Tulisan #4

Written By Hakim on 25/03/13 | 15.39

Tak ada sedikitpun rasa kecewa, malu, atau sebagainya yang menggambarkan keduanya. Hanya sebuah usaha untuk mencari pasangan hidup yang sepertinya, sudah sedikit kuperlukan dalam hidupku, kayaknya.
            Selamat pagi, kata itu yang seharusnya kuucapkan ketika mata ini menengadahkan bulu-bulu mungil yang tertata rapi sebagai pelindung dan juga keindahan mata. Namun berbeda dari biasanya, pagi ini kebiasaan burukku kembali keluar dari jeruji.
Pagi ini, ketika terbangun dengan teriakan seorang wanita yang sengaja memanggilku. Memanggilku untuk membangunkan yang lainnya. Berharap pagi itu jama’ah shalat shubuh bisa terlaksanakan seperti biasanya. Namun kantuk yang kuderita hari ini melebihi hari-hari sebelumnya. Sehingga, panggilan dini hari itu hanya aku jawab dengan menyalakan lampu kamar yang ketika kupakai tidur semua lampu mati.
Kunyalakan saja lampunya, biar dianggap sudah bangun. “kataku dalam hati namun belum membuka mata.”
Setelah semua lampu kamar sudah terang benderang. Kembali kubaringkan tubuh seberat 60 kg kotor pada kasur lantai yang sudah sedikit banyak rusak karena putung-putung rokok yang masih sedikit mengeluarkan api. Sehingga semua permukaan kasur lantai itu, bak rumah lebah madu yang gepeng.
Jlek…. Tanpa sadar, mataku langsung terbuka. Dan langsung terlihat langit yang ketika itu masih petang kini sudah tergerus akan kehadiran sang surya. Segeralah ku pegang mobile phone yang sengaja aku letakkan di sampingku. Tak menyangka, ternyata sudah pukul 05.38 WIB. Dan mataku melihat tulisan di layar mobile phone jadul milikku. ‘1 new message’. Ada sms ternyata, dan aku sudah tahu itu sms dari siapa. Kubuka layar phonecell yang masih terkunci. Dan kubaca short message service itu.
Setelah kubaca sms darinya. Kukirimkan beberapa sms balasan. Dan setelah itu, kamar mandi adalah tujuanku. Untuk segera mandi, dan segera melaksanakan shalat shubuh yang sudah telat jauh dari jadwalnya.
“dunia adalah permainan, dunia adalah sebuah kesombongan, dan dunia adalah kemunafikan.”
            Setelah kelar shalat shubuh. Hari ini adalah hari yang sangat sibuk. Bagaimana tidak, semalam sebelum tidur. Dan semalam sebelum sebelumnya tidur. Aku disibukkan dengan uang 65rb yang harus kuserahkan ke seseorang sebagai balas jasa. Namun kucari-cari sosok orang yang bernama Saipul, tak kunjung aku menemukannya. Tak pusing-pusing, akhirnya kuberanikan diriku untuk sms Guz Amik. (Panggilan Gus, di kalangan pondok pesantren ditujukan untuk anak laki-laki seorang kyai. Kalau perempuan biasanya menggunakan panggilan Ning) menanyakan keberadaan kang Saipul sekarang.
            Guz, ngapuntene sak niki kang Saipul wonten pundi? Guz, maaf sekarang kang Saipul di mana? “ Tanyaku lewat sms.”
            Balasan dari Guz Amik yang kutunggu-tunggu pun tak kunjung datang. Hanya sms dari beberapa teman saja yang ada di inbox phonecell ku.
            Sembari menunggu balasan, aku sengaja menunggunya di sebuah warung kopi pinggir jalan yang biasanya Guz Amik, dan para Guz-guz yang lain sering menikmati kopi di sana.
            Menunggu, beberapa menit ditemani rokok yang hampir mengenai putung. Sudah kuputuskan untuk membuang rokok itu dan kembali ke kamar yang tidak terlalu nyaman agaknya. Kembali meneruskan apa yang aku lakukan sebelumnya. Membuka laptop dan sedikit bersenang-senang dengan dunia maya. Dunia maya sebagai warung kopi kedua.
            Beberapa saat kemudian, dalam keasyikan berchating ria. Mobile phone yang berada di samping laptop bergetar, diiringi bunyi Beep. Ada sms masuk, tidak sedemikian kuihat dan kubaca sms itu. Selang beberapa chat berlangsung baru, ku buka sms itu. Dan ternyata sms itu dari Guz Amik. Isi dari sms itu hanya sebuah nomor phone cell. Tanpa aku bertanya, aku sudah menduganya kalau nomor ini adalah nomor yang digunakan kang Saipul.
            Tak mengucapkan terima kasih atau sekedar membalas sms dari Guz Amik. Segeralah ku sms kang Saipul.
            Kang, jenengan wonten pundi? Kang, sekarang jenengan di mana? “Isi smsku untuk kang Saipul.”
            Selang beberapa saat, balasan dari kang Saipul juga muncul.
            Di rumah, ada apa? “ jawab kang Saipul.”
            Batinku dalam hati, ‘wha… gaul banget padahal aku sms sengaja pake bahasa krama. Eh..eh..ehh balasannya pake bahasa Indonesia. Ah tak masalah, penting dibalas.
            Niki kang, arta toyane pripun? Ini kang, uang airnya gimana? “balasku sambil bermain laptop.”
            Ya benar, sore sebelumnya depot air minum yang aku kelola memang sudah berangganan dengan kang Saipul. Kang Saipul yang keseharianya menjajakan air yang dia ambil dari pegunungan dekat sini saja. Namun kandungan mineral dalam airnya sudah memenuhi standar konsumsi dan bahkan sangat baik.
            Awakmu moro omahku, tak enteni nang ngarep omah! Kamu ke rumah saya, nanti saya tunggu di depan rumah. “balasan sms terakhir kang saipul.”
            Lha griyane jenengan pundi kang? Lha rumahnya kang saipul mana? “tanyaku.”
            Setelah sms terakhir dariku, balasan dari kang Saipul tidak kunjung datang sampai akhirnya kubisikkan dalam hati. “ala sesok lak wis tak wenehno duwite”.
            Setelah beberapa sms yang terjadi antara aku dan akang Saipul. Dan dengan keputusan akhir yang akan membebaniku pagi esok. Kupejamkan mata yang sudah mulai kantuk sejak tadi sore.
            Niat dalam hati ingin memejamkan mata, namun entah kenapa mata ini seakan menolak untuk dipejamkan. Akhirnya daripada mendzalimi mata sendiri, bergegaslah aku dan melakukan sesuatu yang sedikit tidak berguna. Namun ketika hendak melakukan hal yang tidak berguna tadi, ada pesan masuk. Kulihat hp yang dari tadi terdiam, ternyata dari teman yang biasanya bersama ku. Pesan masuk yang sempat terbaca sekilas itu intinya ingin mengajakku medang. Namun tak kuiyakan ajakan temanku itu, dan malam itu sudah kuputuskan untuk segera mengakhiri malam ini, megakhiri dengan harapan semoga yang telah aku lakukan hari ini bisa bermanfaat bagi orang lain. Dan jikalau hari ini belum begitu bermanfaat, besuk masih ada waktu kalau memang masih diberi kesempatan menikmati umur sehari.
            Terpejamlah mata, dan ditutup dengan sebuah pesan singkat lagi. Dari seorang kekasih, yang saat ini memang sedang mengisi kekosongan hati kecil ini. []masupik
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger