Terbukalah mata yang sejak dari
malam terpejam, sengaja untuk istirahat. Pagi ini, suasana basah menghampiri
komplek pondok pesantren yang aku diami, untuk mengais ilmu.
Seperti biasanya sebelum tidur, hp
yang setiap harinya menemaniku kemana saja. Sengaja aku pasang alarm, sehingga
aku bisa bangun agak pagi. Dan cara itu ternyata manjur juga. Mungkin kalian
tahu, hari-hariku sebelumnya. Tepatnya ketika 2013 masih berumur di Januari.
Setiap pagi, pukul 06.00 bahkan lebih, pastilah mata ini baru dan akan
terbangun dari mimpi indah. Namun semenjak, kejadian sore itu. Hatiku seakan
tergugah, jiwaku seakan telah me-mindset semua anggota tubuh ini. Mulai
dari otak, mata, badan, dan kaki. Semua dirancang ulang sehingga, ketika
mendengar alarm bisa terbangun, tanpa harus kena semprotan air. Dan semenjak
itu, alhamdulillah aku bisa bangun pagi dan bisa melaksanakan kewajibanku di
pagi hari dengan bersama-sama (baca: jama’ah).
Namun, sebagai manusia normal. Kadar
iman dalam diri juga mengalami fluktuatif seperti diagram pertumbuhan
penduduk. Entah kenapa pagi hari ini, teman sekamarku yang biasanya bangun pagi
dan biasanya juga mengumandangkan adzan shubuh. Hari ini, tampak lain. Hari ini
tiada adzan shubuh yang bergeming di area pondok pesantren. Hari ini, terdengar
lagi suara wanita. Wanita yang menjadi istri dari seorang anak kyai (baca:
gus). “Hakim… Hakim…” itu yang terdengar oleh telinga yang alhamdulillah masih
normal. Dan secara cepat, aku langsung membalas panggilan itu. “dalem”. Kemudian
dilanjutkan lagi dengan sebuah perintah, ”tangi… tangi..”. dan secara
tidak sadar pula aku menjawab suara itu. “nggieh ma..” dan suara wanita
itu hilang.
Bebarengan dengan hilangnya suara
wanita di pagi hari. Terbangunlah aku, dan sekuat mungkin kuberdirikan tubuh
seberat 60 Kg kotor ini. Segera mengganti pakaian yang kukenakan selama tidur,
dengan pakaian yang khusus aku kenakan untuk mengadapkan wajah kepadaNya.
Seusai memakai baju, dan mengambil
air wudhu dari sebuah pipa air yang terletak di depan kamarku. Segeralah aku
menuju musholah yang terletak di salah satu sudut PP. dalam perjalanan menuju
musholah, terlihat semua santri masih asyik merangkai mimpi mereka dengan gay
tidur yang beraneka ragam.
Biasanya memang aku yang
membangunkan mereka, jikalau sang kyai sedang berpergian jauh selama beberapa
hari. Itupun harus dengan emosi, kalaupun tidak menggunakan sedikit emosi.
Niscaya tidak akan terbuka mata mereka meskipun aku menyemprotkan air panas 100
derajat celcius ke wajahnya.
Namun, hari ini karena sang kyai
berada di ndalem. Jadinya aku langsung
menuju ke musholah dan melantunkan pujian-pujian yang biasa dilantunkan setiap
shubuh. Yang membedakan hanya jumlah pembacaannya. Biasanya kalau teman sekamarku
yang melantunkannya, biasanya sebanyak 33 kali. Namun aku hanya 15 kali. Bukan
karena malas dengan banyaknya pengulangan. Tapi aku juga mempertimbangkan waktu
kala itu. Ketika aku tepat sampai di musholah, jam dinding yang sudah
kehilangan jarum penunjuk detik itu menunjukan pukul 05.10. coba bayangkan
saja, kalau pujian itu aku baca sebanyak 33 kali, shalat shubuh akan terlaksana
jam berapa?
Setelah rangkaian shalat, wiridan
shubuh. Seperti biasanya, semua santri kembali ke kamar masing-masing. Ada yang
tetap di musholah untuk berdo’a atau hanya sekedar meluruskan punggungnya.
Namun aku biasanya langsung kembali ke kamar yang jaraknya paling jauh dari
kamar-kamar lain. Meskipun di dalam kamar, aku tak melakukan pekerjaan apapun.
Paling-paling kalau kondisinya mepet baru aku sempatkan untuk menyetrika baju
yang akan kupergunakan untuk bekerja pukul 7 nanti. Itupun kalau rasa malas
sedikit menghilang.
Sebenarnya hari ini, aku
mengusahakan agar bisa tidak masuk kerja. Ya, alasannya hanya malas. Tak ada
alasan lagi, paling-paling alasan yang sering aku gunakan pura-pura sakit. Aku
sendiri, tidak bisa menilai diriku sendiri, apakah yang sekarang aku rasakan
ini sebuah kesakitan atau hanya rekaanku saja. Atau memang benar-benar sakit?
Sampai sekarang aku tak tahu jawabannya.
Namun, aku harus bersyukur dengans
semua kondisi yang sekarang aku rasakan. Aku sehat, aku bisa melakukan banyak
hal. Meskipun kadang hal itu ujung-ujungnya maksiat. Tetap aku syukuri, aku
bisa melakukan maksiat, bisa merasakan nikmatnya jadi nakal. Namun sekali lagi,
aku mencoba untuk menjadi baik. Bukan menjadi lebih baik. Karena apa? Karena
kalau aku berusaha menjadi lebih baik, itu berarti kondisiku yang sekarang ini
sudah baik, dan menginginkan untuk meningkatkan tingkat kebaikanku. Tapi aku
hanya ingin menjadi baik. Baik, berati sekarang kondisi diriku pada kondisi
yang buruk dan aku berusaha untuk menjadi baik. Untuk menghilangkan
keburukanku. Semoga itu bisa terlaksana, dan semoga umur yang sudah mulai menua
ini bisa berkompromi. Amin. [] masupik.
0 komentar:
Posting Komentar
Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))