Tulisan # 5

Written By Hakim on 27/03/13 | 22.34



            Terbukalah mata yang sejak dari malam terpejam, sengaja untuk istirahat. Pagi ini, suasana basah menghampiri komplek pondok pesantren yang aku diami, untuk mengais ilmu.
            Seperti biasanya sebelum tidur, hp yang setiap harinya menemaniku kemana saja. Sengaja aku pasang alarm, sehingga aku bisa bangun agak pagi. Dan cara itu ternyata manjur juga. Mungkin kalian tahu, hari-hariku sebelumnya. Tepatnya ketika 2013 masih berumur di Januari. Setiap pagi, pukul 06.00 bahkan lebih, pastilah mata ini baru dan akan terbangun dari mimpi indah. Namun semenjak, kejadian sore itu. Hatiku seakan tergugah, jiwaku seakan telah me-mindset semua anggota tubuh ini. Mulai dari otak, mata, badan, dan kaki. Semua dirancang ulang sehingga, ketika mendengar alarm bisa terbangun, tanpa harus kena semprotan air. Dan semenjak itu, alhamdulillah aku bisa bangun pagi dan bisa melaksanakan kewajibanku di pagi hari dengan bersama-sama (baca: jama’ah).
            Namun, sebagai manusia normal. Kadar iman dalam diri juga mengalami fluktuatif seperti diagram pertumbuhan penduduk. Entah kenapa pagi hari ini, teman sekamarku yang biasanya bangun pagi dan biasanya juga mengumandangkan adzan shubuh. Hari ini, tampak lain. Hari ini tiada adzan shubuh yang bergeming di area pondok pesantren. Hari ini, terdengar lagi suara wanita. Wanita yang menjadi istri dari seorang anak kyai (baca: gus). “Hakim… Hakim…” itu yang terdengar oleh telinga yang alhamdulillah masih normal. Dan secara cepat, aku langsung membalas panggilan itu. “dalem”. Kemudian dilanjutkan lagi dengan sebuah perintah, ”tangi… tangi..”. dan secara tidak sadar pula aku menjawab suara itu. “nggieh ma..” dan suara wanita itu hilang.
            Bebarengan dengan hilangnya suara wanita di pagi hari. Terbangunlah aku, dan sekuat mungkin kuberdirikan tubuh seberat 60 Kg kotor ini. Segera mengganti pakaian yang kukenakan selama tidur, dengan pakaian yang khusus aku kenakan untuk mengadapkan wajah kepadaNya.
            Seusai memakai baju, dan mengambil air wudhu dari sebuah pipa air yang terletak di depan kamarku. Segeralah aku menuju musholah yang terletak di salah satu sudut PP. dalam perjalanan menuju musholah, terlihat semua santri masih asyik merangkai mimpi mereka dengan gay tidur yang beraneka ragam.
            Biasanya memang aku yang membangunkan mereka, jikalau sang kyai sedang berpergian jauh selama beberapa hari. Itupun harus dengan emosi, kalaupun tidak menggunakan sedikit emosi. Niscaya tidak akan terbuka mata mereka meskipun aku menyemprotkan air panas 100 derajat celcius ke wajahnya.
            Namun, hari ini karena sang kyai berada di ndalem. Jadinya aku  langsung menuju ke musholah dan melantunkan pujian-pujian yang biasa dilantunkan setiap shubuh. Yang membedakan hanya jumlah pembacaannya. Biasanya kalau teman sekamarku yang melantunkannya, biasanya sebanyak 33 kali. Namun aku hanya 15 kali. Bukan karena malas dengan banyaknya pengulangan. Tapi aku juga mempertimbangkan waktu kala itu. Ketika aku tepat sampai di musholah, jam dinding yang sudah kehilangan jarum penunjuk detik itu menunjukan pukul 05.10. coba bayangkan saja, kalau pujian itu aku baca sebanyak 33 kali, shalat shubuh akan terlaksana jam berapa?
            Setelah rangkaian shalat, wiridan shubuh. Seperti biasanya, semua santri kembali ke kamar masing-masing. Ada yang tetap di musholah untuk berdo’a atau hanya sekedar meluruskan punggungnya. Namun aku biasanya langsung kembali ke kamar yang jaraknya paling jauh dari kamar-kamar lain. Meskipun di dalam kamar, aku tak melakukan pekerjaan apapun. Paling-paling kalau kondisinya mepet baru aku sempatkan untuk menyetrika baju yang akan kupergunakan untuk bekerja pukul 7 nanti. Itupun kalau rasa malas sedikit menghilang.
            Sebenarnya hari ini, aku mengusahakan agar bisa tidak masuk kerja. Ya, alasannya hanya malas. Tak ada alasan lagi, paling-paling alasan yang sering aku gunakan pura-pura sakit. Aku sendiri, tidak bisa menilai diriku sendiri, apakah yang sekarang aku rasakan ini sebuah kesakitan atau hanya rekaanku saja. Atau memang benar-benar sakit? Sampai sekarang aku tak tahu jawabannya.
            Namun, aku harus bersyukur dengans semua kondisi yang sekarang aku rasakan. Aku sehat, aku bisa melakukan banyak hal. Meskipun kadang hal itu ujung-ujungnya maksiat. Tetap aku syukuri, aku bisa melakukan maksiat, bisa merasakan nikmatnya jadi nakal. Namun sekali lagi, aku mencoba untuk menjadi baik. Bukan menjadi lebih baik. Karena apa? Karena kalau aku berusaha menjadi lebih baik, itu berarti kondisiku yang sekarang ini sudah baik, dan menginginkan untuk meningkatkan tingkat kebaikanku. Tapi aku hanya ingin menjadi baik. Baik, berati sekarang kondisi diriku pada kondisi yang buruk dan aku berusaha untuk menjadi baik. Untuk menghilangkan keburukanku. Semoga itu bisa terlaksana, dan semoga umur yang sudah mulai menua ini bisa berkompromi. Amin. [] masupik.
           
Share this article :

0 komentar:

Posting Komentar

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger