Menjalani kerja sebagai seorang
yang dipandang orang lain sebelah mata, tak membuatku menutup mata tak mau tahu
akan hal itu. Prinsip yang kujalani, memang prisnsip yang sangat sulit diterima
oleh khalayak umum bahkan diriku sendiripun kadang terlintas untuk tidak bisa
menerimanya. ‘Yang penting yang kujalani sesuai prosedur. Kalau prosedurnya
begini ya aku jalani begini, kalau prosedurnya begitu ya aku jalani begitu’.
Terlihat sangat egois bukan? Tapi itulah yang aku jalani sekarang. Jikalau
tidak seperti itu aku juga yang tidak akan menerima gaji. Kita kerja, anda
kerja dan semuanya bekerja sesuai pekerjaan masing-masing. Dan inilah
pekerjaanku yang menuntut keegoisanku bukan perasaan.
Hari ini, tak sengaja pekerjaanku
menuntun aku ke tempat kalian berbelanja. Bukan mall, supermarket, ataupun
minimarket yang sekarang memiliki label macam-macam. Namun pasar tradisional
dan sekaligus pasar induk yang ada di kota santri Lasem namanya. Kota tua yang
berada sebelum Rembang ini memiliki banyak sekali pondok pesantren (ponpes).
Ponpes di Lasem, kalau dihitung dengan hitungan jari, masih bisa mencukupi 10
jari yang ada di tangan kita dan 10 jari yang ada di kaki. Pasar ini terletak
tepat dan memang berdempetan dengan terminal Lasem. Terminal using yang
fungsinya sudah tidak 100%. Hanya bus-bus kecil yang sering berkeliaran di
terminal itu. Bus-bus besar, mereka hanya memarkirkan dirinya setelah
perjalanan jauh, kayaknya.
Kala itu, aku sedang menaiki
sepeda motor smash warna biru yang
rodanya sudah gundul termakan halusnya aspal pemerintah. Ketika pertama kali
roda depan smash menapak di pelataran pasar, tercium semerbak wewangian khas
pasar. Wewangian dengan seribu bunga bangkai berserakan sepanjang jalan 500
meter kotor itu. Memarkirkan sepeda motor, meletakan helm di spion sebelah
kanan sudah menjadi kebiasaan bagiku. Helm warna hitam dengan merk sebuah
perusahaan motor yang ternama asal negeri yang pernah hancur total oleh bom
atom Amerika. Telah menemaniku sepanjang ribuan kilometer selama berkendara.
Meskipun sejatinya helm itu bukan kepunyaan pribadi dari uang saku sendiri.
Namun sang pemilik helm sudah merelakan helmnya untuk kupergunakan.
Memasuki ruang gelap. Bergemuruh,
dan berdaya tarik minus dalam pasar. Bukan berarti aku menutup mata dan
telinga. Sembari menyusuri jalan becek, becek bukan karena bekas guyuran hujan.
Becek karena lalu-lalang orang di pasar dan bawaan mereka. Jajanan, buah,
sandal, kompor, pacul, pakaian, sampai-sampai rambut kemaluanpun tak
terbantahkan juga ada di sana. Waktu aku melintas di tengah senggangnya pasar
kala itu, ada celotehan kecil dari setiap penjual buah yang berjejer rapi
mengalahkan kerapian baris-berbaris seorang pensiunan militer.
“Mbak, manggis, jeruk, apel.”
Suara salah satu pedagang wanita yang sedang menjajakan jualannya.
“Buk, manggis, jeruk, apel.”
Masih suara pedagang wanita yang sama, namun kali ini seorang ibuk berbadan
besar yang sedang dia tawari.
Si ibuk berbadan besar inipun
tertarik dengan jualan pedagang wanita ini. Berhentilah si ibuk berbadan besar
ini, untuk melihat sekaligus memilah buah-buahan yang ditawarkan kepadanya.
“Buk, ini manggisnya berapa
harganya?” Sebuah percakapan formal yang sedang terjadi diantara dua kaum hawa
itu terdengar sampai ke telingaku. Sayangnya percakapan setelahnya aku tidak
bisa mendengarkan, karena memang sudah saatnya aku untuk keluar dari kerumunan
orang-orang di pasar.
Menuju pintu keluar yang jaraknya
tidak terlalu jauh dari tempat tawar-menawar kedua kaum hawa tadi. Aku sudah di
sambut dengan seorang ibu tua yang menjajalan buah kesukaanku. Benar sekali,
buah itu masyarakat menjulukinya dengan nama duren (dalam bahasa jawa)
dan durian (dalam bahasaIndonesianya). Menjajakan buah durian yang jumlahnya
tidak lebih dari jumlah jari tangan. Dan, beruntunglah karena pada waktu itu
sedang terjadi transaksi antara ibu tua itu dengan pembelinya yang tertarik
membeli jualannya. Sama seperti yang tadi, aku tidak bisa terlalu lama melihat
transaksi itu dengan jelas. Bergegaslah aku menuju motor yang hampir sekitar 15
menit yang lalu aku tunggangangi dan sekarang setelah mengoprek isi pasar telah
aku jalani. Sekarang harus aku nyalakan lagi mesin usang yang sudah tanggalnya
untuk diganti oli, roda, dan aki.
Tak harus menunggu lama untuk
bisa kembali menyalakan si biru tua yang tak pernah Berjaya pada masanya itu.
Segeralah aku memasukan gigi motor, dan menancapkan gas. Namun, entah mengapa
kejadian yang terjadi di pasar itu masih mengiang-ngiang di otakku. Sempat
terbesit seutas pemikiran untuk mengkritisi pemerintahan saat ini, sehubungan
dengan kejadian tadi.
“Apakah ini merupakan dampak dari
bobroknya pemerintahan? Ataukah memang beginilah roda kehidupan di luaran sana?
Atau juga inikah yang dinamakan keadilan Tuhan?” Semua tertulis dengan atau
tanpa sengaja di otak kecil ini. timbul satu pertanyaan lagi, lantas siapa yang
akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi? Pemerintahkah? Si pedagangkah? Atau
Tuhan yang sedang asyik duduk dengan santainya di Ars-Nya? Kalau pemerintah
yang harus menjawabnya, lantas apa yang akan dilakukan pemerintah melihat
keadaan itu? Memberikan subsidi? Membuat kembali kebijakan moneter? Atau hanya
memberikan jawaban atas pertanyaanku dan setelahnya duduk bengong di kursi di
mana dia sekarang menjabat? Dan andai saja, aku harus bertanya dengan si
pedagang. Apa yang akan di jawab oleh si pedagang yang memang kerjanya hanya
berdagang, dengan menggantungkan harapan tinggi semoga jualannya untuk hari ini
laku keras? Tuhan, andai saja jawaban itu ada pada Tuhanku. Kemana aku akan mengirim
draf pertanyaan yang aku tujukan untuk Tuhan? Kantor pos, itu adalah suatu
organisasi yang selama ini menerima dan mengantarkan surat kepada tujuan.
Pertanyaan demi pertanyaan
menghampiriku, saat aku mengemudikan tungganganku ini. segeralah aku tersadar,
bahwa ini adalah kehidupan. Keluhan mereka adalah apa yang ingin Tuhan
katakana, dan kebijakan mereka adalah apa yang ingin Tuhan dalilkan. Dan
pertanyaan-pertanyaanku adalah apa yang ingin Tuhan tunjukan kepada hambanya.
Think Again. []masupik
Ya, seperti itulah kehidupan yang diatur Tuhan. Dan kita berhak betanya-tanya atas itu. Think again, sangat baik untuk dilakukan dalam menemukan yang sejati atau hakikatnya. Tapi sayang, dunia akhir zaman seperti sekarang ini tak menyediakan peluang besar. Semua orang tenggelam dalam kesibukan, dan segelintir saja yang akan tergoda to think again layaknya Mas Upik....
BalasHapus