Tak ada sedikitpun rasa kecewa, malu, atau sebagainya yang menggambarkan keduanya. Hanya sebuah usaha untuk mencari pasangan hidup yang sepertinya, sudah sedikit kuperlukan dalam hidupku, kayaknya.
Selamat pagi, kata
itu yang seharusnya kuucapkan ketika mata ini menengadahkan bulu-bulu mungil
yang tertata rapi sebagai pelindung dan juga keindahan mata. Namun berbeda dari
biasanya, pagi ini kebiasaan burukku kembali keluar dari jeruji.
Pagi ini, ketika terbangun dengan teriakan seorang wanita yang sengaja
memanggilku. Memanggilku untuk membangunkan yang lainnya. Berharap pagi itu
jama’ah shalat shubuh bisa terlaksanakan seperti biasanya. Namun kantuk yang
kuderita hari ini melebihi hari-hari sebelumnya. Sehingga, panggilan dini hari
itu hanya aku jawab dengan menyalakan lampu kamar yang ketika kupakai tidur
semua lampu mati.
Kunyalakan saja lampunya, biar dianggap sudah bangun. “kataku dalam
hati namun belum membuka mata.”
Setelah semua lampu kamar sudah terang benderang. Kembali
kubaringkan tubuh seberat 60 kg kotor pada kasur lantai yang sudah sedikit
banyak rusak karena putung-putung rokok yang masih sedikit mengeluarkan api.
Sehingga semua permukaan kasur lantai itu, bak rumah lebah madu yang gepeng.
Jlek…. Tanpa sadar, mataku langsung terbuka. Dan langsung terlihat
langit yang ketika itu masih petang kini sudah tergerus akan kehadiran sang
surya. Segeralah ku pegang mobile phone yang sengaja aku letakkan di sampingku.
Tak menyangka, ternyata sudah pukul 05.38 WIB. Dan mataku melihat tulisan di layar
mobile phone jadul milikku. ‘1 new message’. Ada sms ternyata, dan aku sudah
tahu itu sms dari siapa. Kubuka layar phonecell yang masih terkunci. Dan kubaca
short message service itu.
Setelah kubaca sms darinya. Kukirimkan beberapa sms balasan. Dan
setelah itu, kamar mandi adalah tujuanku. Untuk segera mandi, dan segera
melaksanakan shalat shubuh yang sudah telat jauh dari jadwalnya.
“dunia
adalah permainan, dunia adalah sebuah kesombongan, dan dunia adalah
kemunafikan.”
Setelah kelar shalat shubuh. Hari ini adalah hari yang sangat
sibuk. Bagaimana tidak, semalam sebelum tidur. Dan semalam sebelum sebelumnya
tidur. Aku disibukkan dengan uang 65rb yang harus kuserahkan ke seseorang
sebagai balas jasa. Namun kucari-cari sosok orang yang bernama Saipul, tak
kunjung aku menemukannya. Tak pusing-pusing, akhirnya kuberanikan diriku untuk
sms Guz Amik. (Panggilan Gus, di kalangan pondok pesantren ditujukan untuk anak
laki-laki seorang kyai. Kalau perempuan biasanya menggunakan panggilan Ning)
menanyakan keberadaan kang Saipul sekarang.
Guz, ngapuntene
sak niki kang Saipul wonten pundi? Guz, maaf sekarang kang Saipul di mana? “
Tanyaku lewat sms.”
Balasan dari Guz
Amik yang kutunggu-tunggu pun tak kunjung datang. Hanya sms dari beberapa teman
saja yang ada di inbox phonecell ku.
Sembari menunggu
balasan, aku sengaja menunggunya di sebuah warung kopi pinggir jalan yang
biasanya Guz Amik, dan para Guz-guz yang lain sering menikmati kopi di sana.
Menunggu, beberapa
menit ditemani rokok yang hampir mengenai putung. Sudah kuputuskan untuk
membuang rokok itu dan kembali ke kamar yang tidak terlalu nyaman agaknya.
Kembali meneruskan apa yang aku lakukan sebelumnya. Membuka laptop dan sedikit
bersenang-senang dengan dunia maya. Dunia maya sebagai warung kopi kedua.
Beberapa saat
kemudian, dalam keasyikan berchating ria. Mobile phone yang berada di samping
laptop bergetar, diiringi bunyi Beep. Ada sms masuk, tidak sedemikian kuihat
dan kubaca sms itu. Selang beberapa chat berlangsung baru, ku buka sms itu. Dan
ternyata sms itu dari Guz Amik. Isi dari sms itu hanya sebuah nomor phone cell.
Tanpa aku bertanya, aku sudah menduganya kalau nomor ini adalah nomor yang
digunakan kang Saipul.
Tak mengucapkan
terima kasih atau sekedar membalas sms dari Guz Amik. Segeralah ku sms kang
Saipul.
Kang, jenengan
wonten pundi? Kang, sekarang jenengan di mana? “Isi smsku untuk kang
Saipul.”
Selang beberapa
saat, balasan dari kang Saipul juga muncul.
Di rumah, ada
apa? “ jawab kang Saipul.”
Batinku dalam
hati, ‘wha… gaul banget padahal aku sms sengaja pake bahasa krama. Eh..eh..ehh
balasannya pake bahasa Indonesia. Ah tak masalah, penting dibalas.
Niki kang, arta
toyane pripun? Ini kang, uang airnya gimana? “balasku sambil bermain
laptop.”
Ya benar, sore
sebelumnya depot air minum yang aku kelola memang sudah berangganan dengan kang
Saipul. Kang Saipul yang keseharianya menjajakan air yang dia ambil dari
pegunungan dekat sini saja. Namun kandungan mineral dalam airnya sudah memenuhi
standar konsumsi dan bahkan sangat baik.
Awakmu moro
omahku, tak enteni nang ngarep omah! Kamu ke rumah saya, nanti saya tunggu
di depan rumah. “balasan sms terakhir kang saipul.”
Lha griyane
jenengan pundi kang? Lha rumahnya kang saipul mana? “tanyaku.”
Setelah sms
terakhir dariku, balasan dari kang Saipul tidak kunjung datang sampai akhirnya
kubisikkan dalam hati. “ala sesok lak wis tak wenehno duwite”.
Setelah beberapa
sms yang terjadi antara aku dan akang Saipul. Dan dengan keputusan akhir yang
akan membebaniku pagi esok. Kupejamkan mata yang sudah mulai kantuk sejak tadi
sore.
Niat dalam hati
ingin memejamkan mata, namun entah kenapa mata ini seakan menolak untuk
dipejamkan. Akhirnya daripada mendzalimi mata sendiri, bergegaslah aku dan
melakukan sesuatu yang sedikit tidak berguna. Namun ketika hendak melakukan hal
yang tidak berguna tadi, ada pesan masuk. Kulihat hp yang dari tadi terdiam,
ternyata dari teman yang biasanya bersama ku. Pesan masuk yang sempat terbaca
sekilas itu intinya ingin mengajakku medang. Namun tak kuiyakan ajakan
temanku itu, dan malam itu sudah kuputuskan untuk segera mengakhiri malam ini,
megakhiri dengan harapan semoga yang telah aku lakukan hari ini bisa bermanfaat
bagi orang lain. Dan jikalau hari ini belum begitu bermanfaat, besuk masih ada
waktu kalau memang masih diberi kesempatan menikmati umur sehari.
Terpejamlah mata,
dan ditutup dengan sebuah pesan singkat lagi. Dari seorang kekasih, yang saat
ini memang sedang mengisi kekosongan hati kecil ini. []masupik
0 komentar:
Posting Komentar
Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))