Home » , , , » Tulisan #3

Tulisan #3

Written By Hakim on 16/03/13 | 05.49

Dalam kesendirian yang setiap paginya menghantui. Menghantui bukan untuk menakutiku, menghantui hanya sebagai pelengkap dalam hidup yang sudah terasa semakin tua. Semakin tua dengan bertambahnya detik, menit, jam, hari,bulan, tahun, windu, dekade, dan abad. Itu hanya sedikit dari dimensi waktu yang dikenal manusia khususnya aku.
Ahmad Luthfil Hakim, nama pemberian dari kedua orang tua yang sangat baik adanya. Nama yang  diberikan kurang lebih 19 bahkan hampir 20 tahun yang lalu besuk Agustus.
Sekarang aku duduk di sebuah kursi empuk berbantalkan busa yang setiap harinya kursi ini diduduki oleh seorang perempuan yang kebetulan saja menjabat jabatan yang lebih tinggi dari jabatanku sekarang ini. Jabatan hasil dari nepotisme. Mungkin kursi yang sekarang aku duduki ini, jikalau bisa ngomel, dia akan bilang begini. ‘Wah… setiap hari aku selalu menopang beban berat, seberat karung semen. Tapi sekarang cuman seberat sapu lidi yang dilepaskan ikatannya dan dipatahkan lidi tersebut sepanjang 5 Cm kotor.’ Mungkin itu yang akan dikatakan oleh kursi yang sekarang aku duduki untuk menulis yang sedang kalian baca ini.
Dulu, dulu sekali kira-kira tidak ada seminggu yang lalu. Aku pernah berkata pada jiwa yang sudah seharusnya lepas dari jeruji pengekangan yang sudah terjadi selama umurku sekarang. Bebas melakukan semuanya semaunya sendiri. Hanya ada satu aturan. Aturan yang dibuat olehNya, tak lebih. Menempatkan apa yang seharusnya pada tempatnya, tidak melebih-lebihkan bahkan tak mengurangi sedikitpun kadarnya. Itu yang sebenarnya aku inginkan sebagai manusia normal. Tanpa ada embel-embel santri, tanpa ada embel-embel tua, tanpa embel-embel sebagai tenaga yang bekerja di lembaga pendidikan. Sederhana kan? Sederhana sekali untuk hitungan orang yang kesehariannya berkecimpung dengan otak, otot, dan otot dan otak.
O iya… bahkan aku sekarang sudah lupa siapa sebenarnya diriku sekarang. Lupa bukan karena kesibukan yang aku jalani sehari-hari. Tapi lupa karena, sudah terlalu mengeraknya otak yang dungu ini. Dan sudah terlalu tumpul mata hati ini. Dan sudah terlalu lama terpejamnya hati nurani.
Yang kukerjakan sehari-hari itu tidak lain dan tidak salah itu hanya mencemooh, menggunjing, mencela apapun yang aku lihat lewat sepasang mata. Ah bukan, kata siapa sepasang mata, aku hanya melihat dengan menutup salah satu mata. Dan ketika aku menutup mata yang baik, maka semuanya adalah buruk. Begitu sebaliknya. Itu kerjaanku.
Dan sekarang yang aku kerjakan hanya mengutarakan semuanya yang ada di otak yang kapasitanya sudah limited. Terlalu banyak menyimpan apa yang seharusnya tidak tersimpan di otak. Ah, tak usahlah aku sebutkan. Itu akan membuat semakin panjang tulisan ini.
Hanya itu yang bisa aku lakukan, tak lebih. Sebagai manusia biasa, inilah aku Ahmad Luthfil Hakim. Pria kelahiran Tuban, 19 tahun yang silam. Lahir lewat rahim seorang wanita yang dengan bertaruh dengan nyaanya sendiri telah melahirkan seorang pendosa. Think Again. []masupik.
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger