seiring berjalannya waktu, dan seiring bergantinya serta
berkurangnya umur. Akupun berubah menjadi sosok yang bisa dibilang apa yang aku
omongkan sedikit berbobot meski hanya 1 gram. Apa yang aku kerjakan sekarang
semata-mata aku niati kuliah tapi dapat bayaran. Kalau tidak demikian, rasa
tidak puas dengan yang kuterima pasti akan sering aku rasakan.
Mencoba menjadi orang yang bermanfaat dan bisa memanfaatkan keadaan
untuk menjadi lebih bermanfaat lagi. Meski hanya untuk sekedar kepuasan.
Pernah juga merasakan, mengenai masa depan kelak. Takut tidak bisa
berhasil dan sukses seperti apa yang aku harapkan. Dan ketika fikiran itu
terekam kembali di ingatan, maka seperti sudah pupus harapan ini. Dan seketika
ku berhentikan fikirku mengenai masa depan yang sulit kayaknya untuk
merealisasikanya. Fikirku pendek saat itu.
Satu ungkapan yang sering aku gunakan untuk jadi pedoman serta
untuk menjadi sebuah hal yang menyenangkan hati. “tidak ada yang tahu masa
depan seseorang, hanya yang Maha Tahu yang mengetahui segalanya. Dan Dia tidak
akan merubah nasib seseorang kalau orang tersebut tidak berusaha meubahnya.” []Masupik
Melihat abang yang hobi nulis ini, sepertinya bukan cita-cita yang mustahil untuk jadi penulis sukses. Mungkin yang dibutuhkan saat ini, satu, peluang. Dan saya rasa itu bisa diusahakan/dicari. Niat, semangat, dan effort. Ingat, kekuasaan Tuhan itu nyata. Yang mustahil hari ini, belum tentu esok hari akan tetap mustahil.
BalasHapusWha thanks semangatnya.
BalasHapus