Home » , , , , , , , » Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan Kita

Tuhanku, Tuhanmu, dan Tuhan Kita

Written By Hakim on 15/02/13 | 17.36

Menjalani kerja sebagai seorang yang dipandang orang lain sebelah mata, tak membuatku menutup mata tak mau tahu akan hal itu. Prinsip yang kujalani, memang prisnsip yang sangat sulit diterima oleh khalayak umum bahkan diriku sendiripun kadang terlintas untuk tidak bisa menerimanya. ‘Yang penting yang kujalani sesuai prosedur. Kalau prosedurnya begini ya aku jalani begini, kalau prosedurnya begitu ya aku jalani begitu’. Terlihat sangat egois bukan? Tapi itulah yang aku jalani sekarang. Jikalau tidak seperti itu aku juga yang tidak akan menerima gaji. Kita kerja, anda kerja dan semuanya bekerja sesuai pekerjaan masing-masing. Dan inilah pekerjaanku yang menuntut keegoisanku bukan perasaan.

Hari ini, tak sengaja pekerjaanku menuntun aku ke tempat kalian berbelanja. Bukan mall, supermarket, ataupun minimarket yang sekarang memiliki label macam-macam. Namun pasar tradisional dan sekaligus pasar induk yang ada di kota santri Lasem namanya. Kota tua yang berada sebelum Rembang ini memiliki banyak sekali pondok pesantren (ponpes). Ponpes di Lasem, kalau dihitung dengan hitungan jari, masih bisa mencukupi 10 jari yang ada di tangan kita dan 10 jari yang ada di kaki. Pasar ini terletak tepat dan memang berdempetan dengan terminal Lasem. Terminal using yang fungsinya sudah tidak 100%. Hanya bus-bus kecil yang sering berkeliaran di terminal itu. Bus-bus besar, mereka hanya memarkirkan dirinya setelah perjalanan jauh, kayaknya.

Kala itu, aku sedang menaiki sepeda  motor smash warna biru yang rodanya sudah gundul termakan halusnya aspal pemerintah. Ketika pertama kali roda depan smash menapak di pelataran pasar, tercium semerbak wewangian khas pasar. Wewangian dengan seribu bunga bangkai berserakan sepanjang jalan 500 meter kotor itu. Memarkirkan sepeda motor, meletakan helm di spion sebelah kanan sudah menjadi kebiasaan bagiku. Helm warna hitam dengan merk sebuah perusahaan motor yang ternama asal negeri yang pernah hancur total oleh bom atom Amerika. Telah menemaniku sepanjang ribuan kilometer selama berkendara. Meskipun sejatinya helm itu bukan kepunyaan pribadi dari uang saku sendiri. Namun sang pemilik helm sudah merelakan helmnya untuk kupergunakan.

Memasuki ruang gelap. Bergemuruh, dan berdaya tarik minus dalam pasar. Bukan berarti aku menutup mata dan telinga. Sembari menyusuri jalan becek, becek bukan karena bekas guyuran hujan. Becek karena lalu-lalang orang di pasar dan bawaan mereka. Jajanan, buah, sandal, kompor, pacul, pakaian, sampai-sampai rambut kemaluanpun tak terbantahkan juga ada di sana. Waktu aku melintas di tengah senggangnya pasar kala itu, ada celotehan kecil dari setiap penjual buah yang berjejer rapi mengalahkan kerapian baris-berbaris seorang pensiunan militer. 

“Mbak, manggis, jeruk, apel.” Suara salah satu pedagang wanita yang sedang menjajakan jualannya.

“Buk, manggis, jeruk, apel.” Masih suara pedagang wanita yang sama, namun kali ini seorang ibuk berbadan besar yang sedang dia tawari.

Si ibuk berbadan besar inipun tertarik dengan jualan pedagang wanita ini. Berhentilah si ibuk berbadan besar ini, untuk melihat sekaligus memilah buah-buahan yang ditawarkan kepadanya.

“Buk, ini manggisnya berapa harganya?” Sebuah percakapan formal yang sedang terjadi diantara dua kaum hawa itu terdengar sampai ke telingaku. Sayangnya percakapan setelahnya aku tidak bisa mendengarkan, karena memang sudah saatnya aku untuk keluar dari kerumunan orang-orang di pasar.

Menuju pintu keluar yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tawar-menawar kedua kaum hawa tadi. Aku sudah di sambut dengan seorang ibu tua yang menjajalan buah kesukaanku. Benar sekali, buah itu masyarakat menjulukinya dengan nama duren (dalam bahasa jawa) dan durian (dalam bahasaIndonesianya). Menjajakan buah durian yang jumlahnya tidak lebih dari jumlah jari tangan. Dan, beruntunglah karena pada waktu itu sedang terjadi transaksi antara ibu tua itu dengan pembelinya yang tertarik membeli jualannya. Sama seperti yang tadi, aku tidak bisa terlalu lama melihat transaksi itu dengan jelas. Bergegaslah aku menuju motor yang hampir sekitar 15 menit yang lalu aku tunggangangi dan sekarang setelah mengoprek isi pasar telah aku jalani. Sekarang harus aku nyalakan lagi mesin usang yang sudah tanggalnya untuk diganti oli, roda, dan aki.

Tak harus menunggu lama untuk bisa kembali menyalakan si biru tua yang tak pernah Berjaya pada masanya itu. Segeralah aku memasukan gigi motor, dan menancapkan gas. Namun, entah mengapa kejadian yang terjadi di pasar itu masih mengiang-ngiang di otakku. Sempat terbesit seutas pemikiran untuk mengkritisi pemerintahan saat ini, sehubungan dengan kejadian tadi.

“Apakah ini merupakan dampak dari bobroknya pemerintahan? Ataukah memang beginilah roda kehidupan di luaran sana? Atau juga inikah yang dinamakan keadilan Tuhan?” Semua tertulis dengan atau tanpa sengaja di otak kecil ini. timbul satu pertanyaan lagi, lantas siapa yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi? Pemerintahkah? Si pedagangkah? Atau Tuhan yang sedang asyik duduk dengan santainya di Ars-Nya? Kalau pemerintah yang harus menjawabnya, lantas apa yang akan dilakukan pemerintah melihat keadaan itu? Memberikan subsidi? Membuat kembali kebijakan moneter? Atau hanya memberikan jawaban atas pertanyaanku dan setelahnya duduk bengong di kursi di mana dia sekarang menjabat? Dan andai saja, aku harus bertanya dengan si pedagang. Apa yang akan di jawab oleh si pedagang yang memang kerjanya hanya berdagang, dengan menggantungkan harapan tinggi semoga jualannya untuk hari ini laku keras? Tuhan, andai saja jawaban itu ada pada Tuhanku. Kemana aku akan mengirim draf pertanyaan yang aku tujukan untuk Tuhan? Kantor pos, itu adalah suatu organisasi yang selama ini menerima dan mengantarkan surat kepada tujuan. 

Pertanyaan demi pertanyaan menghampiriku, saat aku mengemudikan tungganganku ini. segeralah aku tersadar, bahwa ini adalah kehidupan. Keluhan mereka adalah apa yang ingin Tuhan katakana, dan kebijakan mereka adalah apa yang ingin Tuhan dalilkan. Dan pertanyaan-pertanyaanku adalah apa yang ingin Tuhan tunjukan kepada hambanya. Think Again. []masupik
Share this article :

1 komentar:

  1. Ya, seperti itulah kehidupan yang diatur Tuhan. Dan kita berhak betanya-tanya atas itu. Think again, sangat baik untuk dilakukan dalam menemukan yang sejati atau hakikatnya. Tapi sayang, dunia akhir zaman seperti sekarang ini tak menyediakan peluang besar. Semua orang tenggelam dalam kesibukan, dan segelintir saja yang akan tergoda to think again layaknya Mas Upik....

    BalasHapus

Pengunjung yang baik selalu meninggalkan komentar :))

.:: DAFTAR ISI ::.

Archives

Diberdayakan oleh Blogger.
 
Support : Your Link | Your Link | Your Link
Copyright © 2013. Catetan Masupik - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger