Ahmad Luthfil Hakim, nama
pemberian dari kedua orang tua yang sangat baik adanya. Nama yang diberikan kurang lebih 19 bahkan hampir 20
tahun yang lalu besuk Agustus.
Sekarang aku duduk di sebuah
kursi empuk berbantalkan busa yang setiap harinya kursi ini diduduki oleh
seorang perempuan yang kebetulan saja menjabat jabatan yang lebih tinggi dari
jabatanku sekarang ini. Jabatan hasil dari nepotisme. Mungkin kursi yang
sekarang aku duduki ini, jikalau bisa ngomel,
dia akan bilang begini. ‘Wah… setiap hari aku selalu menopang beban berat,
seberat karung semen. Tapi sekarang cuman seberat sapu lidi yang dilepaskan
ikatannya dan dipatahkan lidi tersebut sepanjang 5 Cm kotor.’ Mungkin itu yang
akan dikatakan oleh kursi yang sekarang aku duduki untuk menulis yang sedang
kalian baca ini.
Dulu, dulu sekali kira-kira tidak
ada seminggu yang lalu. Aku pernah berkata pada jiwa yang sudah seharusnya
lepas dari jeruji pengekangan yang sudah terjadi selama umurku sekarang. Bebas
melakukan semuanya semaunya sendiri. Hanya ada satu aturan. Aturan yang dibuat
olehNya, tak lebih. Menempatkan apa yang seharusnya pada tempatnya, tidak
melebih-lebihkan bahkan tak mengurangi sedikitpun kadarnya. Itu yang sebenarnya
aku inginkan sebagai manusia normal. Tanpa ada embel-embel santri, tanpa ada
embel-embel tua, tanpa embel-embel sebagai tenaga yang bekerja di lembaga
pendidikan. Sederhana kan? Sederhana sekali untuk hitungan orang yang
kesehariannya berkecimpung dengan otak, otot, dan otot dan otak.
O iya… bahkan aku sekarang sudah
lupa siapa sebenarnya diriku sekarang. Lupa bukan karena kesibukan yang aku
jalani sehari-hari. Tapi lupa karena, sudah terlalu mengeraknya otak yang dungu
ini. Dan sudah terlalu tumpul mata hati ini. Dan sudah terlalu lama terpejamnya
hati nurani.
Yang kukerjakan sehari-hari itu
tidak lain dan tidak salah itu hanya mencemooh, menggunjing, mencela apapun
yang aku lihat lewat sepasang mata. Ah bukan, kata siapa sepasang mata, aku
hanya melihat dengan menutup salah satu mata. Dan ketika aku menutup mata yang
baik, maka semuanya adalah buruk. Begitu sebaliknya. Itu kerjaanku.
Dan sekarang yang aku kerjakan
hanya mengutarakan semuanya yang ada di otak yang kapasitanya sudah limited.
Terlalu banyak menyimpan apa yang seharusnya tidak tersimpan di otak. Ah, tak
usahlah aku sebutkan. Itu akan membuat semakin panjang tulisan ini.
Hanya itu yang bisa aku lakukan,
tak lebih. Sebagai manusia biasa, inilah aku Ahmad Luthfil Hakim. Pria
kelahiran Tuban, 19 tahun yang silam. Lahir lewat rahim seorang wanita yang
dengan bertaruh dengan nyaanya sendiri telah melahirkan seorang pendosa. Think
Again. []masupik.
0 komentar:
Posting Komentar
Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))